Rabu, 18 September 2019

How to Face the Hectic Situation


Source : google
Pernah ngalami pagi yang hectic mak?

Emang arti hektik apaan, ya? Kayaknya sering baca dan denger istilah itu di percakapan sehari-hari, wa, maupun medsos.

HECTIC (baca: hektik) itu dalam bahasa gaul berarti sibuk, kalut, riweuh, rushing things, buru-buru, kerumitan, kompleks, aktif, perasaan tidak menentu arah.

Saya sih sering ngalamin.  Bahkan pagi ini baru saja kejadian.  Kalau dipikir-pikir dulu saya termasuk pribadi yang well prepare. Namun belakangan, sejak menjadi emak-emak apalagi yang keras kepalanya saya dengan alasan kemaruk pahala memutuskan tidak menggunakan ART sejak menikah, mulai dech kena penyakit riweh, rempong, pelupa, dsb ...

Jadi inget dulu saat kuliah, salah satu senior kampus punya game kepribadian yang pernah coba saya jawab.  Soalnya kurang lebih begini.  Jika suatu saat, ada orang mengetuk pintu, sementara anak menangis, lalu telepon berdering.  Pada saat yang sama ceret air berbunyi nyaring tanda air sudah masak, apa yang paling utama kamu kerjakan. Lakukan sesuai prioritas menurut kacamata diri.

Bagi saya sih ini bukan cuma tes kepribadian, namun lebih kepada latihan logika berpikir untuk menghasilkan pribadi yang solutif.  Jawaban saya ketika itu, samperin anak yang paling utama--lalu gendong, kemudian sambil berjalan matikan kompor, sambar telepon sambil sebelumnya menyahut tamu yang mengetuk pintu agar menunggu sebentar, last menjawab telepon.

Dari hasil analisa menurutnya saya pribadi yang mencintai anak-anak, cermat melihat situasi dan cukup menghormati orang lain.  Ah ... saya sih gak mau Ge Er, karena saya pikir gak akan ada jawaban ideal untuk itu, sebab setiap orang pasti punya skala prioritas dan sudut pandang yang berbeda. 

Nah, sama halnya dengan di dunia nyata kita kerap dihadapkan situasi riweh semacam itu.  Dan tentu saja ini bukan lagi sebatas games yang membutuhkan banyak waktu untuk berpikir, tetapi lebih menuntut spontanitas individu.

Semisal pagi tadi, ketika mengantar anak ke sekolah, di tengah jalan motor kehabisan bensin lalu mati --kebetulan jarum penunjuk bensin sudah lama error. Pagi saya sengaja nggak cek bensin, karena yakin kemarin masih terisi penuh sebab suami sudah membeli bensin sebelum terbang ke Jakarta.  Lupa kalau sepanjang hari kemarin, motor dipinjam tetangga.  Saat itu, jam masih menunjukkan pukul 06.45.  Anak-anak masuk sekolah pukul 07.30 wib. HP gak ada pulsa, kuota juga pas habis semalam sehingga tidak bisa menghubungi siapapun untuk dimintai bantuan.  Untungnya masih bawa dompet berisi uang.  Apa yang kira-kira emak lakukan di situasi itu? Oya, penjual bensin terdekat, jaraknya 50m dari tempat motor mogok.

Saya sih aslinya pengennya marah-marah atau mewek dulu ... hahay. Sayangnya menyalahkan orang lain, ngeluh ataupun menangis gak menyelesaikan masalah.

Kenyataannya, saya mencoba discuss meminta anak-anak menunggu di motor--sebelumnya saya titipkan mereka ke tukang warung yang kebetulan ada di lokasi, lalu saya mencari bantuan orang yang kebetulan lewat ke arah penjual bensin eceran, kemudian kembali ke motor dengan berjalan cepat.  *Untungnya masih bawa duit, kalau enggak? lengkap sudah penderitaan. Mungkin yang akan saya lakukan jika situasi itupun terjadi juga -- ya tetap ke tukang bensin dan ngutang dengan menaruh apapun sebagai jaminan apabila memang diperlukan demi anak-anak bisa kembali berangkat ke sekolah.

Kenapa saya gak dorong aja motornya sampai ke tukang bensin terdekat? Berat mak gak kuat msh recovery pasca surgery ... lagian saya masih punya banyak waktu untuk berjalan bulak balik 50 m, meski berujung ngos-ngosan 😂 Gak papa itung-itung olahraga. Hehehe. Alhamdulillah anak-anak tiba di sekolah tepat sebelum bel berbunyi.

Kesimpulannya -- terutama pelajaran untuk diri sendiri--bahwa ketika situasi seolah kacau bertumpuk-tumpuk dalam waktu bersamaan maka langkah awal yang harus ada pada diri,

Source : google

Pertama, Bersikap Tenang

Sekalut apapun hati berkecamuk, ketenangan sangat membantu seseorang untuk berpikir jernih.  Nah, penyakit emak-emak itu biasanya panikan ... ini yang harusnya dilatih agar enyah dari diri.  Bagaimanapun rempongnya keadaan, jangan lupa tarik napas dalam, istighfar agar yang keluar bukan ocehan sebagai reaksi spontanitas.  Marah, nangis, ngomel, nggak menyelesaikan masalah.

Kedua, Think, Prediction, Action

Kalau diri sudah santai, otomatis otak bisa diajak berpikir mencari langkah apa yang akan dipilih untuk keluar dari masalah. Lihat situasi, waktu, tempat, dll. sebagai dasar bertindak.  Pertimbangkan untung ruginya, saat yakin memilih tindakan sebagai solusi, maka lakukan dengan cepat.

Ketiga, Jangan Sungkan Meminta Bantuan

Saat genting, lupakan juga rasa sungkan maupun malu.  Ketika beban tak bisa terbendung sendirian tidak ada salahnya mencoba meminta bantuan orang di sekitar meskipun tidak dikenal sekalipun. Bersedia tidaknya orang menolong kesulitan yang kita alami, pasrahkan saja pada Allah.  Nothing too loose.

Keempat, See the Bright Side

Selalu cari celah syukur dan hikmah dari setiap kejadian.  Sesulit apapun ketika situasi tak enak menyerang, selalu berpikir positif ... percayalah pertolongan Allah selalu ada.  Introspeksi diri sambil banyak-banyak beristighfar ... jangan-jangan cobaan datang sebab kekhilafan yang pernah diperbuat.

Tiba-tiba terseret situasi hectic itu biasa, mak. Because it is a theater of life, just slowdown and take your deepbreath.

Source : google




Selasa, 17 September 2019

Kembara Rindu ; Memakmurkan Pusaka Leluhur sebagai Implementasi Tauhid Menjaga Agama Allah


"Gunung Pesagi menjulang di kejauhan, puncaknya dibalut awan. Matahari temaram.  Angin dingin berembus kencang.  Di atas kubah Masjid Bintang Emas yang mengerucut keemasan, sepasang burung jalak menari berkejaran."

Sebuah opening indah yang langsung menerbangkan seluruh daya imagi saya pada view pegunungan yang indah di Lampung Barat.  Ya, setting buku ini memang sebagian besar menyuguhkan cerita yang berlatar belakang budaya di daerah Liwa dan sekitarnya.  

Semakin tenggelam dalam kata per kata maupun bab demi bab, membuat saya seolah melebur dan terhisap menjejaki alur cerita tanpa mampu berpaling lama.  

" ... dalam pengembaraan mengarungi kehidupan dunia ini, jadilah kalian orang-orang yang penuh rindu.  Orang-orang yang rindu pulang, .... Orang yang didera rasa rindu, tidak akan membuang-buang waktunya di jalan, ia ingin cepat-cepat sampai rumahnya. Sebab, ia ingin segera bertemu orang-orang yang dicintainya, ..." (hal 61)


Secara garis besar buku ini menceritakan perjalanan seorang Ainur Ridho, atau Udo Ridho dalam mengemban amanah menjaga keluarga dan pusaka leluhur berupa Masjid di Desa Kelahirannya Way Meranti, Liwa, Lampung Barat.

Udo Ridho awalnya merasa berat meninggalkan pondok pesantren Darul Falah, tempatnya menimba ilmu sekaligus menjadi khadim Kiyai Nawir sang guru yang selama ini sudah seperti keluarga sendiri di Desa Sidawangi di kaki Gunung Ceremai, Cirebon.  

Namun, amanah mesti ditunaikan.

Berbekal ilmu dan sedikit uang yang diperoleh dari sang guru, Udo Ridho akhirnya kembali ke kampung halaman, mencoba menapaki kehidupan baru bermasyarakat.

 "Kita seperti orang bepergian di dunia ini, orang yang mengembara. Dunia ini bukan tujuan kita. Tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki kerinduan yang mendalam kepada Allah, ..." (hal 61)


Adalah Syifa sang adik sepupu Udo Ridho yang selama ini berjibaku menjaga Kakek Jirun, Nenek Zumroh, dan Nenek Halimah, keluarga yang masih tersisa di Way Meranti semasa ia menuntut ilmu.  Syifa memiliki sejarah panjang keluarga yang belum terurai sampai akhir cerita. Sekembalinya sang kakak sepupu, praktis kehidupan Syifa menjadi tanggungjawab Ridho sebagai kepala keluarga.

Di awal masa kepulangan, dua saudara Udo Ridho dan Syifa terus terjuang bahu-membahu mengatasi beban ekonomi akibat hutang pengobatan kakek Jirun yang telah koma berbulan-bulan.  Mulai dari menjual gorengan, ayam bakar sampai bakso yang harus dijajakan keliling kampung.  Ikhtiar mengais rezeki terus mengalami konflik dan belum juga membuahkan hasil yang menggembirakan.
Sementara modal pemberian sang guru telah ludes.

Dalam kemelut menghadapi masalah keuangan, Udo Ridho tetap meluangkan waktu mendampingi anak tertua Kyai Nawir, yakni Kyai Sobron menemui salah seorang guru sekaligus sahabat lama sang guru, Kyai Harun di daerah Gisting, Tanggamus.  Selepas pertemuan yang seolah menjadi wasilah, Udo Ridho mengamalkan empat petuah sang kyai yakni salah satunya menjaga pusaka peninggalan kakek buyut berupa Masjid di desanya.

" ... Kalau kamu ingin hidup sukses mulia, kamu harus pegang erat-erat pusaka itu. Jangan kau telantarkan pusaka itu.  Bahkan kalau kau cari rezeki, ada di dekat pusaka itu. Makmurkan masjid depan rumahmu itu! Kau makmurkan rumah allah, maka Allah akan makmurkan hidupmu! Jangan khawatir tentang rezeki Allah ...," (hal 214)

Dan janji Allah adalah pasti bagi siapa saja hambaNya yang memegang teguh dan mengamalkannya.  Ikhtiar ridho mulai membuahkan hasil. Jalan rezeki mulai terbuka dari berbagai arah.

Akan tetapi cerita tak selesai sesederhana itu.

Kehadiran sosok Diana anak bungsu sang guru Kyai Nawir yang berkarakter pembangkang dan Lina seorang gadis ningrat berbudi luhur yang ada kaitannya dengan sejarah keluarga Syifa di sekitar kehidupan Udo Ridho makin mempertajam konflik dan menyemarakkan suasana. Jadi menebak-nebak Udo Ridho kira-kira nantinya melabuhkan hati pada siapa, ya? Ehm ...

Bagaimana kisah lengkapnya? tentu saja harus dituntaskan dengan membaca kisah selengkapnya dalam Kembara Rindu - buku 1 (Dwilogi Pembangun Jiwa).

#KembaraRindu disajikan Kang Abik dengan sangat kuat, apik, spesifik dan mendetil, baik dari sisi karakter penokohan, maupun setting cerita.  

Sempat seolah benar-benar mengikuti perjalanan pulang Ridho dari Cirebon hingga kembali ke kampung halaman. Melebur menapaki jalanan dari pekon Way Meranti menyusuri jalan di pesisir barat Lampung sampai di daerah Gisting, Tanggamus ketika Uda Ridho harus menemui Kiyai Harun.  Pun serasa ikut menyesapi lezatnya pandap, sayur ikan tempoyak khas yang tentu saja pernah saya cicipi kala mengunjungi wilayah Lampung Barat beberapa tahun lalu. 

Cukup bangga sekaligus malu ketika membaca buku ini dan mendapati setting cerita berlatar belakang tanah kelahiran Lampung.  Malu rasanya sebab saya pribadi sebagai putra asli daerah Lampung, belum pernah mencoba mengangkat bahkan mampu mempersembahkan sebuah karya indah yang berlatar belakang budaya tanah kelahiran dengan alur yang sarat ilmu dan hikmah seperti halnya Kembara Rindu karya Habiburrahman El Shirazy atau Kang Abik ini.

Semoga hadirnya buku ini melecut ghirah para penulis lain untuk mengusung tema budaya berlatar belakang daerah setempat untuk meramaikan literasi sastra Indonesia. *tak terkecuali saya.

Sangat menanti kelanjutan dari kisah Udo Ridho, Syifa, Diana dan Lina di buku kedua ...  semoga penantian tidak berujung lama  😍😍

*****

Judul       : Kembara Rindu
Penulis   : Habiburrahman El Shirazy
Jumlah Halaman : 266
Penerbit : Republika Penerbit
Editor     : Triana Rahmawati
Cetakan : September 2019






Minggu, 15 September 2019

Saat Badai Berlalu



     
           Jumat, 13 September menjelang jam 13.00 sesuai jadwal yang sudah ditetapkan menggunakan kursi roda saya diantar perawat Rumah Sakit memasuki ruang operasi. Saat itu, suami menunggu di luar ruangan, karena peraturan rumah sakit hanya memperkenankannya mengantar sampai di pintu ruang operasi.

Masuk ruangan, seketika kulit diterjang rasa dingin sebab suhu ruang operasi disetel bak di freezer kulkas. Gigi pun mulai gemeretak.  Seorang perawat membaringkan diri menambahkan dua selimut menutupi sekujur tubuh. Sejenak berdoa memantapkan hati untuk menghadapi semua kemungkinan sesuai takdir yang Allah gariskan.

Benjolan di belakang leher kiri sebesar 2,5 sentimeter yang selama ini kerap membuat pegal daerah sekitar leher dan punggung yang disarankan dokter untuk dibuang sebentar lagi segera dienyahkan.  Belum diperoleh kepastian jelas apakah ini sejenis kista, pembengkakan kelenjar getah bening atau kanker. Sebab perlu penelitian intensif lebih lanjut dari "benda" hasil operasi yang berhasil diangkat dari jaringan tubuh.

Saya pribadi berharap efek selanjutnya tidak berbahaya bagi kesehatan setelah dilakukan pembedahan.

        Jauh sebelum memutuskan berkonsultasi dengan dokter bedah minggu lalu, sempat searching google tentang seputar penyakit yang diderita.  Menurut Halodoc.com kemungkinan benjolan yang saya alami mungkin disebabkan oleh salah satu di antara ini:

Gangguan Kelenjar Getah Bening

Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem imun, khususnya limfatik. Kelenjar ini mengandung sel-sel darah putih serta antibodi, sehingga kelenjar ini berperan penting dalam melawan infeksi dan penyakit. Saat tubuh terkena infeksi, maka ia akan menghasilkan lebih banyak sel imun. Meningkatnya sel imun pada kelenjar limfa inilah yang membuat pembesaran atau pembengkakan.

Kista

Kista yang membuat terjadinya pembengkakan pada leher anak ini terjadi pada saluran thyroglossal dan umumnya tidak berbahaya. Akan tetapi, dokter biasanya akan melakukan pembedahan untuk mengangkat jaringan tersebut untuk mencegah risiko komplikasi.

Kanker

Beberapa jenis kanker diketahui dapat menyebabkan munculnya benjolan di leher. Jenis kanker tersebut bisa jadi kanker leukimia, kanker mulut, dan beberapa jenis kanker lainnya.

           Pasca pertemuan dan konsultasi melihat dari ciri-ciri dan gejala yang saya alami, menurut dokter bedah yang menangani, kemungkinan saya hanya mengalami masalah kista.  Semacam jaringan yang tumbuh di bawah kulit atau orang awam lebih mengenalnya dengan istilah tumor jinak.

Tubuh sudah terbaring pasrah di meja operasi dan terhubung dengan peralatan medis penunjang seperti monitor detak jantung. Sempat mendengar dokter menginstruksikan mekanisme pembedahan yang harus memiringkan tubuh saya ke arah kanan sebab posisi benjolan ada di sebelah kiri belakang leher.

Seorang perawat pria mendekat sambil tersenyum dan memberi penjelasan singkat lalu menyuntikkan obat bius di selang infus di pergelangan tangan kiri.  Seketika dunia menjadi gelap gulita.

Sekitar hampir dua jam proses operasi berlangsung, akhirnya saya kembali siuman saat dalam perjalanan kembali ke kamar perawatan. Masih dalam efek obat bius yang menyebabkan kepala seolah terus berputar dan pandangan gak fokus. "Rasanya gimana?" Samar-samar wajah suami mendekat.  I said.  "Seperti abis nabrak tiang listrik, atau turun dari roller coaster." Entahlah ... yang jelas setiap bangun mencoba duduk dari posisi tidur saya memuntahkan seluruh isi perut sampai habis. Dan itu berlangsung hingga azan isya.

After sholat yang dilakukan duduk meski kepala pening, saya kembali tertidur pulas. Sesekali terjaga mencoba menyentuh belakang leher yang terasa kebas, namun yang didapati sebagian besar tertutup oleh perban. Dua kali juga sempat membuka mata ketika perawat  menggoyangkan lengan untuk menyuntik antibiotik dan obat penahan nyeri namun hanya bisa saya jawab dengan anggukan. Entah jam berapa.

Baru menjelang subuh, setelah efek obat bius benar-benar hilang, saya mampu berdiri dan berjalan tegak.

Apa yang pertamakali saya rasakan setelah semuanya kembali normal? Lapar ... ha ha ha. Dasar! Untungnya gak ada pantangan jenis makanan apapun yang disarankan dokter. Maka jadilah bubur ayam sebagai menu penyemangat hari setelah KO semalaman.

Pukul 11.00 siang, setelah dokter berkunjung ke ruangan dan memastikan semuanya berjalan baik, saya pun diperbolehkan pulang ... Tetapi diharuskan kembali lagi seminggu kemudian untuk kontrol pasca operasi sekaligus mendengar hasil laboratorium.

Serasa mimpi, ketika semuanya telah terlewati.  Hanya bisa mengucap syukur kehadirat Illahi.  Sebab, segala penyakit datangnya hanya dari Allah, dan kembali pada Allah.  Tidak ada satu kejadian pun yang luput dari takdir dan kuasaNya.

Seumur-umur baru ini berurusan dengan pisau bedah.  Di kala usia memasuki kepala empat di mana kondisi tubuh masih dalam keadaan prima.   Wallahualam, anggap ini teguran sayang Allah untuk terus memperbaiki diri, menjaga nikmat sehat dengan pola makan yang baik.

Next semoga hasil lab juga tidak mengkhawatirkan, sehat selalu untuk diri dan para emak-emak sedunia ...



Sabtu, 14 September 2019

Cinta Nailah

Sumber : widiutami.com

Mentari bersinar garang, memantulkan aura panas yang membaur dengan partikel debu jalanan bertanah.

Ribuan tahun yang lalu di sebuah kota bernama Madinah.

"Apa yang menyebabkanmu bersedia menikah denganku duhai Nailah?" tatap pria yang hampir seluruh rambutnya telah memutih kepada gadis belia di hadapannya.

Gadis itu samar tersenyum, "karena kesalihahmu duhai suamiku. Siapa yang tak mengenal Ustman Bin Affan? salah satu sahabat rasulullah yang dijamin masuk syurga," sahutnya lembut dengan rona malu-malu.

"Tapi usiaku sudah melampaui masa mudaku Nailah." Gumam lelaki pemalu itu setengah tertunduk.

"Aku menyukai pria yang lebih dewasa dan aku beruntung telah menemukannya, tak mengapa ... karena masa mudamu telah kau habiskan bersama Rasulullah, sekarang adalah masamu bersamaku," sahutnya lagi dengan tatapan penuh cinta.

Ustman perlahan mengembuskan napasnya. Terbersit di pikirannya tidakkah istri belianya khawatir akan pandangan orang lain? Usia mereka terpaut jauh. Tidakkah ia jengah cibiran orang, bukankah umumnya wanita muda yang menikahi pria renta identik mengejar hartanya belaka.

Siapa yang tak mengenal Ustman? Sahabat Rasulullah yang kekayaannya tak terhitung.

Mata belia itu bersinar penuh kasih, seolah mengerti kekhawatiran suaminya. Namun hati kecilnya mengatakan. Cukup Allah saja yang tahu perasaanku, duhai suamiku tercinta.

Memanglah benar, getar-getar asmara terkadang menguar tak pandang usia. Kasih itu tumbuh subur dalam biduk rumah tangga yang penuh kasih sayang dan kehangatan. Pria tua yang terkenal pemalu namun berhati lembut, bersanding dengan gadis belasan tahun nan rupawan.

Sepasang kekasih itu adalah Nailah binti Farafishah dan Ustman Bin Affan pemilik julukan Dzunurrain. Wanita terakhir yang dikhitbah khalifah ketiga, tepat saat usianya menginjak 18 tahun, sedangkan Ustman sendiri kala itu sudah memasuki 81 tahun.

***

Rumah tangga selalu menyediakan ruang luas lagi halal yang berbuah ketenangan kepada sepasang insan yang saling mencinta.  Sekalipun hubungan itu melampaui logika manusia.

Waktu berlalu, Nailah tumbuh menjadi istri yang cerdas dan berakhlak luhur. Demikian kuat pengaruh didikan suami yang shalih kepada sosok Nailah, bahkan Ustman pernah berkata "Sungguh, aku tak keberatan jika Nailah dikatakan lebih cemerlang melampaui diriku."

Pernikahan mulia itu, dikarunai putri cantik, Maryam binti Ustman namanya.

Suatu ketika, sekelompok muslim yang membelot dari ajaran islam makin bertambah jumlahnya. Fitnah besar akan kepemimpinan Ustman menyebar di seluruh penjuru negeri. Para pemberontak menginginkan kematiannya.

Suara merdu Ustman yang tengah melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran tak menyurutkan langkah beberapa pria yang mengepung kediaman mereka. Para durjana itu merangsek masuk bersenjatakan pedang panjang. Nailah yang melihat suaminya berjuang melawan para pembelot agama, berhambur mencoba melindungi tubuh suami tercintanya. Ia seolah sengaja membiarkan rambutnya yang hitam tergerai nampak oleh para pria yang bukan mahromnya. Nailah mengira mereka masih memiliki rasa malu dan tidak akan meneruskan niat jahatnya jika melihat sosoknya yang tak berkerudung.

Ustman pun tersentak. "Apa yang kau lakukan Nailah?! masuklah! Sungguh menghadapi mereka lebih ringan dibandingkan melihatmu melakukan sesuatu yang haram dan menampakkan diri  di hadapan mereka"

Nailah keras kepala, baginya cinta juga berarti pengorbanan. Sungguh, asmara itu tak hanya berisikan cerita indah, tapi juga kesiapan diri berbagi tangis, luka bahkan kesedihan. Ia sanggup melakukan apa saja sekalipun berarti harus kehilangan nyawa.

Sayangnya, para pemberontak sudah kehilangan akal, mereka terus mengayunkan pedangnya ke arah Ustman.

Nailah menguatkan hatinya, ditepisnya pedang tajam yang silih berganti yang menghunjam tubuh Ustman. Darah terpercik, jeritan tertahan dari mulutnya. Jari-jarinya tertebas dan jatuh di lantai rumah.

Mereka semakin gelap mata. Ustman dan Nailah tak berdaya. Mereka diinjak, ditusuk dan dipukuli. Tubuh Ustman sudah bersimbah darah.

Nailah melepasnya dengan linangan air mata, "sungguh kalian telah membunuh laki-laki yang malam-malamnya selalu dihidupkan dengan sholat dan wirid memuja tuhanNya," lirihnya dalam linangan air mata.

Sayangnya, betatapun kuatnya Nailah menvoba melindungi pujaan hatinya.

Hari itu takdir Ustman telah sampai untuk kembali kepada pemilik sejatinya.  Kekasih hati Nailah telah pergi, sebagaimana janji Allah yang tertulis di Lauhul Mahfudz dalam Al-quran di genggaman.

***

Masa berkabung telah usai.

Janda Nailah menapaki hari dengan tegar tanpa kehadiran suami di sisi. Meski terlihat tabah, semburat awan kelabu tak mampu menutupi gurat-gurat kesedihan yang membias dari parasnya yang cantik.  Hanya Allah yang mengetahui bagaimana kesedihan seorang istri yang ditinggal mati kekasih hati.

Walau begitu, Nailah faham kecintaannya kepada Ustman, tidak boleh membuatnya mencaci ketentuan Allah. Cinta yang membawa ketaatan adalah cinta yang telah dipilihnya.

Suatu hari ketika masa iddah terlampaui.

"Aku Mu'awiyah bin Abu Sufyan, hendak meminangmu duhai Nailah. Izinkan aku mempersunting dan menjagamu dalam sebuah rumah tangga yang diberkahi Allah." Ucap pria yang cukup disegani sebagai salah satu sahabat Rasulullah. Dialah khalifah pertama dari bani Ummayah sekaligus dikenal sebagai juru ketik Rasulullah, Muawiyah.

Nailah tertegun lalu mencoba menyusun kata terbaik agar sahabat Rasulullah itu tidak merasa tersinggung. "Maafkan aku duhai sahabat rasulllah yang solih, aku Nailah tidak cukup layak menerima pinanganmu."

Muawiyah sama sekali tak mengira pinangannya ditolak, "apa gerangan yang membuatmu menolakku, Nailah?" Hanya pertanyaan itu yang mampu terlontar, sementara batinnya terus berkecamuk.

"Aku melihat kesedihan ini menyelimutiku seperti pakaian yang menyelimuti diri. Aku takut kesedihanku atas kepergian Utsman bin Affan akan terulang kepada pria-pria lain sesudahnya. Dan aku tidak ingin ini terjadi lagi." Sahut Nailah. "Lagipula, maafkan aku Muawiyah ... tidak ada seorangpun yang mampu menggantikan kedudukan Utsman di hatiku."

Sebuah pernyataan yang sulit diterima akal sehat, seorang janda menampik lamaran salah satu pria terhormat kala itu. Dan yidak hanya Muawiyah, beberapa lamaran lain selalu mendatangi Nailah dari beberapa pria solih lagi terpandang.

"Aku heran, kenapa masih saja ada laki-laki yang menginginkan aku menjadi istrinya?  Apa yang mereka inginkan dari wanita yang tak berjari sepertiku?" Tanya Nailah kepada hamba sahayanya.

"Karena engkau adalah janda amirul mukminin yang tentu saja kesolihanmu tak perlu diragukan lagi. Lagipula engkau masih muda dan terlihat cantik duhai Nailah"

Wajah itu menunjukkan keterkejutan. Bukan rona malu kemerahan yang menguar dari wajahnya ketika pujian itu sampai di telinga. Tapi justru kemarahan. Tak disangka Nailah Kecantikannya justru menjadi bencana untuknya.

"Kalau begitu, apa yang menyebabkan diriku terlihat cantik di mata mereka? Bisakah kamu mengatakan bagian mana dari tubuh atau wajahku yang sering diperbincangkan para pria itu?" Ujar Nailah begitu ingin tahu.

"Mmmm ... Kurasa ginsulmu, Nailah. Ginsul yang menghiasi wajahmu itu yang kerap kudengar menjadi bahan pujian laki-laki yang memujamu, ketika engkau tersenyum."

"Begitukah... ?" Sentaknya kemudian bergegas menuju dapur mencari sebilah pisau.   Tiba-tiba Nailah mencungkil ginsulnya di depan sang hamba sahaya hingga terlepas dan mengucurkan darah segar. Sebagian wajahnya pun tersayat pisau.

Sang khadimat mundur dengan tatapan ngeri tak percaya melihat tindakan tuannya.

"Lihatlah! Lihatlah ... aku sudah tak cantik lagi kan? Kuharap takkan ada lagi yang datang melamarku.  Sekarang, siapa yang sudi dengan Nailah yang ompong lagi tak berjari?!" ucapnya ringan penuh kelegaan.

Begitulah, cinta sejati terkadang tak mengenal logika.  Nailah hanya merindukan hidup sesyurga bersama Ustman bin Affan, laki-laki pertama sekaligus yang terakhir untuknya. SUAMI yang ia kasihi di dunia maupun di akhirat, tiada yang lain.

Seorang Nailah yakin janji Allah adalah pasti []






Kamis, 12 September 2019

Ketika Sakit Menyapa


Beberapa bulan lalu, saya menemukan ada sesuatu yang janggal pada leher belakang. Semacam benjolan sebesar jempol yang saya prediksi sebagai penyebab mudah lelahnya saya ketika beraktivitas.

Beberapakali curhat pada suami dan beliau sudah menyuruh saya untuk konsultasi ke dokter.  Namun, saya terus mengulur waktu, dengan alasan "that thing" tidak menimbulkan nyeri. Padahal honestly, saya tengah mengumpulkam segenap mental mendengarkan saran dokter kelak jika saya berani memeriksakan diri.

Akhirnya, 9 september atau tepatnya senin lalu, saya memberanikan diri melangkahkan kaki sendirian ke rumah sakit.  Sebelumnya, saya sudah mencari banyak informasi seputar kemungkinan penyakit yang diderita dan pengobatannya.  Sengaja begitu, agar saya benar-benar siap dan kuat menghadapi kemungkinan terburuk.  Semoga bukan suatu hal yang mengkhawatirkan. Itu saja sih doa saya.

Dalam bayangan emak-emak kebanyakan, perasaan saya campur aduk.  Yang utama saya merasa khawatir pada anak-anak dan keluarga terdekat. Awal kembali ke kota kelahiran, Lampung kan misinya sambil mengurus anak-anak, saya berkeinginan merawat ortu yang sudah sepuh sekaligus bantu-bantu ipar yang kena autoimmune. Lha kalau saya yang sakit dan musti dirawat, mereka piye?

Selanjutnya rada cemas jika harus menghadapi options surgery.  Rada trauma soalnya ngurusin bapak dan suami ketika anfal dulu, karena persiapan operasi itu harus melewati serangkaian pemeriksaan panjang yang melelahkan.

Sayangnya, sesuai perkiraan dan sedikit informasi yang didapat dari mbah google ... ketika dipertemukan dengan dokter cantik berhijab, beliau meminta kesediaan saya untuk menjalani pengobatan dengan cara dibedah. "Tidak ada jalan keluar medis selain itu," katanya.  Saya sih gak begitu kaget.  Cuma bisa menarik napas panjang ... Bismillah, saya pun menyanggupi. Saya harus sehat agar bisa terus bermanfaat bagi sekeliling, hanya itu yang terlintas di kepala.  Kemudian kami sepakat menentukan hari.

Kamis, 12 September sejak pagi menyiapkan diri dan mental untuk pertempuran awal melawan penyakit alias pemeriksaan pra operasi.

Alhamdulillah, Allah itu maha detil. Pengalaman 3 tahun lalu sebulan lebih mendampingi bapak yang kritis dan musti dilarikan ke Jakarta, lalu selang berapa bulan suami gantian menjalani operasi bedah akibat radang usus buntu di Batam, membuat saya mudah menenangkan diri menghadapi kemungkinan apapun tentang diri.  Ini sih bukan masalah besar jika dibandingkan apa yang dialami orang-orang yang saya cintai itu, i said to my self. So, jalani saja prosesnya dengan gembira.  *menghibur diri

Usai menjalani proses panjang tes pemeriksaan awal pra operasi yang meliputi cek Laboratorium, EKG (rekam jantung), dan Rontgen saya pun terdampar di kamar perawatan dan menuliskan cerita ini. Satu hal yang menenangkan, justru didapat hasil terbaik di mana diri dalam kondisi prima. Seusia saya, gula darah normal, tekanan darah, dll bagus.  Patut disyukuri dong.  Kayaknya masalahnya cuma terselip satu, overweight, wkwkwkwk!

Well, waktunya istirahat sambil meluk anak-anak ... Lho kok? Lha iya - itung-itung pindah tidur aja- dan introspeksi diri.  Bukankan dalam islam penyakit adalah sarana penggugur dosa? Masalahnya dosa mana yang pernah saya perbuat? Segunung pastinya ... apalagi minggu depan bakal lewat kepala 4, Aiih ... makanya mungkin dijewer dikit sama Allah.

Selain itu maybe saya memang disuruh diet dan lebih cermat memperhatikan asupan makanan sehari-hari. Selama ini saya sadar betul, paling susah diminta mengatur pola makan.  Kepede-an merasa diri punya tinggi badan agak di atas rata-rata, jadi merasa kalaupun gemuk gak bakalan terlalu kelihatan. Apalagi kebawa jumawa merasa diri selalu olahraga dengan teratur.

Walhasil, kesimpulannya ... pulang nanti keep jogging dan berenang.  Nah kelar itu yang PRnya berat, mengatur pola makan dan yang pasti ... terus perbanyak menebar kebaikan sebagai bekal di kehidupan akherat.

Semoga esok dimudahkan segala urusan....





Rabu, 11 September 2019

8 Posisi Penting yang Menunjang Siaran Radio


Hari ini, 11 September bertepatan dengan peringatan Hari Radio Nasional. 74 tahun sudah dunia broadcasting radio mengudara di negeri ini seiring dengan didirikannya RRI di tahun 1945.  

Dalam rangka mengenang hari itu, saya yang kebetulan mantan orang radio, tetiba ingin menulis tentang beragam posisi yang sangat berpengaruh dalam siaran on air sebuah radio.

Kebanyakan orang awam hanya tahu isinya radio ya penyiar semua. Padahal, pada divisi on air sebuah radio, dipenuhi oleh orang-orang kreatif dan penuh percaya diri, gak cuma broadcaster!

Ada banyak komponen yang saling menunjang satu sama lain, hingga sebuah radio mampu mengudara dengan baik dan dikenal dengan ciri khas, maupun segmen/genre tertentu oleh pendengar setianya.

Apa sajakah posisi itu?

1.  Newscaster

Tidak semua radio menyediakan vacancy as newscaster.  Sebab tidak banyak juga radio menyelipkan slot news dalam program siarannya.  Sementara kebijakan di beberapa radio yang menyajikan berita dan informasi, posisi ini biasanya dirangkap oleh penyiar itu sendiri.

Baca juga : sekilas-cerita-seputar-jurnalisme-radio

Newscaster radio adalah petugas yang membacakan informasi dan berita layaknya penyiar berita di TV. Bedanya penyiar berita radio lebih dinamis karena bisa mengudara di manapun ia berada, tak tergantung tempat dan penampilan. 

Yang dibutuhkan dari seorang newscaster radio adalah performa suara yang prima, aksentuasi dan intonasi yang jelas, sebab kekuatan suara menjadi faktor utama tersampaikannya berita di telinga pendengar.

2.  Scriptwriter

Tidak banyak orang tahu bahwa kadangkala seorang penyiar sebelum masuk ruang siaran dibekali dengan naskah siaran.  Penyiar umumnya dipandu mengenai informasi seputar tema yang diusung  hari itu.

Baca juga : asiknya-jadi-scriptwriter-radio

Siapa yang berperan dalam penyedia informasi? Scriptwriter tentunya.  Seorang penulis naskah siaran bekerja menuliskan script yang akan mengudara sesuai dengan tema dan segmen acara.

Pada dasarnya penulis naskah siaran berbeda dengan menuliskan berita di koran, membuat cerpen atau cerita fiksi.  Menulis untuk radio adalah menulis untuk telinga.  

3.  Operator siaran

Umumnya radio mempekerjakan operator siaran sebagai pendamping tugas penyiar.  Tugas operator antara lain menjalankan program siaran mendampingi penyiar, mengangkat telepon dari pendengar dan menyambungkan dengan ruang siaran, serta menyiapkan ruang siaran setiap pergantian acara.  

Skill yang dibutuhkan untuk seorang operaror siaran adalah kecepatan tangan menggunakan mixer siaran dan kemampuan menguasai komputer khususnya program siaran.

4.  Music Director/MD dan Programmer

Harus diisi oleh orang yang memiliki sense of music yang bagus dan menguasai sejumlah software khusus untuk radio misal megamix, audio streaming, Presonus studio one, audacity dll. Punya pengetahuan yang luas seputar penyanyi/pemusik yang membawakan lagu atau instrumen, jenis musik, beat, bahkan sampai latar belakang dan sejarah perjalanan penyanyi atau album yang di rilis. 

Seorang MD dan programmer sangat berperan dalam menentukan program dan warna musik yang diputar di radio.  Keduanya terkadang membantu team produksi membuat iklan, memberikan ide backsound musik yang cocok di mix dengan recording suara penyiar (voice offer).

5.  Traffic Siaran

Traffic adalah orang yang bertanggung jawab dalam mengatur lalu lintas iklan dalam sebuah segmen acara.  Tim traffic berkuasa penuh memasukkan jeda iklan yang sudah direkam dan menyelipkannya di timing yang sesuai dengan perjanjian dengan pengiklan.  

6.  Kepala Siaran 

Adalah orang yang ditunjuk untuk mengepalai urusan siaran radio.  Semua kepentingan program on air, baik dalam menentukan content acara, narasumber, jadwal siaran dan penyiar yang bertugas adalah tanggung jawab penuh kepala siaran.

7. Penyiar/announcer

Dialah ujung tombak siaran radio.  Tanpa penyiar sebuah program terasa kosong kehilangan ruh.  Namun untuk menjadi seorang penyiar juga tak sembarangan, dibutuhkan skill kecakapan berkomunikasi dan wawasan yang luas tentang banyak hal.  

Penyiar profesional biasanya menyiapkan diri dengan banyak membaca dan mencari informasi seputar topik yang akan disiarkan.

Di beberapa stasiun radio, job desk seorang penyiar biasanya merangkap sebagai dubber iklan maupun newscaster.

8. Staf Produksi

Isinya adalah orang-orang kreatif yang piawai membuat berbagai efek suara, jingle, maupun iklan produk tertentu.   Sama halnya dengan MD dan programmer, staf produksi harus mahir menggunakan software khusus radio dan peralatan siaran.

Tak jarang para staf produksi bersama, MD, scriptwriter dan penyiar harus bekerjasama dan berpikir keras tentang content iklan yang akan tayang sesuai pesanan pemasang iklan.

***

Kenangan semasa mengudara dg kru @ YudhistiraFM dan @MQFM Lampung




Kesemua komponen siaran harus saling terintegrasi dengan baik agar menghasilkan program unggulan dan layak dengar.

Nah itu tadi 8 posisi penting yang sangat mempengaruhi siaran on air sebuah radio.

Kalian tertarik untuk mencoba job yang mana?




Selasa, 10 September 2019

Bagaimana Memancing Minat Baca Anak


"Bunda komik Adek habis, beliin lagi doong!" rengek si bungsu sore itu.

"Memang yang kemarin sudah dibaca semua?"

"Udah langsung selesai, Nda. Lagian bunda beli cuma dua."

Sayapun terkekeh malu, maklum emak-emak, harus pinter mengatur keuangan dari sekian banyak pengeluaran rumah tangga.

Jujur saja, dahulu kadang budget beli buku nggak termasuk dalam skala prioritas meski pada dasarnya saya suka membaca. Saya pikir zaman kekinian gak harus pegang buku, jendela dunia sudah teralih ke google, wattpad dan banyak komunitas menulis yang menyuguhkan bacaan gratis.

Namun belakangan melihat minat baca anak yang lumayan tinggi, terutama si bungsu.  Tanpa sadar setiap bulan seolah jadi kebiasaan meminta jatah bacaan baru.

Satu dua kali diajak ke perpustakaan daerah, akan tetapi sayangnya perpusda tutup kalau minggu. Sedangkan sabtu hanya beroperasi setengah hari. Agak susah bagi saya mengatur waktu ke sana. Maka tiada alternatif pilihan lain selain membeli.

Menumbuhkan minat baca pada anak itu mudah namun gak bisa instan.  Dibutuhkan komitmen panjang orang tua tak hanya sekedar menyediakan buku, lalu seketika anak tertarik.

Berdasarkan pengalaman diri, ada beberapa hal yang membuat anak tertarik untuk membaca;

1.  Orang Tua yang Tak Pelit Membeli Buku

Jadi ingat pengalaman diri kenapa suka sekali baca, sampai-sampai pernah dijuluki teman sekolah "si kutu buku".

Yang jelas emak saya dulu tipikal ibu yang nggak pernah itung-itungan uang saat saya ingin membeli buku bacaan di luar buku pelajaran sekolah. Nah, ini yang saya adobsi dari beliau.

Tiap kali saya meminta, emak dengan mudahnya merogoh kocek pribadi.  Dulu dia sering bilang, lebih suka melihat anaknya membaca ketimbang kebanyakan jajan nggak jelas. Karena buku jendela ilmu.

Padahal aslinya emak saya bukan pelalap buku lho. Dia hanya sekedar memfasilitasi, namun tidak pernah mencontohkan sehari-hari kalau beliau juga penyuka bacaan.

Kemudahan ibu makin membuat saya dengan entengnya memilih berbagai buku bacaan yang saya suka. Komik Asterik, popeye, petualangan 5 sekawan, Tin Tin, Smurf sampai Majalah Bobo sejak kecil sudah menjadi teman bacaan sehari-hari.

2.  Teladan Membaca

Kalau ini saya terapkan pada anak-anak saya.  Bukankah anak itu peniru ulung? Mereka itu kerap kepo dengan apa yang dikerjakan orang tuanya, tak terkecuali apabila saya memegang HP begitu lama, atau tenggelam dalam sebuah bacaan seru.

Si sulung saya sering sekali menanyakan ringkasan bacaan yang membuat saya terpekur lama dan sesekali mengabaikan mereka.  Dibandingkan sang adik dia memang tak seantusias dan setelaten adiknya dalam menekuni lembar demi lembar halaman buku.

Meski capek apabila dia meminta diceritakan ringkasan sebuah buku kebanyakan permintaannya saya turuti. Sesekali saya memang memperlihatkan sikap terganggu.  Lama kelamaan akhirnya si sulung mulai mengerti dan memilih membaca sendiri. Setidaknya dalam sebulan beberapa komik masih dibaca tuntas apabila bosan bermain di luar rumah.

3.  Mendongeng

Membacakan dongeng ternyata juga punya andil meningkatkan minat baca anak. Sejak balita anak-anak kerap saya bacakan dongeng pengantar tidur.  Jadi wujud sebuah buku sejak kecil memang sudah dekat dengan kehidupan mereka sejak dini.

Dulu sedari kecil anak-anak sudah antusias menikmati lembar demi lembar gambar yang menarik rasa ingin tahu mereka.  Setelah pandai membaca dan bertambahnya umur perlahan minat buku juga berubah dari dongeng fabel atau fiksi dengan 16-36 halaman dan didominasi gambar, kemudian meningkat ke komik dan novel anak.

4.  Sering ke toko buku dan memberi hadiah buku

Meski jalan-jalan ke mal sangat sering dilakukan, saya kerap mengajak anak-anak berbelok ke toko buku yang ada di sekitar mal. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, sehingga lama kelamaan mereka jadi ikut enjoy dan antusias mencari bacaan sendiri tiap kali melangkahkan kaki ke sana.

Apalagi kalau sebelumnya buku saya jadikan sebagai imbalan kebaikan atau prestasi yang mereka lakukan. Sudah pasti anak-anak tak sabar menunggu untuk mendapatkan hadiahnya.

Dibandingkan mainan saya memang kerap menawarkan alternatif hadiah buku, alasannya karena buku nggak mudah rusak dan ilmunya terus terpatri di dalam kepala. Belakangan membaca menjadi kebutuhan bukan sekedar hobi belaka.

Selain itu saya juga kerap mencekoki mereka dengan pemikiran bahwa membeli buku juga berarti investasi akherat, sebab kalau bosan bisa diwariskan kepada orang lain, dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Tentu saja jika bacaannya bermanfaat.

***

Segitu dulu ya cerita saya seputar menumbuhkan minat baca anak.  Kalau emak punya pengalaman lain, silahkan dibagi di sini ... Supaya kita semua makin semangat mendekatkan anak-anak dengan buku.


Senin, 09 September 2019

Trik Menghalau Bosan Saat Mengantre



Hallo again emak-emak dumay ...!
Sedang ngapain, 'kah? Mudah-mudah nggak sedang antre menunggu seperti halnya saya saat ini.

Berada dalam barisan antrean biasanya menjemukan. Apalagi jika nomor antre yang diterima diangka yang besar, kebayang semua orang pasti dilanda rasa bosan.

Seperti halnya saya hari ini harus dua jam spending time menunggu nama dipanggil untuk pemeriksaan kesehatan. Sttt ... Ada masalah apa kah saya? Rahasia..., insyaAllah bukan masalah besar.

Sebetulnya banyak hal yang bisa dikerjakan di tengah keramaian antrean sebagai upaya menghalau jemu.

1. Main HP
Hidup di zaman kekinian biasanya orang selalu membawa HP ke manapun ia pergi.  Nah, gadget sangat membantu mengurangi rasa bosan saat menunggu giliran sebuah urusan.

Tapi berhubung saya gak suka bermain game, maka yang saya kerjakan biasanya;
-Mengintip koleksi buku bacaan di Wattpad
-Buka portal berita
-Cek notifikasi FB ataupun WA
-blogwalking atau berkunjung ke blog para sahabat

2.  Corat-coret Sketsa
Karena dunia gambar juga bagian dari hobi, biasanya saya kerap membawa buku sketsa mini dan pensil gambar.  Cukup cari tempat yang nyaman di pojokan, biasanya saya mudah tenggelam dalam imaginasi sendiri. Saking asyiknya, kadang-kadang baru terjaga saat nama or nomor antrean dipanggil, he he ...

3.  Baca buku
Sebagai orang yang anti ribet, jujur saja sebenarnya saya bukan orang yang rajin membawa stok bacaan di dalam tas saat bepergian. Bagi saya cukup dengan HP saja, semua hal sudah komplit di genggaman termasuk membaca.

Biasanya buku bacaan memang benar-benar sengaja dibawa saat saya harus mengantre lama atas suatu hal.

4. Ngajak ngobrol orang lain
Saat bosan menunggu, ada baiknya membuka pembicaraan dengan orang lain.  Basa-basi awal mungkin terasa canggung, namun gak mustahil ketika dicoba kita justru mendapatkan kenalan baru.

Meski demikian beware ya mak, tetap waspada jangan mudah juga menaruh kepercayaan pada orang yang baru di kenal.

5. Cari cemilan
Ini nih favorit saya haha ... Kalau bosan mata biasanya jelalatan cari tempat yang jualan cemilan.  Kalau memang pengen cari sesuatu untuk memamah biak,  sebaiknya jangan berlama-lama khawatir ketika giliran malah nggak mendengar.

6. Jalan-jalan di sekitar lokasi antre
Biar gak pegal duduk, sesekali berdiri dan renggangkan otot dengan berjalan sekitar tempat duduk. Jangan kayak orang olah raga tapi ya, santai aja. Supaya gak mengganggu pengantre yang lain.

7. Denger musik or murotal via headset HP
Ada baiknya bawa headset or earphone yang bisa disambungkan dengan HP. Tatkala bosan bisa digunakan untuk mendengarkan musik kesukaan atau murotal, tanpa mengganggu orang lain. Syaratnya ya jangan ikutan nyanyi or ngaji yang kenceng seolah dunia milik sendiri.

8. Menulis
Nah ini seperti yang saya lakukan sekarang. Menulis. Tuliskan apa saja yang terlintas di kepala bisa melalui note di HP atau buku catatan. Atau setidaknya buat dulu coretan berupa outline untuk tulisan yang nantinya akan kita selesaikan di lain waktu.

***

Gak semua mungkin bisa ditiru karena tentu saja kita punya hobi yang berbeda, tapi setidaknya satu dua tips yang saya berikan mungkin bisa dijadikan sebagai alternatif pilihan.

Semoga bermanfaat ya, Mak! 

Minggu, 08 September 2019

Perjalanan Hijrah Seorang Mega


Sekitar tahun 1998 tepatnya ketika memasuki kuliah semester tiga, di ramadhan hari pertama tahun itu adalah momen bersejarah dalam peristiwa hijrahnya saya secara syu'uriyah-gaya berpakaian. Hari itu adalah tonggak awal saya melangkahkan kaki ke kampus dengan mengenakan hijab.  Sempat menangkap keterkejutan beberapa pasang mata melihat saya kala itu. Geli sendiri kalau diingat kembali.  Harap maklum, image saya sebelumnya adalah mahasiswi tomboi, yang kerap bergaya cuek sering berkemeja atau berkaus oblong dan bercelana jeans layaknya lelaki.

Satu dua teman ada yang bertanya-tanya sebab apa yang membuat saya berhijrah? Duh, malu rasanya kalau mengakui dengan jujur. Niatan awalnya memang kurang lurus. Saya ingat betul keinginan kuat menutup aurat pertamakali justru sebenarnya didasari oleh naluri meredam kekhawatiran emak saat melihat anak perempuannya berpenampilan cenderung tomboi.  Jujur, pusing diomeli terus tentang kekhawatiran kalau anak gadis satu-satunya ini gak bakalan dapet jodoh karena casingnya yang meragukan. 😂

Selain itu, kesadaran akan perintah ayat yang terkandung dalam An Nur 31, dan Al Ahzab 59 sebenarnya sudah nyangkut di kepala hanya saja belum dikaji tuntas.  Ini tercermin dari gaya hijab yang dikenakan saat itu yang masih alakadarnya sebatas pembungkus tubuh.

Nggak ada cerita dramatis seperti ancaman dari orang tua yang gak setuju saya berhijab atau touching moment saking ingin berhijab sampai pinjem kerudung teman or menunggu sahabat yang iba lalu menghibahkan pakaian panjangnya, sebab bisa dibilang saya sudah well prepare sebelum menentukan hari bersejarah itu. 

Cobaan pertama muncul usai kelulusan, ketika suatu hari mengikuti tes wawancara di sebuah maskapai penerbangan di Jakarta. Sang interviewer terang-terangan meminta kesedian saya melepas hijab jika bergabung dalam tim kerjanya. Dengan kemarahan yang menggunung saya memilih keluar dari kantor itu sebelum memulai kontrak kerja. Sempat kecewa berat, merasa sia-sia meluangkan waktu, menghabiskan biaya dan tenaga untuk memenuhi panggilan interview yang hasilnya mengecewakan, andai mereka tahu saya harus menyeberangi selat sunda demi posisi yang saya incar.

Sempat terpuruk lama dan menyimpan kesal di dalam hati karena ibu sendiri kerap meminta saya melepas kerudung demi pekerjaan.  Alasannya sejak peristiwa wawancara menyebalkan itu, berkali-kali pula saya menemui kegagalan di sejumlah tes dan interview kerja berikutnya.  Menurutnya, hijab mungkin sumber masalahnya. Waktu itu penggunaan hijab memang belum merebak bahkan jadi trend mode seperti sekarang.  Emak sempat beropini, kalau saya kekeuh mau berhijab tak mengapa, toh bisa di luar jam kantor saja. Yang penting keterima kerja dulu, setidaknya meringankan beban orang tua.  What!? Hijab kok kayak portal, buka tutup sesuai keperluan. No, saya gak mau.  Dalam hal ini kami sempat tak sejalan.

Saya tidak mutlak menyalahkan emak, sebab memang pemahamannya masih sebatas itu.  Namun keyakinan saya kuat, ingin membuktikan diri kalau janji Allah pasti.  Dia akan memberikan jalan keluar terbaik.

Akhirnya Allah ijabah doa saya dengan diterimanya saya bergabung di Radio MQFM Bandar Lampung selang beberapa bulan sesudahnya.  Seperti menemukan oase di padang pasir, di sinilah tempat yang memuaskan dahaga akan ilmu agama dan lingkungan kerja yang islami.

Meski begitu, naluri as a rebel masih tersisa.  Kerapkali saya mengabaikan sindiran beberapa krew lain yang mengkritik penampilan saya ke kantor yang masih menarik jilbab ke belakang, mengenakan celana jeans tanpa berkaos kaki.  Bagi saya kala itu, that's my style. Pekerjaan hanya butuh sikap profesional dan kedisiplinan, sementara penampilan gak ada hubungannya dengan etos kerja.

Namun, jabatan fulltime as scriptwriter membuat saya hampir setiap hari berkumpul di lingkungan yang selalu mengingatkan akan kebaikan,  menuliskan tentang tsaqofah islam baik dalam hal hukum fiqih, muamalah, dunia islam, shiroh nabawiyah, dsb perlahan menggeser hati yang keras, ibarat batu yang diteteskan air setiap hari.  Pelan-pelan sudah mulai mengenakan khimar menutupi dada, dan sesekali menggunakan rok (masih 2 pieces).

Proses terus berjalan, suatu ketika mantap berhijab syari meninggalkan celana jeans menggantikan isi lemari dengan gamis lurus satu potongan panjang dan kaus kaki, ketika sudah resign sebab menikah dan mengikuti suami bertugas.

Saat itu ketika stay di Depok, suami yang kebetulan dipertemukan Allah dengan cara yang ajaib, ujug-ujug datang ke Radio MQFM tanpa taaruf tetiba mengingatkan, "kok jilbab dan kerudung kamu semakin pendek setelah menikah? Gak kayak di MQ waktu saya kenal setidaknya pakai rok dan khimar menutupi dada".

Setelah Pak suami bilang begitu sempet interospeksi diri, memang sih ... sejak keluar dan gak bekerja secara penampilan saya jadi cuek lagi.  Bukan dalam artian lepas total, tetapi mengalami kemunduran karena kembali mengenakan jilboobs.

Banyak-banyak istigfar-lah saya setelah itu dan merasa beruntung telah diingatkan.  Selepasnya, sayapun mencoba meluruskan niat lagi betul-betul menggunakan hijab syari atas dasar perintah Allah, demi kebaikan diri sendiri, meringankan beban suami, ayah, anak lelaki dan abang tercinta dalam hidup saya.

Setelah kesadaran dalam hal berpakaian sesuai aturan Allah menjadi kebiasaan, belakangan muncul keinginan baru, kapan hijrah secara fikriyah saya dapatkan?

Sepertinya harus secepatnya ... seiring keinginan untuk terus belajar dan belajar. 😊😊

Sabtu, 07 September 2019

Belajar dari Kisah Yukabid, Ibunda Musa As

Setengah sembilan pagi saya bersiap untuk menghadiri kajian muslimah yang di sampaikan oleh pemateri berskala nasional Ustazah Hafizhahullah Halimah Alaydrus di Masjid Ad-Dua Wayhalim hari ini.  Sepintas sempat terselip keengganan karena materinya mirip dengan apa yang disampaikan pada pertemuan sebelumnya di tahun lalu.  Masih seputar kisah "Bidadari Bumi".

Namun saya coba meluruskan niat, meski mungkin kisahnya tak jauh beda dengan pertemuan terdahulu anggap saja refreshing ilmu, belum lagi membayangkan besarnya pahala duduk di dalam majelis yang tentunya tak sama jika hanya menyimak di live streaming ataupun penggalan video di medsos.

Yang saya ingat di pertemuan yang lalu, banyak ilmu yang bisa diserap dari kisah yang mengalir apik dari tutur katanya yang khas.

Tepat pukul 09.00 acara dibuka oleh pembawa acara dilanjutkan dengan pelantunan ayat suci Al-Quran. Tak berapa lama, akhirnya sosok wanita salehah kelahiran Indramayu, yang juga pernah mengenyam pendidikan di kota Tarim, Hadramaut, Yaman dan telah menelurkan beberapa buku di antaranya Bidadari Bumi, Pilar Cahaya, Tutur Hati itu mulai menyapa para jemaah.

Banyak nama wanita salehah yang diurutkannya dari zaman ke zaman.  Bahwa hakikatnya bumi ini tak pernah kosong, selalu diisi oleh para hamba Allah yang dicintaiNya, tak hanya pria tetapi juga wanita. Sebagai contoh dari kalangan wanita, sosok bidadari bumi diduduki oleh Ibunda Hawa, Siti Hajar, Asiyah istri Firaun, Yukabid, Maryam, Ummul Mukminin Khadijah, Aisyah Ra, Fatimah, Ummu Sulaim ... dst berlanjut hingga ke generasi sekarang meski mungkin kita tak melihat sendiri dan mengetahui keberadaan mereka saat ini.

Satu terselip nama yang mungkin sedikit asing dari pendengaran kita ialah sosok Yukabid, ibunda nabi Musa As.

Kisah itu kemudian mengalir indah hingga saya sempat berkaca-kaca dan kemudian melupakan keengganan yang sempat melintas.  Pertemuan kali ini sungguh membawa kisah yang berbeda, meski satu tujuan yakni memberi inspirasi dan teladan bagi para mukminat.

Arti Tawakal  Sesungguhnya dari Sosok Yukabid

Beliau adalah ibunda nabi Musa As yang memiliki keteguhan iman yang kuat kepada Allah SWT.  Kisahnya diabadikan dalam Al-Quran di sepanjang surat Al Qasas.



Dituliskan, Raja Firaun yang terkenal zalim kala itu menjatuhkan sebuah titah pada seluruh negeri untuk membunuh semua anak laki-laki yang terlahir di tahun kala ia memerintah kerajaan.

Pengumuman ini didasari oleh sebuah mimpi yang dialami Firaun  sendiri di mana yakni kekuasaannya kelak akan jatuh di tangan seorang anak lelaki biasa.  Maka, sejak perintah itu jatuh, para prajurit kerajaan menyisir seluruh penjuru negeri dan membunuhi satu per satu bayi lelaki yang lahir.

Yukabid yang kala itu baru saja melahirkan Musa telah mendengar kebijakan sang raja zalim.  Hampir setiap hari ia menggendong Musa dengan berlinang air mata dan memohon kepada Allah untuk melindungi anaknya dari para tentara kerajaan.

Suatu hari, dari kejauhan derap langkah kaki kuda para pengawal kerajaan mendekat, hati Yukabid cemas bukan kepalang.  Kemudian datang ilham dari Allah untuk memasukkan musa di kuali besar berisi air di atas kayu bakar yang menyala. Yukabid dengan keyakinan yang teguh akhirnya memasukkan si kecil Musa dan menutupnya.

Para tentara tiada yang mengira Yukabid menyembunyikan sang anak di atas tungku yang menyala dan berlalu.  Keajaiban pertama terjadi.  Bayi Musa selamat dari pembunuhan. Rasa syukur menyeruak di dada sang ibu.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, Yukabid kemudian didera kegelisahan baru. Bahwa cepat atau lambat berita tentang anak lelakinya tentu akan sampai ke telinga sang Raja.  Yukabid kembali berdoa kepada Allah memohon petunjuk berikutnya akan keselamatan anaknya.

Ilham kedua diterima, Allah memerintahkan Yukabid untuk menghanyutkan bayinya ke sungai Nil.  Ibu mana yang tak bersedih hati, ketika harus berpisah dengan darah dagingnya? Meski begitu, Yukabid percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung.  Suatu hari dihanyutkannyalah Musa di dalam sebuah keranjang.

Dari kejauhan Yukabid meminta anak perempuannya yakni kakak Nabi Musa mengawasi jalannya keranjang menyusuri sungai dari kejauhan.

Ternyata, di sinilah keajaiban Allah kembali terjadi.  Keranjang berisikan bayi Nabi Musa berhenti di sekitar istana kerajaan Firaun, tepatnya ditemukan oleh Asiyah permaisuri raja. Kala itu Asiyah belum dikaruniai keturunan.

Meski akhirnya keberadaan bayi itu diketahui Firaun dan hendak dibunuh dengan pedangnya, Asiyah mampu meredam ketakutan Firaun akan mimpinya. Bujuk rayu seorang Asiyah tertuang dalam ayat di bawah ini.

Firaun pun melunak, akhirnya ia mengabulkan permohonan Asiyah untuk merawat bayi Musa.

Keajaiban tersebut tak hanya berhenti sampai di sana.  Setelah beberapa hari dirawat, bayi musa tak mau menyusu pada siapapun.  Hingga Asiyahpun  kemudian membuat sayembara kepada seluruh wanita yang tengah menyusui bahwa siapa saja yang bisa menyusui Musa akan diperbolehkan tinggal di istana dan dipenuhi kebutuhannya.

Bergegas saudara perempuan nabi Musa kemudian meminta sang ibu, Yukabid untuk datang ke istana dan mengikuti sayembara.

Akhirnya Allah pun mengembalikan sang anak dengan cara yang menakjubkan kepada pangkuan sang ibu yang salehah dengan cara yang tak disangka-sangka.

Selanjutnya kisah nabi Musa hingga ia dewasa dan menghancurkan kekuasaan Firaun mungkin sudah sangat familiar kita dengar di dalam shirah nabi Musa As yang termasyur.

***

Dari kisah yang dituturkan, terdapat banyak ibroh (hikmah) tersirat yang bisa dijadikan teladan dalam kehidupan para ibu masa kini.

Bahwa menjadi wanita mulia diperlukan 3 kriteria yakni;

1. Ilmu
Ibadah tanpa ilmu cenderung sia-sia.  Yukabid mungkin tak memiliki ilmu dunia yang mumpuni, namun melihat caranya berserah diri kepada Allah, tentu membutuhkan tingkat makrifatullah yang tinggi yang sulit terjangkau logika dan akal manusia pada umumnya.

Taat tanpa tapi, taat tanpa banyak bertanya. Itu yang diajarkan ibunda nabi Musa As tersebut.  Ketetapan yang Allah beri sangat diyakini sebagai jalan keluar terbaik, meskipun sulit diterima akal manusia.

2. Ibadah
Dari caranya selalu meminta petunjuk kepada Allah dalam setiap kesulitan menunjukkan teladan bahwa Yukabid selalu melibatkan Allah dalam setiap masalah dan pengambilan keputusan.  Bentuk dari ibadah itu tiada lain dari doa kepada Allah dalam setiap keadaan.

3. Akhlak
Ilmu, ibadah yang baik dan benar selalu menghasilkan akhlak yang mulia.  Salah satunya adalah kesabaran dan keyakinan akan kuasa Allah meliputi apapun yang terjadi di muka bumi.  Tidak ada satu hal pun yang luput dari pengawasan Allah.

Selain itu, belajar dari kisah Yukabid bahwa Allah senantiasa membalas akhlak terpuji setiap manusia sebagaimana janjinya yang tertulis di dalam Al Quran Nur Karim. Begitupun sebaliknya.


Semoga para perempuan khususnya yang telah menjadi ibu, bisa memetik hikmah dari perjalanan kisah Yukabid dan meniru selangkah demi selangkah ketaatan sebagaimana ibunda sang nabiullah, tak terkecuali saya. Aamiin.




How to Face the Hectic Situation

Source : google Pernah ngalami pagi yang hectic mak? Emang arti hektik apaan, ya? Kayaknya sering baca dan denger istilah itu di perc...

Terpopuler