Minggu, 29 September 2019

Dibuang Sayang, Menyikapi Lukisan Gagal


Resiko melukis secara otodidak tanpa didasari pengetahuan yang cukup seputar teknik menggoreskan kuas,  membuat langkah saya dalam hobi melukis banyak terkendala.

Karena memang menyenangkan bagi diri, intinya sih saya dalam melukis saya berusaha untuk tidak menyerah, terus berlatih sambil membaca beberapa teori dalam bentuk buku.  Belakangan saya juga kerap mengintip tutorial melukis di youtube.

Banyak lukisan gagal yang menurut kacamata saya gak layak dipajang, namun cukup sayang jika dibuang.  Masalahnya tak cuma mengingat ide dan waktu yang sudah diluangkan untuk menyelesaikanya, akan tetapi juga eman-eman dengan cat dan kanvas yang sudah terlanjur dipakai untuk mewarnai bidang gambar.  Hehe ... emak-emak medit judule, maklum hobi melukis itu gak murah (bagi saya).

Apa saja yang saya lakukan ketika lukisan terlanjur gak memuaskan atau salah menggoreskan warna?

Merevisi Lukisan

Ketika cat masih basah, sepanjang pengalaman pribadi masih bisa diakali dengan teknik ditimpah dengan warna lain atau di lap dengan tinner lalu dilukis ulang sesuai keinginan.

Masalahnya kalau lukisan sudah kelar dan cat terlanjur mengering, kemudian baru ditemukan kesalahan dikemudian hari ... ini yang agak susah.  Karena jika tambahan warna lain dipaksakan di atasnya akan mengurangi keindahan lukisan, cat susah kering bahkan retak.

Tetap dihargai dengan dipajang Saja 

Dulu sih, menyikapi lukisan yang terlanjur jadi -- namun belakangan ditemui beberapa kejanggalan-- saya cuma pasrah dan meletakkan lukisan-lukisan itu di gudang.  Sekarang lebih santai, bahkan saya mengizinkan orang lain jika ingin memilikinya secara cuma-cuma untuk menghiasi rumah. Toh, dalam seni gak ada batasan jelas benar salah, semua tergantung selera penikmat karya. Ya hitung-hitung beramal menyenangkan orang lain.

Mempertahankan spanramnya saja

Kalau memang sudah benar-benar tak bisa diakali biasanya dengan terpaksa saya membuka spanram dan melepas kanvas lalu menggantinya dengan kanvas baru.  Setidaknya spanram masih bisa dipakai untuk melukis dengan kanvas yang baru.

Berikut beberapa lukisan gagal versi saya (Rata-rata dibuat tahun 2003-2004) dan ulasannya;

1.  Twin Butterfly (90x70cm) Oil painting



Apa yang janggal di lukisan ini? Komposisi tubuh kupu-kupunya.  Yup! Malu deh kalo dikritik ahlinya, sebab tau banget kesalahan yang diperbuat. Lukisan yang saya buat di awal belajar melukis ini gak simetris, gemuk di bagian bawah.  Langitnya juga belum smooth, serta ilalangnya belum menampakkan gradasi warna yang baik.

2. City From the Sea (90x70 cm ) Oil Painting


Di awal melukis sudah sok-sok-an bermain di ukuran besar. Hasilnya, biru laut belum menampakkan riak ombak, juga langitnya masih belum keliatan gradasi cahaya alami. Belum lagi gedung-gedung yang menghiasi kota, sangat dua dimensi dan gak hidup. Bagi saya ini sih kayak lukisan anak SD hanya versinya aja yang besar. Hehehe.

3.  Flower (40×40cm) Oil Painting



Masih sama dengan lukisan sebelumnya.  Belum ada kemajuan karena sama sekali nggak menampakkan komposisi warna, bentuk dan gradasi yang baik.

4.  Waterfall (40x40cm) Oil Painting



Aliran air terjunnya sih lumayan, tetapi pepohonan di sekitarnya belum nampak hidup dengan warna terang ke gelap yang baik sehingga lukisan  kurang natural.

Ada dua atau tiga lagi sebenarnya lukisan yang tak tertolong di sepanjang hobi saya melukis.  Nasib lukisan-lukisan itu akhirnya terpaksa dibuang ke kotak sampah dan diambil spanramnya saja untuk kemudian dilukis ulang di kanvas yang berbeda.

Walaupun bisa dibilang hasil karya yang tak memuaskan ketika dibingkai kelihatan apik, cukup lumayan 'kan sebagai penghias ruangan?

*Menghibur diri 😂😂😂

#odop
#day26
#estrilookcommunity

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler