Sabtu, 22 Juni 2019

Pasangan Calon Sesyurga, Pencetak Generasi Qurani


Rahasia para hafidz quran biasanya terletak pada didikan kedua orangtua yang faham betul tugas dan tanggung jawabnya sesuai  hakikat penciptaan.  Ibu yang berhasil menjalankan fungsi sebagai madrasatun ‘ula sekaligus taat kepada komando tertinggi keluarga.  Ayah yang  mengayomi keluarga dengan kelembutan dan suri teladan sebaik-baiknya.  Sementara itu, lingkungan yang kondusif, sarana dan prasarana bahkan pendidikan formal yang mendukung cita-cita keluarga agar anak-anak menjadi generasi penghafal quran lumrah sebagai faktor pendukungnya.  Akan tetapi, bagaimana dengan masyarakat awam yang notabene hidup sederhana bahkan tidak bersekolah?

Buku ini menceritakan perjalanan lengkap sekaligus ikhtiar nyata Ustadz Abdurrohim dan istri Siti Hajar hingga mampu mematahkan paradigma bahwa mencetak generasi hafidz/ah quran lazimnya berangkat dari keluarga berlatar belakang pendidikan formal baik dari sekolah agama ataupun pondok pesantren ternama.

Ustadz yang lahir dengan nama pemberian ayah Ramlan Dalimunte, adalah sarjana lulusan Fakultas Sastra jurusan sejarah Universitas Sumatera Utara. Sang istri Siti Hajar atau Sri Maharani Hasibuan hanya seorang ibu rumah tangga biasa lulusan SMA.  Yang lebih mencengangkan, meski mulanya tanpa dasar keilmuan islam yang mumpuni, juga dalam keterbatasan ekonomi yang bagi sebagian orang rasakan sebagai ujian, pasangan ini telah mampu mengantarkan 7 dari 8 putra-putrinya menjadi hafidz/ah di usia dini (5 diantaranya khatam menghafal 30 juz sebelum berusia 10 tahun! 1 anak yang termuda masih dalam tahap penghapalan).

Lalu, apa yang mendasari keduanya begitu gigih membentuk anak-anaknya menjadi generasi qurani? Ternyata, rahasianya berawal dari kesadaran paripurna akan posisi manusia sebagai hamba Allah.  Ini tercermin dari semangat dan ketekunan sang ayah untuk terus mengasah tsaqofah islam yang sebelumnya dirasakan masih jauh tertinggal. Sementara ibu berprinsip kuat, gigih meng-upgrade diri, fokus pada amalan dan nasib anak-anak kelak di hadapan Allah. (Halaman 77).

Sang ustadz berpegang teguh pada tugas utamanya sebagai kepala keluarga sebagaimana dalil: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan perintah” (Al-Quran surat At-Tahrim ; 6).  Ketika kesadaran puncak itu diperoleh, maka sang kepala keluarga berusaha menyelaraskan persepsi pada manager rumah tangga, dalam hal ini istri.  Keduanya bahu-membahu dalam upaya melaksanakan perintah Allah, menjaga keluarga dari murka Allah yang berujung pada siksa neraka akibat mendurhakai perintahNya. (Halaman 42)

Bukan pengorbanan namanya jika tidak ditempuh melalui jalan berliku. Di tengah pandangan sinis keluarga dan tetangga akan hijrah total pasangan ini ke jalan Allah, Ustad Abrurrohim dan istri memilih istiqomah dan qonaah dalam kesederhanaan hidup.  Di mata orang lain mereka dianggap kekurangan. Bayangkan! sehari-hari tidak menyekolahkan anak ke pendidikan dasar sebagaimana program pemerintah, no gadget, TV, ataupun peralatan listrik mutakhir, bahkan untuk pakaian dan makanpun seadanya.  Kebutuhan primer berupa sandang dan pangan dipenuhi sesuai ketentuan yang Allah syariatkan yakni pakaian sekedar sebagai penutup aurat, dan kebutuhan makan sebagai penopang tulang agar mampu berdiri tegak dalam beribadah.  Jadi, jangan harap menemukan kenyamanan hidup ala perkotaan, menu istimewa, ataupun lemari pakaian yang dipenuhi berbagai mode pakaian di rumah mereka nun jauh di pinggir pantai di Pulau Nias, Sumatera Utara.

