Sabtu, 10 Agustus 2019

"Eugene" Rewrite, Cinta Sejati Takkan Pergi Disaat Masa Terburuk Menyapa


Siapa yang penasaran dan sangat menunggu buku ini brojol? Ngacung! Hehehe ...

Mba Ellya Ningsih sang penulis memang sempet bikin heboh kancah literasi beberapa waktu lalu di Komunitas Bisa Menulis  (KBM) khususnya emak-emak dumay.  Cerbungnya yang berjudul "Elena" sangat dinanti, bahkan ketika dinovelkan laris manis bak kacang goreng.  Sebagai new comer, langsung menelurkan karya best seller yang menyentuh angka penjualan hingga puluhan ribu eksemplar itu ... amazing!

Meski nggak bisa dipungkiri kehadiran Elena, tidak hanya menuai pujian, namun juga kritik dan cibiran.  Bagi saya pribadi bukan masalah. Ketika sebuah karya dipublish dan dibaca banyak orang, ia mutlak sudah menjadi milik semua orang.  Apapun tanggapan pembaca cukup dijadikan masukan positif untuk terus melecutkan semangat berkarya.  Toh, tulisan akan selalu menemukan jodoh pembacanya sendiri, Ya 'kan?

Nah, "Eugene" adalah sekuel dari novel "Elena".  Ceritanya masih seputar cinta segitiga antara Elena-Ibnu-Eugene.

Apa sih yang menarik dari novel ini? Bukankah tema cinta segitiga itu topik usang yang konfliknya terus berputar dari peristiwa yang itu-itu saja?  Mmm... Elena-Eugene itu beda,  sarat akan nilai-nilai religius yang bisa dijadikan cermin dalam berumah tangga.

Oke, bagi sebagian pembaca dan penulis mungkin ada yang mencibir, "berasa gak beda dengan membaca buku fiqih islami". Maybe karena di dalamnya gamblang memuat kutipan hadist,  ayat, bahkan lafadz doa tertentu yang seolah diucapkan oleh tokoh di dalamnya. Saya pikir gak begitu juga sie, karena buku fiqih 'kan sama sekali gak menggelitik imaginasi dan meledakkan fiksi pembaca.  Masalah sang penulis memilih memasukkan 'plek' unsur dakwah dengan jelas, ya karena beliau ingin pembacanya benar-benar mendapatkan ilmu dari buku yang ia tulis, bukan sekedar menghibur.

Terlepas dari itu semua begitulah seninya berdakwah.  Kontroversi itu biasa, saya yakin ini tak menyurutkan ghirah Mba Ellya dalam menulis.


Cinta sejati takkan pergi dikala masa terburuk menyapa

Bab-bab awal buku ini lebih menggambarkan tentang pergolakan hati seorang Eugene dalam menerima takdir menjadi pria yang tak terpilih. Kilatan-kilatan romansa yang pernah dialaminya bersama Elena terus berputar di ingatan.

Dalam buku sebelumnya, diceritakan bahwa Elena memilih mempertahankan rumah tangganya dengan Ibnu, rela dipoligami meski dalam rumah tangga mereka telah hadir Al, anak hasil kekhilafannya bersama Eugene.

Seiring waktu berjalan, Elena mulai terombang-ambing dalam dilema hidup diduakan sementara tubuhnya mulai digerogoti penyakit serius yang membutuhkan biaya tak sedikit. Hingga di satu titik, Ibnu mengalami musibah bisnisnya bangkrut namun Adinda istri barunya, didapati tengah hamil muda.  Hati Ibnu perlahan lebih cenderung pada Adinda.  Elenapun mulai merasakan haknya untuk mendapatkan perhatian dan curahan kasih sayang sebagai istri kian terampas, sementara secara ekonomi ia membutuhkan tulang punggung keluarga untuk menghadapi takdir penyakitnya.  Seikhlas apapun berusaha menerima keadaan, akan tetapi wanita mana yang bisa menahan api cemburu? Bahkan seorang Aisyah, ummul mukminin saja mampu membuat matang sebutir telur digenggaman.

Sementara itu di tempat berbeda, Eugene, sang muallaf berkebangsaan Kanada yang pernah menemukan cinta dalam kebaikan budi seorang Elena berusaha meneruskan hidup dan belajar menghapus bayang-bayang wanita itu.  Eugenepun akhirnya menjalin hubungan baru dengan Keiko, wanita berdarah Jepang yang memiliki raut dan karakter mirip Elena.

Sosok Adinda, Hisyam, dan Al juga tetap hadir sebagai penguat alur cinta. Tak pernah ketinggalan Abah dan ummi yang selalu muncul sebagai tetua bijak dengan segudang ilmu dan kebijaksanaan, seolah tak pernah kehilangan kata-kata dalam memberi nasehat.

Akankah Elena melepas cinta Ibnu dan menyerah dengan penyakitnya? Bagaimana pula nasib Al anak hubungan gelap Elena-Eugene? Lalu Eugene sendiri apakah ia benar-benar bisa membuka hati dengan Keiko, cinta barunya?

You better read this book. Hehehe

***

Dari kacamata penulisan, gaya bertutur mba Ellya tetap sama dalam sekuel Elena ini.  Alur cerita dan plot masih sedikit mudah ditebak, meski tak selambat Elena.  Namun tetap saja, keistimewaan buku ini di mata saya terletak pada penekanan sisi dakwahnya. Bukankah amal jariyah memang muara terbaik yang ingin dicapai seorang penulis yang mengerti betul hakikat dalam menggoreskan kata?

So, silahkan melirik "Eugene" untuk menemani weekend kamu kali ini.



Judul : Eugene, Rewrite
Penulis : Ellya Ningsih
Penerbit : Mizania
Jumlah hal : 448
Cetakan      : Juli 2019
Harga         : 95.000








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler