Gadget dan Anak, Tidak Sama Sekali atau Cukup Dibatasi?

Search This Blog

Thursday, December 5, 2019

Gadget dan Anak, Tidak Sama Sekali atau Cukup Dibatasi?



Hi Mak, apa kabar hari ini?

Salah satu problem dilematis emak-emak kebanyakan tak terkecuali saya adalah pengaruh gadget pada anak. Beneran, sudah lama ingin nulis ini ... Tapi secara mental gak siap kalau berdebat, walau akhirnya memberanikan diri juga.

Jujur, saya tipikal emak yang rada kurang setuju sebenarnya dengan tidak sama sekali memberikan gadget pada anak. Alasannya karena saya sendiri adalah seorang ibu yang gak bisa kasih teladan nyata, hidup jauh dari HP.  Gadget selalu nempel ke mana saja saya pergi sebab tuntutan profesi.  Sementara dalam hal ini anak-anak adalah peniru ulung, di samping tantangan zaman memang sudah eranya digital.

Anak- anak saya saat ini duduk di kelas 3 dan 5 SD.  Mmm... riilnya belum ada yang saya belikan gadget pribadi sie, jadi ... kalau mereka mau pakai ya pinjam dari saya. Sudah kerap menuntut karena teman-temannya kebanyakan punya HP sendiri, *katanya ... Tapi saya masih bergeming.  Sebab, mereka belum menunjukkan tanggung jawab sesuai standar saya, meski alasannya untuk komunikasi sekalipun. Toh, kalau alasannya cuma buat nelpon untuk anter jemput, emake ibarat ojek yang siap 24 jam. Silahkan pinjem HP ustadz atau sekolah kalau cuma buat menghubungi saya.

Soal durasi peminjaman, ini yang kadang masih sering diperdebatkan.  Satu sisi secara langsung mencontohkan diri sebagai pecandu teknologi.  Ya harap maklum emak kalau udah nemu bacaan asyik, nulis atau menggambar digital bisa lupa waktu. Sementara mati-matian membatasi mereka juga bakalan kebentur protes panjang, tak jarang disertai ngambek plus mewek. "Bunda sendiri begitu, bla... bla...." 

Ngalah, nunggu mereka sekolah, tidur atau gimanalah pokoknya jangan pegang gadget kalau mereka ada di sekitar. Sesekali bisa diterapin, tapi gak bisa total apalagi kalau diburu kerjaan. Padahal, di satu sisi, saya pikir semua ibu punya kekhawatiran yang sama, yakni lebih ke worry anak-anak kecanduan game atau melihat sesuatu yang dimurkai Allah jika mereka berlama-lama pegang HP. *Pornografi

Nah, buat saya pribadi solusinya gimana? Kalau sampai sekarang, untuk konsisten masalah berapa lama mereka pakai HP memang masih terus berproses. Kadang cuma 10 menit, bisa setengah jam atau lebih. Tergantung mereka mau buka apa atau pinjem HP untuk keperluan apa? Sementara saya sendiri sedang menggunakannya atau tidak? 

Hanya saja sebagai ibu, saya juga gak pernah bosan memberikan warning sembari memberi contoh ;

Be Creative! Cari kesenangan yang membuatmu melakukan sesuatu yang bermanfaat.  Kata kuncinya, teknologi adalah pisau bermata dua, tergantung siapa yang menggenggamnya. Simple example dalam doktrin saya; jika kamu mau jadi hafidz quran ...inovasi teknologi juga perlu dilakukan semisal silahkan mendownload Al Quran digital beserta audionya guna mempermudah menghapal.  Suka baca? ... coba buka web atau pasang aplikasi yang menyediakan bacaan bermutu. Ada wattpad, playbook, dll.  Hobi selfie, foto-foto or bikin video? Pelajari teknik fotografi sampai editing kalau perlu.  Seneng menggambar komik pun begitu, cari dan gunakan aplikasinya untuk mengasah potensi diri. Hobi menulis apalagi, silahkan kembangkan imajinasi. Intinya jangan cuma pegang HP hanya untuk bersosmed yang gak genah, main game dan nonton video lucu semacam tik tok yang minim manfaat. Demen berenang, gitar, melukis, anything, boleh buka youtube lihat video tutorial tekniknya.

Sudah bisakah mereka begitu? Lagi-lagi masih tahap belajar mak, saya sendiri aja masih ekstra bulak-balik ngintip apa yang dikerjakan saat mereka asyik bermain gawai dan cek history usai anak pinjem HP.

Fyi. HP saya tuh isinya aplikasi e-book, quran dan al matsurat, menggambar digital, soal-soal pelajaran SD, video editor, medsos dan program yang menunjang aktivitas saya dalam branding menulis semisal FB, IG dan WPS office. Kalau game pribadi gak ada, karena memang gak suka. Anak-anak saya perbolehkan download maksimal dua game per orang yang kalau mau diganti harus izin dan dicek dulu isinya.

Dalam bahasa berbeda, Better do something make you happy and spread the goodness ... sesuai kebisaan dirimu sendiri tentunya.  I said: Game gak secara nyata buat kamu makin pintar atau kreatif. Hanya bikin jarimu lincah bergerak, tapi rentan stress kalau obsesi menang belum tercapai. Kalau dari sisi agama, it wasting time, bagaimana jawaban diri di yaumil akhir nanti seputar pertanggungjawaban atas waktu?
Setiap udah merepet panjang gini, seasyik apapun mereka main game ... Lumayan ampuh bikin secepatnya balikin HP dengan suka rela.

Tanpa bermaksud menggurui, bagi saya memang mendingan memperkenalkan anak-anak dengan sesuatu yang memancing berpikir kreatif, inovatif menghasilkan karya yang bermanfaat untuk orang banyak ketimbang gak dikasih main sama sekali. 

Memangnya pegang gadget or main game gak ada sisi baiknya sama sekali buat anak-anak, mak? Bagi saya pribadi IYA, kalau membiarkan mereka pakai demi penggantian fungsi pengasuhan alias asal putra-putri kita anteng, lalu membiarkan bocah-bocah itu mengintip aplikasi yang gak ada sisi edukasi bahkan cenderung mengarah pada pornoaksi, pornografi dan game kekerasan.  Balik lagi sebagai ortu kita juga punya beban pertanggungjawaban amanah atas mereka, kan?

Lha kalau anak-anak terlanjur suka main game, piye? Mmm... Bagaimana kalau pelan-pelan emak mengarahkan kebiasaan sebagai gamer menjadi pembuat program/aplikasi? Saya kerap menyentil anak-anak dengan tantangan seperti itu. Sementara ini sih mereka nyerah, karena memang gak ada yang bisa ngajarin dan sepertinya feel-nya gak mengarah ke sana. Entah kalau next time anak-anak tetiba punya passion ke sana. Mungkin saya harus putar otak lagi untuk mencari solusinya, semisal mencari teman yang ahli di bidang itu untuk mengajari.

Thats why ... rules soal pemakaian gadget di rumah juga  terus berproses sesuai perubahan sikap mereka.

Kesimpulannya bagi saya pribadi, teknologi jangan total dimusuhi tapi manfaatkan untuk proses kreatif yang bermuara pada peluang menebar kebaikan. Intinya peran orangtua yang kudu aktif tanpa lelah dalam hal pengawasan dan mengarahkan.

Emak-emak mungkin punya pendapat berbeda?

Monggo, semuanya adalah pilihan, kan?


2 comments:

  1. Sepakat kak,tapi ni masalahnya yang suka main game paksu euy,unyung belum ada anak,jadi ya udah dwh silahkan.

    ReplyDelete
  2. Hehehe ... Ttp berguna jika suatu saat dikasih amanah anak. Semoga dimudahkan yaaa...

    ReplyDelete

Popular Posts

Viewer

Followers