Tanpa profesi suami yang jelas, murni menggantungkan hidup pada dakwah dan pemberi gaji tertinggi yakni Allah SWT.  Banyak masyarakat yang juga berpendapat miring akan pilihan hidup yang mereka tempuh.  Apalagi, ustadz yang masuk dalam komunitas jemaah tabligh ini kerap meninggalkan keluarga dalam rentang waktu yang cukup lama.   Bagaimana kebutuhan perut keluarga bisa tercukupi?  Bukankah rezeki harus dijemput? Mungkinkah pula seorang istri mampu bertahan dalam keterbatasan ekonomi mendidik anak sedangkan sang suami kerap ber-khuruj? (melakukan perjalanan dakwah).  Silahkan geleng-geleng kepala dan tidak sependapat. Namun pada kenyataannya, keluarga yang memilih qonaah ini tidak pernah sekalipun merasa hidup kekurangan.

Ustadz Abdurrohim justru memilih menerima keadaan  dengan ikhlas seberapapun pemberian Allah (halaman 78). Sementara sang istri justru menganggap pilihan kesederhanaan sebagai jalan mendekatkan mereka pada kehidupan ala Rasulullah dan salafus shalih di zaman terdahulu.  Ketiadaan suami di sisi justru disikapi Siti Hajar sebagai kesempatan emas dalam menggembleng hapalan anak-anak  tanpa terikat kewajiban berkhidmat untuk beberapa urusan rumah tangga dibandingkan tatkala suami di rumah.  Sungguh, suatu hal yang tidak mudah, mengingat pengaruh pemikiran hedonis dan matrealistis menyerang hampir setiap sendi kehidupan.

Disajikan runut dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti, saya yakin penulis serta sosok yang diceritakan menyimpan harapan besar agar buku ini mampu menginspirasi siapa saja yang membacanya.  Syukur-syukur berazzam mengikuti jejak Ustadz Abdurrohim dan Siti Hajar untuk menjadikan anak keturunannya sebagai garda terdepan penjaga kemurnian Al-Quran Nur Karim.

Dari pemilihan cover bernuansa hijau, sudah sangat merepresentasikan isi buku, dimana foto kediaman asli sang ustadz terpampang nyata.  Rumah sederhana berdominasi material papan yang insyaAllah menaungi para calon-calon penghuni syurga.  Buku yang ditulis oleh Neny Suswati ini juga sangat bergizi, memuat banyak istilah islam yang menambah tsaqofah pembaca, menyisipkan banyak kutipan hadist, ayat dalam Al-Quran serta sarat penjabaran teknis “uswatun hasanah” cara mendidik dan keseharian hidup keluarga Ustadz Abdurrohim.

Sayangnya, di buku solo ke-8 setebal 200 halaman karya ustadzah Neny ini masih banyak sekali ditemui typo dan kesalahan pengetikan yang sedikit mengganggu kenyamanan ketika membaca.  Meski begitu, secara keseluruhan sama sekali tidak mengurangi nilai manfaat dan ruh cerita yang dipaparkan.  Buku ini secara pribadi meninggalkan kesan yang cukup mendalam bagi saya.  Maka tak salah, jika anda menjatuhkan pilihan pada buku “Hafidz Rumahan” sebagai bacaan motivasi menjadi keluarga muslim yang lebih baik lagi.

**********************************
Judul Buku               :  Hafidz Rumahan (Ikhtiar keluarga awam melahirkan  penghafal Al-Quran)
Penulis :  Neny Suswati
ISBN :  978-623-211-033-5
Penerbit :  Aura Publishing
Harga :  Rp65.000,00
Tebal Buku :  200 halaman
Editor :  Rosyidin
Cetakan  :  Februari 2019

2 komentar:

  1. Buku ini benar-benar luar biasa. Saya juga sebagai salah satu reseller begitu mengagumi buku ini. Dan insya Alloh telah menginspirasi banyak orang.

    BalasHapus
  2. Iyaa mb, sangat memotivasi para ortu untuk trs semangat mendidik anak2 yg cinta quran

    BalasHapus

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler