Menularkan Kebaikan

December 06, 2020


Illustrasi by Mega with ibispaintx

Ibu Alfar wanita yang sangat baik hati.  Namun, ia tengah bersedih sebab putranya kerap enggan dimintai bantuan.  Belakangan, Alfar berubah menjadi anak yang pamrih sebab selalu diberi upah oleh Nenek Yuma, wanita yang tinggal bersebelahan dengan rumah mereka setiap kali memberikan bantuan. Karena kerap diberi imbalan, Alfar akhirnya berpikir bahwa setiap budi baik harus dihargai dengan sejumlah uang atau minimal hadiah yang menyenangkan.


"Tidak semua kebaikan harus dibayar dengan uang atau sesuatu, Far.  Coba bayangkan, bagaimana jika seluruh jasa seorang ibu harus dibayar oleh anaknya? Tentu Alfar takkan sanggup menggantinya sekalipun dengan uang sebanyak apapun," ibunya mencoba menasehati Alfar di suatu sore ketika menolak permintaan membeli gula di warung terdekat.  Alfar keberatan sebab sang ibu menolak melebihkan sejumlah uangnya untuk jajan.


"Tapi Bu, Nenek Yuma kerap bilang, setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan," jawabnya dengan tampang kesal.  "Itulah sebabnya kenapa nenek selalu memberikanku upah sebagai tanda balas jasa," jelas Alfar.


Senyum mengembang di wajah ibu, "Ooo begitu, sepertinya Alfar salah menangkap maksud Nenek Yuma.  Setiap kebaikan memang akan berbalas dengan kebaikan namun tidak mutlak diberikan oleh siapa yang ditolong.  Mereka bisa meneruskan perbuatan baik itu pada orang lain lagi, begitu seterusnya, dan Alfar harus yakin perbuatan mulia nantinya akan berbuah kebajikan yang kembali kepada dirimu sendiri."


Kening Alfar sempat berkerut seolah tak paham.


"Begini saja, bagaimana jika besok Alfar mencoba berbuat satu kebajikan, semisal menolong orang lain tanpa mengharap imbalan. Kalau ia berterima kasih, coba tawarkan supaya ia bersedia menularkan sebuah kebaikan kepada orang lain lagi, lalu seterusnya ia juga meneruskan menolong sesama, lalu diteruskan lagi, dan lagi tanpa berhenti..."


"Wah ... sepertinya kebaikan akan terus menyebar dan dunia ini tentu teras lebih menyenangkan ya, Bu." Ucap Alfar antusias.


"Nah ... memang itu tujuannya, Nak."


Keesokan harinya di sepanjang perjalanan menuju sekolah, Alfar terus berpikir bagaimana caranya agar kebaikan yang dimaksud ibunya dimulai dan berjalan seperti tongkat estafet.


Ketika pelajaran di kelas usai, tiba-tiba Alfar memiliki ide. Ia menawarkan bantuan kepada Bu Susan, gurunya, untuk membawakan buku teman-teman ke kantor.  "Terima kasih Alfar, kamu murid yang sangat baik," puji Bu Susan sesampainya mereka di meja pribadinya. 


"Sama-sama Bu, saya hanya berusaha menebar kebaikan, seperti yang ibuku anjurkan " jawab Alfar seraya menjelaskan isi perbincangan dengan ibunya tadi pagi pada sang guru.


"Wah, itu manis sekali Alfar," kata Bu Susan.


Bel tanda sekolah usai sejak tadi telah berbunyi, sebagian anak-anak masih menunggu para orang tua menjemput di depan gerbang, begitupun dengan Alfar.  Ia melihat Bu Susan menyapa Pak Sahid, satpam sekolah yang sedang duduk di depan gerbang bersama teman sekelasnya, Marsha.


"Belum bersiap untung pulang, Pak?" tanya sang guru.


"Marsha dan Alfar belum dijemput, Bu.  Saya harus menunggui mereka dulu."


Bu Susan tiba-tiba teringat kebaikan yang Alfar lakukan tadi. Benak Bu Susan menyimpan keinginan meneruskan kesempatan menularkan hal baik seperti yang Alfar tadi lakukan.   Bu Susan pun mengeluarkan ponsel di sakunya dan menghubungi orang tua Marsha, dilanjutkan dengan menelpon Ibu Alfar.


"Ibunya Marsha sedang bermasalah dengan motornya di bengkel depan sana Pak, jadi ia mohon maaf jika terlambat menjemput. Sedangkan Alfar telepon ibu tidak diangkat, mungkin ibumu tengah di jalan" Ujar Bu Susan.


Alfar mengangguk sedangkan Pak Sahid menarik napas lega, "terimakasih, Bu."


Bu Susan menjawab, "Jangan berterimakasih pada saya, Pak, saya hanya berusaha menolong, satu kebaikan sehari itu menyenangkan, iya ‘kan Alfar?” ia melirik Alfar sambil melempar senyuman. Alfar tertawa dengan riangnya.


 "Oh, bagaimana kalau saya antarkan Marsha ke ibunya, agar saya pun bisa pulang tepat waktu dan tentu berkesempatan meneruskan budi Ibu," seru Pak Sahid.


"Lalu Alfar saya tunggui sejenak sampai ibunya datang menjemput? Wah, sepertinya itu ide bagus ... bagaimana menurutmu Marsha?" Tanya Bu Susan.


Alfar yang memperhatikan interaksi mereka hanya bisa tersenyum, ia membatin ternyata menularkan kebaikan itu indah dan menyenangkan.


“Tak masalah Bu, saya pikir tentu ibu akan senang,” Marsha menjawab dengan riang. Tak lama Bu Susan kembali menelpon untuk memastikan, Pak Sahid mengeluarkan sepeda motornya dari tempat parkir dan menghampiri Marsha.


"Titip Marsha ya, Pak!"  Seru Bu Susan dari kejauhan.

Pak Sahid memacu kendaraan roda dua menuju bengkel yang dimaksud. 

“Nah, sekarang hanya tinggal menunggu ibumu datang, Far.” Ucap Bu Susan. Namun baru selesai bicara, deru kendaraan roda dua yang begitu Alfar kenali mendekat.


“Nah! itu ibu datang.”  Jawab Alfar gembira.  Ia segera menghampiri Ibu lalu naik ke boncengan. “Sampai Jumpa Bu Susan, terima kasih. Assalamualaikum!” ucapnya lagi.


Bu Susan menjawab sambil tersenyum kepada ibu Alfar, “waalaikumsalam, hati-hati di jalan.”


Sementara itu, Ibu Marsha menyambut dengan gembira kedatangan Pak Sahid dan Marsha di Bengkel,  "Wah, terima kasih Pak Sahid, telah sudah sudi mengantarkan anak saya, maaf sudah merepotkan," sambut Ibu Marsha saat anaknya meloncat turun dari jok belakang.


"Oya, ini sekedar membantu mengganti uang bensin, Bapak," kata Bu Marsha sambil menyodorkan uang puluhan ribu.


"Tidak usah, Bu, saya ikhlas menolong.  Simpan saja, mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkan. Melakukan satu kebaikan pada orang lain ternyata menyenangkan. Seperti yang Bu Susan bilang tadi, benar kan Marsha?" tukasnya sambil tersenyum.


"Iya tentu saja, Pak, aku pun ingin melakukannya juga jika ada kesempatan," sahut Marsha dengan penuh semangat.

"Wah, kebaikan yang diteruskan tiada henti dan menyebar luas maksudnya ya, Pak? Masha Allah Indah sekali ..." tandas Bu Marsha.


"Betuul, Bu... kalau begitu sampai jumpa Bu, Marsha," sahut Pak Sahid sambil dan melambaikan tangan.


Marsha dan ibunya menjawab, “sampai jumpa Pak Sahid dan terima kasih.”


Ibu Marsha sangat terkesan dengan kebaikan yang Pak Sahid lakukan.  Ia sempat termangu dan berpikir apa yang kira-kira dapat ia lakukan untuk ikut membantu dan menolong sesama seperti yang dilakukan Pak Sahid? Ia belum mendapatkan ide. Tak tak lama  kendaraannya selesai diperbaiki.  Setelah membayar sejumlah uang kepada montir, Ibu Marsha meneruskan perjalanan lalu berbelok ke sebuah mini market.


"Kita mampir sebentar untuk membeli sabun dan susu," jelas ibu Marsha.


Marsha mengangguk sambil ikut melangkah masuk dengan riangnya, sebab ia tahu ibunya pasti memperbolehkan mengambil paling tidak satu makanan kesukaannya. 


Di depan kasir, "lihat Marsha ... ada Alfar, teman sekolahmu!" Seru Ibu Marsha riang seraya menyapa keduanya. 


Marsha melempar senyuman untuk sang teman. "Eh ada Ibu Marsha, lho kok Marsha masih mengenakan baju sekolah, baru pulang, ya?" Ibu Alfar sepertinya tengah sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya sekalipun menjawab salam sambil tersenyum.

"Iya, tadi motor saya sempat mogok, Bu, untunglah Pak Sahid bersedia membantu mengantarkan Marsha ke bengkel. Ngomong-ngomong, apa ada masalah, Bu?" Sahut Bu Marsha yang menangkap kecemasan di wajah Ibu Alfar.


"Mm ... ini sepertinya dompet saya ketinggalan, Bu." Wajah Ibu Alfar bersemu merah, "Alfar, jajanannya kita batalkan saja ya Nak, taruh dulu keranjangnya, maaf ya, dompet ibu gak ada mungkin tertinggal di rumah," bisiknya kepada Alfar.


Wajah Alfar  menekuk tanda kecewa namun ia hanya bisa mengangguk pasrah.


"Jangan, Bu, jangan dibatalkan ... biar saya saja yang bayar karena ini peluang kebaikan seperti yang Pak Sahid bilang tadi.  Saya ingin meneruskan berbuat baik pada orang lain dan membuat hidup terasa lebih indah," tukas Bu Marsha cepat sambil mengambil keranjang yang dipegang Alfar dan menyodorkannya ke kasir.


“Iya Alfar, biarkan ibuku membayarnya ya,” pinta Marsha dengan tatapan memohon.


Kedua mata Alfar kembali bersinar gembira, kalian pasti tahu tahu mengapa dia begitu bersemangat!


Ya, karena sekarang Alfar tahu jawaban dari kebaikan yang ia buat tadi pagi.  Selain menular dan menyebar luas, ternyata kebajikan itu bisa saja kembali padanya dalam bentuk lain ...


Waaah ... beruntungnya Alfar!


No comments:

Powered by Blogger.