Selasa, 13 Agustus 2019

One Day Road to Singapore


Cerita ini merupakan kisah perjalanan terakhir kami, saat stay di kota kecil bernama, Batam.

Dini hari, 26 Juni 2017 tepatnya 2 syawal 1438H usai shalat subuh, kami berempat sudah wangi plus kece dengan sebuah tas ransel besar yang siap ditenteng. Isinya apa saja sih? cuma sepasang baju ganti anak-anak, kaos ayahnya buat jaga-jaga, tissue basah, paspor, minuman dan cemilan secukupnya.  Kok cuma itu? Karena kami rencananya tidak menginap hanya traveling seharian dan kembali di hari yang sama.

Masih lekat di ingatan, sejak malamnya duo kesayangan sudah berceloteh tak sabar menanti pergantian hari.  Yup, hari itu memang sudah sangat ditunggu-tunggu oleh mereka.  Meski bukan perjalanan pertama, masuk negara yang kami juluki negara 'singa muntah' itu selalu menjanjikan momen tak terlupakan.

Beberapa hari sebelumnya, saya sudah menyiapkan tiket ferry dan menukar rupiah dengan dolar Singapura dalam berbagai pecahan. Bekal 3 juta cukup di luar tiket ferry berempat? InsyaAllah cukup bahkan bisa sisa ... asal jangan kebanyakan jajan dan belanja.

Sekilas flash back, siapa sangka, impian dua bocah kesayangan yang terlontar ketika mengintip negara itu dari ketinggian menara masjid Jabal Arafah diijabah Allah, gak cuma sekali, tapi berkali-kali. MasyaAllah, jangan remehkan ucapan anak-anak, bisa jadi itu adalah sebentuk doa mereka.

Baca juga : 8-hal-yang-asyik-dilakukan-di-batam

10 menit berkendara dari rumah menuju Pelabuhan Batam Center, langsung diwarnai pemandangan antrian panjang mengular para pelancong yang ingin menghabiskan libur lebaran di tanah seberang.  Harap maklum, wisata ke Singapur di musim lebaran jauh lebih menjanjikan ketimbang pulang kampung dengan ongkos pesawat dan tuslah yang selangit.

Tanpa bermaksud mengecilkan momen silaturahimnya ketika kumpul keluarga di kampung halaman, hanya dengan membandingkan harga tiket pesawat di hari raya maka kebanyakan perantau memilih tidak pulang dan menghibur diri dengan cerita liburan singkat di Singapura atau Malaysia, meski tak jarang tanpa menginap.

Kala itu, saya yang biasanya pulang ke Jakarta atau ke Lampung bisa dikenai tiket pesawat sekitar 900K hingga 1,2 juta per kepala sekali terbang.  Bayangkan, ongkos para perantau untuk pulang ke kampung halaman di liburan idul fitri dikalikan jumlah keluarga.  Bisa-bisa ludes semua tabungan ... hiks!

Sementara, tarif penyeberangan kapal ferry Sin-Batam hanya dijual 30 Dolar Singapura (SGD) atau setara 300K untuk tiket PP! Update tiket terkini 2019, masih berkisar di angka 34 SGD atau sekitar 350K rupiah dengan asumsi 1 SGD = Rp10.000.

Klik juga :  Mejeng di Singa muntah, Merlion lebih murah ketimbang mudik lebaran

Oke, beberapa meter mendekati check point Batam Center, yang musti kita siapkan adalah tiket berangkat dan paspor.  Untuk masuk ke Singapura, Malaysia dsktnya, kita gak perlu visa melancong.  Perjalanan ditempuh kurang lebih satu jam membelah selat dengan view laut yang tentu saja cantik abis sepanjang perjalanan.

View Harbour Front (dari traveling di trip berbeda)


Tiba di Harbour Front, kita harus kembali mengantri untuk melintasi check point Singapura.  Kembali siapkan paspor untuk dicap petugas setempat sesuai tanggal dan waktu sebagai tanda diizinkan masuk ke negara itu.

Keluar Checkpoint bagi yang baru pertamakali tiba biasanya akan terkaget-kaget, karena ternyata pelabuhan itu terintegrasi dengan mal megah bernama Vivocity. Jadi, pelabuhan itu tepat berada di lantai dasar mal. Subway station ada di bawah tanah, sedangkan stasiun sky train menuju pulau sentosa berada di lantai 3.

Keluar Vivocity saya dan suami sepakat langsung menuju Sentosa Island, pulau yang letaknya hanya ratusan meter dari sana.  Kali ini kami sengaja menggunakan moda transportasi cable car alias kereta gantung, yang berada di gedung berbeda di belakang mal.  Bagi saya ini cara terkeren meski merogoh kocek sedikit lebih dalam untuk sampai ke pulau itu, yakni sekitar 28 SGD untuk dewasa dan 17 SGD bagi penumpang anak-anak. Agak songong dikit ya, gak papa deh.  Karena memang beberapa momen sebelumnya kami mengambil paket perjalanan dan hasilnya gak puas ... karena waktunya terlalu diatur dan gak bisa menentukan destinasi khusus yang ingin dituju.
Cable car sentosa island
Biasanya masuk Singapura dengan menggunakan paket tour and travel, gak bakalan dapet momen ini. Umumnya peserta tour kebagian jalan kaki, atau naik sky train untuk tiba di pulau itu dengan tiket 4 SGD *biasanya sudah masuk paket perjalanan. Paket traveling oneday at Singapore from Batam rata-rata ditawarkan dengan tarif 600-700an ribu per kepala minimal untuk 6-10 orang.
View sentosa island taken from cable car

Tak lama menikmati view Sentosa Island dari ketinggian, turun di stasiun cable car sentosa perjalanan lanjut melintasi Madamme Troussard (semacam gedung theater yang menyimpan benda seni dan patung lilin/replika para tokoh terkenal di dunia). Tapi sepertinya anak-anak saya kurang tertarik benda-benda itu. Maka, Emakpun ikhlas mengalah ... gak perlu masuk cukup pefotoan di depan aja.


Hampir setengah jam menyusuri pulau, kami tiba di pinggir pantai Pulau Sentosa yang bersebelahan langsung dengan gedung Wings of Fire, pusatnya pertunjukan air mancur menari kelas dunia.  Di sini anak-anak lebih memilih main pasir sepuasnya hingga menjelang siang, sementara ayah bundanya pacaran di pojokan hehehe ...

Dari pantai sempat melintas dan berfoto di depan Universal Studio. Lagi-lagi kita memilih gak masuk dan bermain di wahana di dalamnya karena mengejar waktu salat dzuhur.

Masih di kawasan yang sama mampir di Candilicious pusat jajanan permen yang terkenal di pulau itu.  Sempet foto-foto cantik, makan es krim, dan bersantai sejenak menikmati taman di sekitarnya.


Candilicious sentosa island

Kami meninggalkan Pulau cantik itu dengan menggunakan sky train, sejenis kereta lambat menuju Vivocity lagi, lalu lanjut makan siang di resto berlogo halal.

After lunch, kami turun ke jalur subway mengambil jalur dengan tujuan destinasi Orchard Road yang terkenal.

Orang ndeso nyobain Sky Train
Orchard road merupakan kawasan elite berisikan jejeran mal yang menjual berbagai barang branded kelas dunia. Hadeeh jujur, emak mah cuma cuci mata ajah kok.  Debit card dan duit cash kekep rapat-rapat sambil nahan ences, lagian orang ndeso kayak saya gak pantes pake baju or tas harga puluhan juta, berat hisabnya hahaha ...
Kepoin es krim potong

Nikmatnya Es krim potong @orchard
Ikutan ngeceng

Trus ngapain dong kami di orchard kalo gak berburu barang branded? Cuma nongkrong makan es krim potong yang terkenal itu lho ... (harganya variatif antara 1-4 SGD). Di sana kami juga bersantai sambil menikmati berbagai street attraction yang dilakukan para seniman jalanan.

Street attraction @orchardroad
Dari Orchard kamipun pindah lagi, kali ini menuju China Town. Di sini lagi-lagi emak cuma ngukur jalan sama cuci mata, walau pernak pernik jualan di sana murmer dan bisa bikin leher dan mata selalu berputar jelalatan. Tetapi saya masih bisa menahan diri untuk tidak belanja-belanji.  Pertimbangannya, barang-barang serupa juga banyak ditemui di Batam, jadi ngapain capek bela-belain nyeret kantong belanjaan? Issh, bilang aja gengsi ngakuin diri medit, padahal aslinya ditarik-tarik suami dan anak-anak yang gak sabaran lanjut berkeliling kota wkwkwk.

Sepanjang jalan buat yang suka wisata kuliner bisa menjajal jajanan murmer pinggir jalan ala SIN di sini. Jangan khawatir, teruntuk kita yang muslim tinggal cari logo halal aja di setiap banner atau plang yang penjual pasang.

Chinatown
From China Town sempat menunggu jam sholat ashar dulu lalu kembali menggunakan subway/MRT, kami menuju destinasi Marina Bay.  Icon kota Singapura yang terkenal, Merlion alias Si-singa muntah ada di sini.  Masuk kawasan ini gratis lho kecuali kalau kalian tertarik nyobain naik kapal membelah sungai atau lagi-lagi beli cemilan di sekitar statue.

Cukup sebentar berfoto, karena sudah beberapakali punya foto kenangan di sana, kami memilih pindah lagi ke Garden By the Bay taman buatan dengan view spektakuler di waktu senja.  Sengaja milih menjelang malam sembari istirahat salat magrib dan dinner, ehm ... karena lagi-lagi di perjalanan sebelumnya gak pernah dapet spot foto di dalam taman di waktu malam.  Paket-paket wisata biasanya hanya memberi kesempatan berfoto di gerbang depan, tanpa masuk ke area tanaman raksasa.
salah satu sudut Marina bay

adek with Merlion statue

Sempat terjadi little unforgettable drama di sini, setengah jam si sulung lepas dari pandangan dalam kegelapan malam di acara spectaculer night show.  Syukurlah, briefing kecil emak setiap pra-perjalanan sangat berguna dan nomor telepon saya selalu ia ingat.  Tak lama HP berdering, suara pengunjung lain asal Indonesia yang menemukannya di sudut lain taman (better gunakan paket aktivasi LN dari provider awal tanpa perlu mengganti kartu nomor untuk perjalanan sehari ke Singapura). Pertemuan berlangsung dramatis ditemani petugas taman yang juga siap membantu kesulitan pengunjung.
Road to sin
Garden by the bay
Pukul 20.30 waktu setempat dari Garden By the Bay kami kembali ke titik awal Vivo city menggunakan bus untuk mengejar last ferry menuju Batam.

Setelah kembali melewati proses check point seperti kala berangkat.  Tepat 22.00 Wib, kami berempat sampai di rumah di kawasan komplek Mega Legenda, Batam Center dengan kaki lempoh, alias njarem, alias pegal-pegal namun dengan perasaan happy tentunya ....

2017 @Merlion

See you Singapore in the next edition ...
(semoga kelak dimampukan lagi)

Note n simple trick @SIN :

*Tidak ada Perbedaan waktu Singapura dengan Batam.
*Pilihan komunikasi bisa dengan aktivasi paket LN dengan provider Indonesia, atau ganti simcard lokal dengan beragam paket yang bisa di reload.
*Menggunakan transportasi umum seperti bus, subway, dll bisa dengan membeli kartu perjalanan khusus wisatawan untuk sekali berkunjung di mesin yang tersedia di lt 3 Vivocity, tarifnya beragam dan bisa diisi ulang.
*Sebaiknya jangan mengenakan gamis hitam-hitam, sebab negara ini dominan dihuni penduduk non muslim.  Imigrasi Singapura agak phobia dengan muslimah bercadar apalagi dengan pakaian hitam-hitam.  Akan panjang proses interogasi jika kebetulan ada yang memakai pakaian seperti ini. Kalau tertahan lama di kantor imigrasi, tentu rugi karena mengurangi waktu bersantai mengelilingi kota.
*bila kehabisan SGD jangan khawatir, banyak money changer bertebaran di sudut-sudut kota Singapura.
*sebaiknya beli tiket pp ferry dalam pecahan dolar singapura karena lebih murah ketimbang dalam rupiah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler