Sharing Pengalaman Rahasia Rumah Tangga Bebas Riba



Bismillah ...

Mewarisi pemikiran ala-ala kaum kapitalis memang repot, sebab kesuksesan hidup semua diukur dengan kebendaan atau materi.  Bukan salah bunda mengandung, tapi mindset 'gak bakalan punya kalau gak kredit' sejak zaman kompeni terlanjur mengakar kuat sampai ke anak cucu.

Adalah saya yang termasuk familiar dengan sistem ini. Begitu banyaknya pelaku RIBA di sekeliling bahkan orang tua dan handai taulan sendiri terlibat di dalamnya membuat 'dosa besar' ini seolah sesuatu yang lumrah.  Ditambah minimnya ilmu, mengaji hanya sebatas tilawah tanpa disertai usaha merenungkan makna ayat-per-ayat yang tersurat, maka tak heran jika bertahun-tahun sempat nggak sadar telah berkubang dosa besar yang tak kasat mata.

2006 akhir saat merasa sudah bisa cari uang sendiri,  pertamakali memberanikan diri ngambil motor matic.  Saat lolos persyaratan bangganya luar biasa, seolah pengen bilang ke seluruh dunia.  "Ini loh hasil jerih payah saya".  Ya salam ... sama sekali gak ngerti sampai motor pun akhirnya lunas.

Setelah dua tahun menikah, 2009 mencoba mengajukan KPR di daerah Sawangan Depok.  Sebagai pasangan muda kala itu kami masih didominasi keinginan pengen cepat-cepat terlihat mandiri, terlebih duit pegangan hasil kado pernikahan masih utuh di genggaman. Singkat cerita, semua proses administrasi pengajuan kredit berjalan mulus tanpa rasa curiga sedikitpun.  Tepat 11 bulan berjalan baru sadar kena tipu developer nakal.  Kok bisa? 'Kan suami sehari-hari dekat dengan dunia konstruksi bangunan? Well, salah satu alasannya ...  perumahan tersebut tergolong lama dan sudah banyak penghuni di blok terdepan saat kami tertarik mengajukan kredit.

Kurang cek and ricek dengan penduduk sekitar, plus terburu-buru membuat keputusan sih intinya.  Ditambah lagi saya masih hamil anak pertama serta suami banyak tugas di luar kota menyebabkan kami jadi tidak sempat mengecek progress pembangunan rumah secara berkala.  Gigit jari belakangan .... Seharusnya, berdasarkan perjanjian serah terima kunci dilakukan tepat setahun setelah akad kredit.  Namun siapa sangka kami malah disuguhi pemandangan tanah masih berilalang tinggi. Sementara developer raib entah ke mana.

Sampai sini masih belum paham tengah dijewer Allah.  Fase ini kami saling menyalahkan meski tak sampai pada pertengkaran sengit rumah tangga.  

Tahun berjalan ... berusaha move on melupakan total kerugian sekitar 28 juta rupiah akibat penipuan itu. Segala cara baik mengejar sang mafia perumahan dan negosiasi dengan bank terkait sudah dilakukan, apalagi yang tertipu bukan cuma kami.  Merasa hanya buang-buang waktu, tenaga dan biaya, sebab mengendus pihak bank seolah kongsi menutupi kejahatan pelaku, maka jalan terbaik ya memilih ikhlas.  Setidaknya ikhtiar berkas kasus sudah sampai ke tangan yang berwajib, masalah gak diproses sebab sang developer orang kuat dan banyak koneksi di kalangan petinggi angkatan darat, kami sudah gak perduli lagi.  Biarlah keadilan Allah yang bicara.

2011 setelah melalui upaya sana sini, akhirnya kami bisa keluar dari status BI checking -- padahal kasus perumahan di sawangan belum membuahkan hasil menggembirakan.  But who cares, dulu sih mikirnya simple setidaknya, kami masih punya harapan ambil rumah lagi, begitulah kira-kira.  Tepat di bulan Mei kami berhasil menandatangani akad kredit baru dengan bank konvensional dalam rangka mengambil KPR di daerah Cipayung, Depok.

Beberapa tahun angsuran berjalan, rumah itu malah ditinggalkan karena suami tugas di Batam.  Di kota inilah pertama kali saya mengenal dalil RIBA melalui tulisan-tulisan yang bertebaran di Facebook, ditambah kajian-kajian yang kebetulan diikuti.  Banyak ayat  menggetarkan hati akan kesalahan yang selama ini tak disadari.




 "Wahai orang-orang yang beriman, tinggalkanlah apa yang tersisa dari riba, jika kalian adalah orang-orang yang beriman. Maka jika kalian tidak meninggalkan, maka umumkanlah perang kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika kalian bertaubat, maka bagi kalian adalah pokok harta kalian. Tidak berbuat dhalim lagi terdhalimi. Dan jika terdapat orang yang kesulitan, maka tundalah sampai datang kemudahan. Dan bila kalian bersedekah, maka itu baik bagi kalian, bila kalian mengetahui." (QS Al-Baqarah: 278-280)

Mulai deh introspeksi diri ... pantas saja jalan 3 tahun merantau gak kelihatan hasilnya.  Yang ada malah masalah datang silih berganti.  (Kebetulan rumah saat ditinggalkan sudah direnovasi berlantai dua, namun baru jalan sebagian a.k.a belum kelar sempurna.  Untuk menyelesaikannya pun belum ada bayangan sama sekali, sebab pergerakan tabungan bisa dibilang sangat-sangat lambat, belum lagi realitas kehidupan di Batam tak sesuai impian).

Perjalanan  Hijrah dari Riba

Setelah paham dalil dan banyak mendapatkan masalah kehidupan yang secara gak langsung dikaitkan dengan dosa RIBA, maka saya dan suami makin intensif berkomunikasi.  

Awalnya memang ngeyel-ngeyelan, maklum saja pria kan baqo-nya kenceng.  Maka gaya bicara saya dengan suami saat itu lebih ngebahas pada sudut pandang angka-angka dulu. Betapa sebenarnya kami sudah ditipu mentah-mentah seolah Bank berkamuflase sebagai pihak yang paling berjasa mewujudkan impian seseorang. Padahal gak lebih dari instansi yang "memanfaatkan" kefakiran manusia.

First step berhasil, intinya pemikiran andai lebih bersabar sebentar saja seperti yang Rasulullah contohkan, tentu kami tidak akan terlilit hutang hingga 15 tahun lamanya diterima suami. Belum lagi dampak bunga berbunga ... rugi besar, Mak! berasa udah kerja RODI. Utang cuma berapa, bayarnya nyaris 2x lipat. Ya kalau yakin sehat terus, punya kerjaan terus, kalau nggak?! you know lah ancaman jahatnya RIBA.  Telat kena denda, gak mampu bayar aset bisa disita, perlunasan dipercepat malah kena penalti.  Maju kena, mundur kena.  

Awal 2016, situasi perusahaan yang ikut dikelola suami di Batam makin mengecewakan, ditambah banyak alasan pribadi yang membuat kami memilih mundur dan mengatur strategi baru menyiasati hidup.  Akhirnya saya dan suami sepakat hendak mengambil langkah besar meninggalkan kota itu dan kembali memutuskan menjalani rumah tangga LDR.  Suami pulang ke Depok karena kembali bekerja di Jakarta, saya ke kota kelahiran menjalankan tugas birrul walidain.

2017 saya resmi menjadi warga Bandar Lampung lagi.

Sampai sini Allah sepertinya hendak mengajarkan banyak hal.  Sejak itu ekonomi RT mulai membaik dan beberapa pintu rezeki seolah terbuka lebar.  Bisa jadi, ini pengaruh doa orang tua yang senang anaknya kembali ke kampung halaman mendampingi masa tua mereka.  Selain itu mungkin juga Allah melihat proses awal ikhtiar kami yang berjuang melepaskan diri dari jeratan RIBA.  

Beberapa langkah kongkrit yang terasa dijalani beberapa tahun  belakangan yaitu mulai menyederhanakan gaya hidup, melupakan hasrat travelling yang sama-sama kami sukai, mengurangi jajan di luar dan tutup telinga akan sindiran pedas keluarga yang masih mengagungkan budaya kapitalis.  

Pernah ada satu saudara yang usil menyentil "kok sekian lama menikah dan merantau pulang-pulang belum punya mobil sendiri-sendiri? belum juga umroh atau naik haji?" Ehm ... Kalau di lingkungan keluarga saya sih, kedua hal itu termasuk patokan hidup seseorang terbilang sukses.  No hurt feeling, saya sih milih cuek bebek!

Sementara utang yang masih berjalan bagaimana? After membaca tulisan mas Saptuari di buku "Kembali ke Titik Nol", kami berdua memang gak bisa mengambil langkah "amputasi" alias langsung memangkas dosa RIBA dengan cara menjual aset ribawi itu.  Alasannya,  mertua alias ibu dari suami sejak kami stay di Batam tinggal di sana. Pertimbangan psikologis ibu yang kami pahami masih awam dapat menimbulkan polemik baru jika nantinya rumah tersebut dijual.  Maka, jalan satu-satunya yang bisa diambil adalah "melepaskan kemelekatan" alias mempercepat pelunasan.
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulisnya dan dua saksinya”, dan Beliau n bersabda, “Mereka itu sama.” [HR. Muslim, no. 4177]  
Tantangan awal muncul ketika baru-baru menjalani hijrah fisik.  Rumah tinggal di Lampung bisa dibilang tak layak huni, sementara lantai dua rumah Depok pembangunannya juga terbangkalai.

Akhirnya, terpaksa azzam bebas RIBA mundur lagi.  Tabungan yang tak seberapa sempat terkuras karena suami memilih merenovasi rumah peninggalan Bapak di Lampung juga membuat nyaman sang ibu dengan meneruskan pembangunan lantai atas rumah Depok.  Semua alasan yang ia kemukakan cukup masuk akal dan dimengerti, karena ini adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, yakni membuat nyaman kehidupan seluruh anggota keluarganya.

Setelah itu kami kembali mengencangkan ikat pinggang dan mengejar impian yang sempat tertunda.

Awal 2020, mulai kelihatan perjalanan panjang dosa yang setara dengan menzinahi ibu kandung akan segera disudahi.  Suami juga makin gencar berusaha menambah pundi-pundi tabungan agar tak lagi dikejar bayang-bayang utang baik dari gaji bulanan dan proyek mandiri yang ia kerjakan bersama teman-temannya di Jakarta. 

Tepat menjelang pertengahan ramadan atau 8 tahun angsuran berjalan berita baik itu datang.  We did it! suami akhirnya mengirimkan WA pic berisikan selembar kertas penandatanganan pelunasan kredit rumah kami. Padahal seharusnya jika dijalani normal, angsuran masih berjalan 7 tahun ke depan. Alhamdulillah wa syukurillah.



Sujud syukur disertai salat taubat serta-merta dilakukan teriring kelegaan yang menyeruak di dalam dada. Sungguh perjalanan panjang yang melelahkan.  Apalagi mengingat pandemi virus covid-19 belakangan melanda dunia, banyak sektor merugi, PHK di mana-mana, Allah justru maha pemurah memberikan banyak keajaiban.

Sekalipun lepas dari utang ribawi bukanlah jaminan kami termasuk hamba-hamba Allah yang pasti meraih syurga-Nya, setidaknya, langkah kecil ini diharapkan menjadi tonggak untuk terus taat pada aturan tertinggi.  Semoga setiap ikhtiar di jalan kebaikan akan membawa kami berdua menuju rumah tangga yang samara dan penuh berkah.  Aamiin.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir." (Qs. Ali Imron [3]: 130).

Rahasia RT Bebas RIBA

Dari sekelumit cerita yang dituturkan, sebetulnya ada beberapa hikmah yang bisa teman-teman ambil sebagai pembelajaran.  

Pertama ; Bahwa untuk mewujudkan rumah tangga bebas RIBA yang terpenting dibutuhkan adalah kesamaan visi antara suami dan istri.  

Banyak sahabat bercerita mengalami kendala keluar dari dosa yang satu ini, disebabkan karena perbedaan pemikiran. Misal, Istri paham dalil, suami awam ; atau suami ingin bebas RIBA, tetapi istri punya banyak keinginan dan menuntut gaya hidup setinggi langit. 

Memang sebuah tantangan besar menyatukan pemikiran dari dua kepala yang berbeda terlebih dalam komunikasi yang santun, santai dan tidak menggurui.  Meski sulit, bukan berarti tidak mungkin.  Tiap-tiap individu itu sendiri adalah yang paling mengerti cara berpikir dan gaya komunikasi pasangannya. Jadi saya gak bisa memberikan tips secara detail bagaimana caranya merubah mindset suami/istri agar sadar akan bahaya RIBA.  Istri biasanya paling tahu bagaimana cara ngobrol yang asyik dengan suaminya, begitupun sebaliknya.  

Langkah akhir membidik sasaran tembak merubah pola pikir pasangan adalah meminta langsung kepada penggenggam hati melalui doa.  Dia-lah yang paling kuasa membolak balikkan hati manusia.

Kedua; Perlunya kekompakan suami-istri dalam mewujudkan azzam yang sudah ditetapkan.  

Dalam hal ini secara teknis saya menyerahkan tanggung jawab penuh atas rekening yang akan ditunjuk sebagai tabungan pelunasan utang kepada suami.  Tak perduli sekalipun melawan teori keuangan ideal RT dari ahli A, B maupun C, sebab saya tahu persis pasangan saya adalah pria yang tegas lagi amanah, sedangkan saya termasuk istri yang kurang bisa menge-rem keinginan. The power of Trust saya akui sebagai point yang cukup penting dalam keberhasilan kami.

Ketiga ;  Kesungguhan pasangan dalam menyederhanan keinginan hidup disertai ikhtiar nyata mencari jalan rezeki lain yang bisa meraih pendapatan dalam jumlah besar.  

Keempat ; Saling mendoakan kelancaran rezeki untuk keluarga dan banyak bersedekah

Alhamdulillah Allah melihat proses dan kesungguhan kami ingin secepatnya melepaskan diri dari salah satu Al-kabair yang ancamannya gak sepele baik di dunia maupun di akherat itu. 
Dari Samurah bin Jundub, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tadi malam aku bermimpi ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya membawaku ke kota yang disucikan. Kami berangkat sehingga kami mendatangi sungai darah. Di dalam sungai itu ada seorang laki-laki yang berdiri. Dan di pinggir sungai ada seorang laki-laki yang di depannya terdapat batu-batu. Laki-laki yang di sungai itu mendekat, jika dia hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Setiap kali laki-laki yang di sungai itu datang hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Aku bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Orang yang engkau lihat di dalam sungai itu adalah pemakan riba’”. [HR. al-Bukhâri]
Buat kalian yang masih berkubang di dalamnya, entah sebagai pelaku ekonomi maupun peminjam jangan ngeyel ...  Tak usah menunggu berurusan dengan kemiskinan, kehancuran rumah tangga dan kesulitan-kesulitan lain dalam hidup (sesuai janji Allah) melainkan bersegeralah! 

Itu baru ancaman di dunia lho, kalau saya sih gak ngebayang pedihnya siksa di akherat (dibangkitkan dalam keadaan gila, berenang di sungai darah, diancam diperangi Allah dan RasulNya serta neraka sebagai tempat tinggal terakhir). Nauzubillah. Semoga Allah memudahkan urusan kalian dan secepatnya terlepas dari belenggu dosa yang nge-RIBA-nget ini. Aamiin.

Salam lunas ....

46 comments:

  1. Alhamdulillah ya jadi lunas dan ga pusing karena hutang ,selalu istiqomah ya karena istiqomah juga perlu perjuangan

    ReplyDelete
  2. Aamiin. InsyaAllah. Syukron mb inna.

    ReplyDelete
  3. Memang kesederhanaan lebih baik, daripada pura" mewah karena dari uang riba.
    Semoga bisa Istiqomah 🙏

    ReplyDelete
  4. Jadi melawan riba itu gak gampang ya mbak, harus banget komitmen kedua belah pihak dan menahan keinginan untuk beli ini itu tanpa kredit-kredit. Makasih mbak infonya, bisa buat pembelajaran aku sama calon suami buat menerapkan rumah tangga yang bebas riba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Godaan ingin terlihat "wah" biasanya yg paling berat mb. Hehe ... Apalagi tuntutan sekeliling kerap bikin gengsi. Alhamdlh belajar apa adanya jauh lbh tenang. Semoga menemukan suami yg se visi ya mb. Aamiin

      Delete
  5. Luar biasa perjungan untuk melepas riba Mbak, sebagai contoh untuk kita-kita yg saat ini masih awam tentang dosa riba, semoga menjauhi riba.

    Tetap semngat untuk berhijrah Mbak, semoga Allah menanmbahkan Rizki.

    ReplyDelete
  6. Saya setuju banget, nanti enggak akan punya apa-apa kalau enggak ngutang, sudah mendarah daging banget. Saya juga pernah kesindir karena memilih kontrak dan enggak berusaha beli rumah dengan kredit. MasyaAllah salut sangat dengan perjuangan mba bebas Riba. Semoga kita selalu dimudahkan dalam menghindari riba dan bisa disegerakan bebas riba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga dilancarkan rezeki mb biar bs beli rmh cash ya, aamiin

      Delete
  7. Masya Allah Mbak Mega. alhamdulillah sudah terlepas riba ya, saya dan suami juga sempat mengalami hal serupa tapi tak sama mbak berkaitan dengan bank. akhirnya itu yang membuat kami mengakeselarasi ikhtiar dunia dan langit agar tebebas dari riba. seram betul ya dosanya setara dengan menzinahi ibu kandung. kemudian perlahan saya banyak belajar pelan2 tenyata riba itu banyak jenisnya ya, bukana hanya perkara bunga bank

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mb riba banyak macamnya, kudu dipelajari lebih dalam gak hanya bunga n sostem kredit di bank. Semoga istiqomah juga ya...

      Delete
  8. sharing yang sangat detail dan bermanfaat mba, saya jadi mikir juga setelah baca artikel ini, mudah2an dilapangkan rezeki bisa ambil rumah cash

    ReplyDelete
  9. SubhaAllah... Terharu mba, aku juga pernah pengalaman seperti itu. Alhamdulillah Allah
    mudahkan dengan dibantu bapak mertua. Klo ingat itu nyesel juga. Kadang -kadang orang ngomong "kalau nggak cara kayak gitu, ya susah punya rumah," yang dibutuhkan kesabaran. Jadi kepikiran saat pandemik sekarang ini susahnya double. Semoga kita dijauhkan dari riba, aamiin.. Ya Robbalamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin iya mb sedih saat suami cerita dampak pandemi banyak yg mengajukan penanggihan cicilan akibat PHK dsb. Semoga wabah cepat berlalu. Aamiin

      Delete
  10. Saya sangat setuju dengan tulisan Mbak Mega. Akibat buruk dari riba sudah pernah saya rasakan sampai terpaksa menjual rumah satu-satunya. Alhamdulillah sekarang sudah terbebas sama sekali dari riba. Semoga kita semua sampai ke anak cucu dijauhkan Allah dari dosa riba.

    ReplyDelete
  11. Masalah yang ada di masyarakat, kadang ada yang enggak sadar kalau diri atau keluarganya kena riba. Mungkin sebagian orang berpendapat kalau enggak nyicil, ya enggak akan punya apa-apa. Kadang memang ada beda visi yang agak sulit dijembatani. Saya setuju sama tulisannya Mbak Mega tentang Riba ini. Moga banyak yang baca tentang ini dan bisa lepas dari riba. Aamiin

    ReplyDelete
  12. Naudzubillah ya Mbak. Sy sbg PNS juga ngerti nih. Sungai darah rasanya mengerikan banget. Makasih sudah diingatkan. Semoga Allah mengampuni segala dosa akibat riba..Aamiin

    ReplyDelete
  13. Astaghfirullah
    Saya nih masih terjerat riba huhu
    Semoga Allah mudahkan saya untuk segera menyelesaikannya

    ReplyDelete
  14. Aamiin. Semoga dimudahkan dan dibuka sgl jalan rezeki ya mb.

    ReplyDelete
  15. Saya pun merasakan ini. Terseok2 membayar utang bank membuat kesadaran akan riba tumbuh. Riba itu raib. Ya. Raibnya kenikmatan atas benda tersebut. Punya rumah, tapi tidak ditempati. Punya mobil, tapi jarang digunakan. Tapi pintu tobat selalu terbuka. Ketika ingin hijrah, bantuan datang dari mana saja. Utang bank belasan juta, bisa dilunasi dalam sekejap. Memang masih utang, tapi tanpa riba. Semoga tidak mengikat diri lagi pada riba. Aamiin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ita mb sy juga rumah gak ditenpati hehehe. Semoga kita termasuk yg istiqomah. Aamiin.

      Delete
  16. Lepas dari jeratan itu seperti terbebas merdeka ya. Pengalaman hidup kak Mega jadi pembelajaran daku saat berumah tangga nanti, agar punya satu misi antara suami dan isteri ya untuk bebas dari riba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga dimudahkan bertemu tambatan hati yg sevisi dan sekufu ya mb aamiin

      Delete
  17. terima kasih tipsnya mbak, kami juga sedang mencoba bebas riba. Ada beberapa aset alhamdulillah sudah lunas, tingal 1 aset lagi mbak dan saya mau menyudahi ini. Semoga bisa selalu istiqomah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga disegerakan dan dilancarkan sgl urusan penyelesaiannya. Aamiin

      Delete
  18. Alhamdulillah ya mbak.
    Sesuai janji Allah, siapa meninggalkan yg haram karena-Nya, akan Allah gantikan dgn lbh baik.

    Sy dan suami jg pernah hampir masuk dlm kubangan riba. DP KPR 13 juta. Alhamdulillah Allah sadarkan sebelum masuk cicilan. Jd kami batalkan meski 13 juta hangus begitu saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah ... Semoga dogantikan dgvyg lebih baik ya mb. Brarakallah

      Delete
  19. Orang tuaku juga adalah pengguna riba dulunya. Beberapa tahun kemarin adalah titik kami diporak porandakan riba. Dan sekarang, kami sekeluarga lagi berjuang melapas diri dari riba. Tidak mudah memang. Tapi, harus kami paksa untuk kehidupan yg lebih baik. Ini yg membuat saya bertekat, kelak jika berkeluarga tidak mau dekat dengan riba.

    ReplyDelete
  20. Alhamdulillah mbak. Perjalanan penuh rintangan ya mbak. Akhirnya bisa lunas juga.

    Bener kata mbak, kita tuh udah kemakan mindset, "kalau nggak hutang, nggak bakal punya." Jadi keinget cerita gaji 10 juta per bulan tapi abis buat bayar hutang nih. Contoh ngerinya kredit jaman now sih itu.

    ReplyDelete
  21. Iya bener ya pasangan muda itu inginnya terlihat cepat mandiri. Saya juga dulu pernah mengalami. Kini saya lebih memilih jadi kontraktor alias penyewa rumah orang ketimbang beli dengan cara cicil. Beli dengan cash sih maunya hehe... Makasih sharingnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mb yeti. Semoga dimudahkan n dilancarkan rezekinya ya biar bs beli cash. Btw maaf bw di tenpatmu aku gagal trs, entah dimana kesalahannya. Tp insyaAllah aku sdh berkunjung. Mksh sblmnya.

      Delete
  22. Semoga saya segera terlepas dari riba. Bismillah. Terima kasih mba sharingnya

    ReplyDelete
  23. Perjalanan hijrah untuk bebas riba memang berat dan ada-ada saja ya ujiannya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Semoga iatiqomah bagi siapa sj yg melakukan.

      Delete
  24. Mashaallah aku suka dengan tulisan ini aku pinjam linknya untuk share hikmah dan evaluasi untuk kami

    ReplyDelete

Powered by Blogger.