Senin, 20 Mei 2019

Sepenggal kisah tentang Kanvas dan Cat Minyak



Sekitar tahun 2003 di hari ulang tahun saat masih bergabung dan mengudara di frekuensi 103.5 FM Bandar Lampung, seorang teman menghadiahi saya beberapa buah kanvas berbagai ukuran.  Lengkap dengan cat minyak dan beragam kuas sesuai size yang kala itu saya sendiri belum paham cara menggunakannya.


Dengan termangu saya memandangi beberapa kanvas kosong yang tersandar di dinding kamar. Beneran, saya belum mengerti bagaimana cara memulainya.  Waktu itu saya hanya terbiasa menggambar sketsa pada media kertas dengan sebatang pensil atau pena.

Singkat cerita, karena dulu belum begitu familiar menggunakan mesin pencarian otomatis seperti yahoo atau google, saya memilih mencari tahu melalui buku-buku teori menggambar dan melukis.  

Entah bagaimana, sekali memulai ... langsung jatuh cinta dan ketagihan berkarya. Warna-warni yang tergores lewat kuas memberikan suasana yang berbeda dari biasanya.

Bagi saya jika menulis itu butuh konsentrasi dan pemikiran lebih, maka melukis atau menggambar justru hadir sebagai penyeimbang.  Melakukannya tak butuh pemikiran lebih, tapi sebaliknya ibarat mengosongkan kembali gelas yang penuh.

Melukis membuat saya lebih leluasa mengekspresikan perasaan, tanpa harus capek bermanuver kata-kata.  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler