Sabtu, 13 Juli 2019

Sekilas Cerita Seputar Jurnalisme Radio



Sebelum menjelaskan panjang lebar mengenai jurnalisme radio, izinkan saya flash back sebentar.

Actually, hanya sekitar 5 tahunan saya bersentuhan di dunia radio yakni pada kurun waktu 2002-2007. Tak begitu lama memang ... namun momen itu sangat membekas di hati.  Jelas saja, karena nggak hanya pengalaman dan ilmu yang saya raih ketika bergabung di sana, tetapi juga pergeseran kepribadian dari yang tadinya introvert- lebih senang menyendiri-menjadi pribadi yang enjoy ketika harus duduk dan membaur dengan orang banyak.  Ini saya sadari belakangan.

Jurnalistik melalui radio pada prinsipnya adalah upaya penyebarluasan informasi yang aktual dengan cara bercerita atau bertutur.

@mqfm lampung studio

Dulu, ketika di awal terjun ke lapangan memburu berita, sempat merasa sedikit minder dengan para awak senior terlebih yang berasal dari media televisi.  Mereka yang datang dengan fasilitas mobil berAC dengan gagahnya menenteng mike berdampingan dengan juru kamera berperalatan canggih. Sementara saya? datang dengan motor dan tak jarang hanya duduk di pojokan cuma berbekal tape recorder dan tak jarang dengan handphone jadul sebagai cadangan voice recorder ketika mewawancara narasumber. Tapi sesekali juga pernah terjun ke lapangan didampingi mobile broadcast.

Seiring waktu, ketika mulai enjoy dan paham betul akan karakteristik jurnalisme radio terlebih dalam hal kecepatan penyajian berita, terselip sedikit kebanggaan.  Pantas saja, ketika masa penjajahan para pejuang berusaha menduduki stasiun pemancar radio, sebab media ini satu-satunya alat yang paling strategis dalam penyampaian informasi.

Apabila kita bandingkan dengan media TV, cetak maupun online, maka radio memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh media lain.  Seorang reporter radio bisa seketika melakukan live report dalam hitungan menit, bahkan tanpa persiapan khusus, asalkan sudah berkoordinasi dengan studio utama.  Tentu saja ini membutuhkan skill berbahasa dan kesiapan mental yang mumpuni.

Itulah sebabnya pula radio sejak zaman dahulu terus memiliki tempat tersendiri bagi sebagian masyarakat meski zaman terus berubah.

Apa saja sih karakteristik maupun Kelebihan-kelebihan lain jurnalisme radio ketimbang media lain? Well, pelan-pelan akan coba saya jelaskan.

1.  Cepat/Aktual

Tentu saja seperti yang saya terangkan di awal, berita melalui radio bisa lebih cepat sampai di telinga publik, ketimbang media cetak, tv, maupun online. Sebab radio memungkinkan reporter untuk melakukan pelaporan secara langsung dari tempat kejadian -live report-tanpa persiapan produksi yang ngejelimet.  Sedangkan media lain perlu proses sedikit lebih panjang hingga berita tersebut dinyatakan layak diturunkan.  Mulai dari pengetikan, editing, revisi, dibacakan di depan kamera (media TV) bahkan apabila berita itu harus dicetak dalam bentuk koran.

2.  Sederhana/Lugas

Dalam hal penggunaan bahasa, umumnya kata-per kata yang digunakan penyiar radio adalah bahasa tutur.  Pemilihan bahasa sehari-hari yang simple dan lugas cenderung dipakai sehingga informasi menjadi mudah dimengerti oleh pendengar dari kalangan manapun, dengan latar pendidikan apapun.

3.  Auditif dan Tak bisa diulang

Karena sifatnya auditif dan tak bisa diulang,  maka berita di radio haruslah memiliki kekuatan dalam hal memvisualisasikan kejadian yang tengah berlangsung. Pesan-pesan yang disampaikan dalam bentuk suara tadi harus bisa ditangkap telinga untuk diserap sebagai informasi dalam sekali ucap.

Nah ... setelah paham karakteristiknya, apa saja sih prinsip dasar yang harus dimiliki seorang jurnalis radio?

Yang pertama, kemampuan menulis.  Seorang reporter dituntut untuk bisa menuliskan berita yang ia tangkap di lapangan secara runut dan berkesinambungan.  Penulisan tanda baca terkadang tidak begitu penting diperhatikan tetapi esensi berita untuk telinga yang dikedepankan.  Oya dalam prakteknya penulisan script berita di radio cukup khas karena menggunakan tanda baca (/) untuk memudahkan pembacaan.  Tanda / untuk mewakili koma. // yang berarti titik, dan slash tiga sebagai tanda berhenti atau akhir berita. Usahakan juga mengambil angle headline yang pendek namun menarik.

Kedua, kemampuan bertutur dalam hal ini memvisualisasikan pesan dalam bahasa sederhana.  Off course karena prinsip berita tadi yang diperuntukkan bagi telinga.

Ketiga, Insting jurnalis dalam mengendus berita.

Sepertinya susah ya? Nggak juka kok.  FYI.  Setiap radio biasanya memiliki SOP, deadline dan standar tersendiri dalam hal penggodokan para jurnalis-jurnalisnya. Yang dibutuhkan di sini hanya kemauan keras, percaya diri dan naluri menggali berita.

With 103,5 FM Yudhistira crews

Sttt ... saya bisikin ya, beberapa artis tanah air maupun news caster TV karirnya berawal dari penyiar di radio dulu lo!  sebut saja Tina Thalisa, Virgi Bakers, Indie Barens, Farhan, Nirina Zubir, dst. Jelas saja, karena untuk naik kelas ke bidang pertelevisian khususnya untuk posisi anchor, news caster ataupun presenter diperlukan pengalaman di dunia kepenyiaran yang gak bisa di dapat secara instant.

Baca juga Asyiknya Jadi Scriptwriter Radio

Yang jelas bagi saya pribadi jurnalisme radio itu selalu unik dan menantang.  Para penyiarnya yang sudah memiliki jam terbang yang banyak biasanya sangat terlatih bekerja lebih cepat, tenang dan efisien.

Tertarik mau memulai karir di sini ...?! Go ahead and good luck yaaa ...!


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler