Sabtu, 14 September 2019

Cinta Nailah

Sumber : widiutami.com

Mentari bersinar garang, memantulkan aura panas yang membaur dengan partikel debu jalanan bertanah.

Ribuan tahun yang lalu di sebuah kota bernama Madinah.

"Apa yang menyebabkanmu bersedia menikah denganku duhai Nailah?" tatap pria yang hampir seluruh rambutnya telah memutih kepada gadis belia di hadapannya.

Gadis itu samar tersenyum, "karena kesalihahmu duhai suamiku. Siapa yang tak mengenal Ustman Bin Affan? salah satu sahabat rasulullah yang dijamin masuk syurga," sahutnya lembut dengan rona malu-malu.

"Tapi usiaku sudah melampaui masa mudaku Nailah." Gumam lelaki pemalu itu setengah tertunduk.

"Aku menyukai pria yang lebih dewasa dan aku beruntung telah menemukannya, tak mengapa ... karena masa mudamu telah kau habiskan bersama Rasulullah, sekarang adalah masamu bersamaku," sahutnya lagi dengan tatapan penuh cinta.

Ustman perlahan mengembuskan napasnya. Terbersit di pikirannya tidakkah istri belianya khawatir akan pandangan orang lain? Usia mereka terpaut jauh. Tidakkah ia jengah cibiran orang, bukankah umumnya wanita muda yang menikahi pria renta identik mengejar hartanya belaka.

Siapa yang tak mengenal Ustman? Sahabat Rasulullah yang kekayaannya tak terhitung.

Mata belia itu bersinar penuh kasih, seolah mengerti kekhawatiran suaminya. Namun hati kecilnya mengatakan. Cukup Allah saja yang tahu perasaanku, duhai suamiku tercinta.

Memanglah benar, getar-getar asmara terkadang menguar tak pandang usia. Kasih itu tumbuh subur dalam biduk rumah tangga yang penuh kasih sayang dan kehangatan. Pria tua yang terkenal pemalu namun berhati lembut, bersanding dengan gadis belasan tahun nan rupawan.

Sepasang kekasih itu adalah Nailah binti Farafishah dan Ustman Bin Affan pemilik julukan Dzunurrain. Wanita terakhir yang dikhitbah khalifah ketiga, tepat saat usianya menginjak 18 tahun, sedangkan Ustman sendiri kala itu sudah memasuki 81 tahun.

***

Rumah tangga selalu menyediakan ruang luas lagi halal yang berbuah ketenangan kepada sepasang insan yang saling mencinta.  Sekalipun hubungan itu melampaui logika manusia.

Waktu berlalu, Nailah tumbuh menjadi istri yang cerdas dan berakhlak luhur. Demikian kuat pengaruh didikan suami yang shalih kepada sosok Nailah, bahkan Ustman pernah berkata "Sungguh, aku tak keberatan jika Nailah dikatakan lebih cemerlang melampaui diriku."

Pernikahan mulia itu, dikarunai putri cantik, Maryam binti Ustman namanya.

Suatu ketika, sekelompok muslim yang membelot dari ajaran islam makin bertambah jumlahnya. Fitnah besar akan kepemimpinan Ustman menyebar di seluruh penjuru negeri. Para pemberontak menginginkan kematiannya.

Suara merdu Ustman yang tengah melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran tak menyurutkan langkah beberapa pria yang mengepung kediaman mereka. Para durjana itu merangsek masuk bersenjatakan pedang panjang. Nailah yang melihat suaminya berjuang melawan para pembelot agama, berhambur mencoba melindungi tubuh suami tercintanya. Ia seolah sengaja membiarkan rambutnya yang hitam tergerai nampak oleh para pria yang bukan mahromnya. Nailah mengira mereka masih memiliki rasa malu dan tidak akan meneruskan niat jahatnya jika melihat sosoknya yang tak berkerudung.

Ustman pun tersentak. "Apa yang kau lakukan Nailah?! masuklah! Sungguh menghadapi mereka lebih ringan dibandingkan melihatmu melakukan sesuatu yang haram dan menampakkan diri  di hadapan mereka"

Nailah keras kepala, baginya cinta juga berarti pengorbanan. Sungguh, asmara itu tak hanya berisikan cerita indah, tapi juga kesiapan diri berbagi tangis, luka bahkan kesedihan. Ia sanggup melakukan apa saja sekalipun berarti harus kehilangan nyawa.

Sayangnya, para pemberontak sudah kehilangan akal, mereka terus mengayunkan pedangnya ke arah Ustman.

Nailah menguatkan hatinya, ditepisnya pedang tajam yang silih berganti yang menghunjam tubuh Ustman. Darah terpercik, jeritan tertahan dari mulutnya. Jari-jarinya tertebas dan jatuh di lantai rumah.

Mereka semakin gelap mata. Ustman dan Nailah tak berdaya. Mereka diinjak, ditusuk dan dipukuli. Tubuh Ustman sudah bersimbah darah.

Nailah melepasnya dengan linangan air mata, "sungguh kalian telah membunuh laki-laki yang malam-malamnya selalu dihidupkan dengan sholat dan wirid memuja tuhanNya," lirihnya dalam linangan air mata.

Sayangnya, betatapun kuatnya Nailah menvoba melindungi pujaan hatinya.

Hari itu takdir Ustman telah sampai untuk kembali kepada pemilik sejatinya.  Kekasih hati Nailah telah pergi, sebagaimana janji Allah yang tertulis di Lauhul Mahfudz dalam Al-quran di genggaman.

***

Masa berkabung telah usai.

Janda Nailah menapaki hari dengan tegar tanpa kehadiran suami di sisi. Meski terlihat tabah, semburat awan kelabu tak mampu menutupi gurat-gurat kesedihan yang membias dari parasnya yang cantik.  Hanya Allah yang mengetahui bagaimana kesedihan seorang istri yang ditinggal mati kekasih hati.

Walau begitu, Nailah faham kecintaannya kepada Ustman, tidak boleh membuatnya mencaci ketentuan Allah. Cinta yang membawa ketaatan adalah cinta yang telah dipilihnya.

Suatu hari ketika masa iddah terlampaui.

"Aku Mu'awiyah bin Abu Sufyan, hendak meminangmu duhai Nailah. Izinkan aku mempersunting dan menjagamu dalam sebuah rumah tangga yang diberkahi Allah." Ucap pria yang cukup disegani sebagai salah satu sahabat Rasulullah. Dialah khalifah pertama dari bani Ummayah sekaligus dikenal sebagai juru ketik Rasulullah, Muawiyah.

Nailah tertegun lalu mencoba menyusun kata terbaik agar sahabat Rasulullah itu tidak merasa tersinggung. "Maafkan aku duhai sahabat rasulllah yang solih, aku Nailah tidak cukup layak menerima pinanganmu."

Muawiyah sama sekali tak mengira pinangannya ditolak, "apa gerangan yang membuatmu menolakku, Nailah?" Hanya pertanyaan itu yang mampu terlontar, sementara batinnya terus berkecamuk.

"Aku melihat kesedihan ini menyelimutiku seperti pakaian yang menyelimuti diri. Aku takut kesedihanku atas kepergian Utsman bin Affan akan terulang kepada pria-pria lain sesudahnya. Dan aku tidak ingin ini terjadi lagi." Sahut Nailah. "Lagipula, maafkan aku Muawiyah ... tidak ada seorangpun yang mampu menggantikan kedudukan Utsman di hatiku."

Sebuah pernyataan yang sulit diterima akal sehat, seorang janda menampik lamaran salah satu pria terhormat kala itu. Dan yidak hanya Muawiyah, beberapa lamaran lain selalu mendatangi Nailah dari beberapa pria solih lagi terpandang.

"Aku heran, kenapa masih saja ada laki-laki yang menginginkan aku menjadi istrinya?  Apa yang mereka inginkan dari wanita yang tak berjari sepertiku?" Tanya Nailah kepada hamba sahayanya.

"Karena engkau adalah janda amirul mukminin yang tentu saja kesolihanmu tak perlu diragukan lagi. Lagipula engkau masih muda dan terlihat cantik duhai Nailah"

Wajah itu menunjukkan keterkejutan. Bukan rona malu kemerahan yang menguar dari wajahnya ketika pujian itu sampai di telinga. Tapi justru kemarahan. Tak disangka Nailah Kecantikannya justru menjadi bencana untuknya.

"Kalau begitu, apa yang menyebabkan diriku terlihat cantik di mata mereka? Bisakah kamu mengatakan bagian mana dari tubuh atau wajahku yang sering diperbincangkan para pria itu?" Ujar Nailah begitu ingin tahu.

"Mmmm ... Kurasa ginsulmu, Nailah. Ginsul yang menghiasi wajahmu itu yang kerap kudengar menjadi bahan pujian laki-laki yang memujamu, ketika engkau tersenyum."

"Begitukah... ?" Sentaknya kemudian bergegas menuju dapur mencari sebilah pisau.   Tiba-tiba Nailah mencungkil ginsulnya di depan sang hamba sahaya hingga terlepas dan mengucurkan darah segar. Sebagian wajahnya pun tersayat pisau.

Sang khadimat mundur dengan tatapan ngeri tak percaya melihat tindakan tuannya.

"Lihatlah! Lihatlah ... aku sudah tak cantik lagi kan? Kuharap takkan ada lagi yang datang melamarku.  Sekarang, siapa yang sudi dengan Nailah yang ompong lagi tak berjari?!" ucapnya ringan penuh kelegaan.

Begitulah, cinta sejati terkadang tak mengenal logika.  Nailah hanya merindukan hidup sesyurga bersama Ustman bin Affan, laki-laki pertama sekaligus yang terakhir untuknya. SUAMI yang ia kasihi di dunia maupun di akhirat, tiada yang lain.

Seorang Nailah yakin janji Allah adalah pasti []

#odop
#estrilookcommunity
#day13






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler