Bagaimana Memancing Minat Baca Anak

September 10, 2019

"Bunda komik Adek habis, beliin lagi doong!" rengek si bungsu sore itu.

"Memang yang kemarin sudah dibaca semua?"

"Udah langsung selesai, Nda. Lagian bunda beli cuma dua."

Sayapun terkekeh malu, maklum emak-emak, harus pinter mengatur keuangan dari sekian banyak pengeluaran rumah tangga.

Jujur saja, dahulu kadang budget beli buku nggak termasuk dalam skala prioritas meski pada dasarnya saya suka membaca. Saya pikir zaman kekinian gak harus pegang buku, jendela dunia sudah teralih ke google, wattpad dan banyak komunitas menulis yang menyuguhkan bacaan gratis.

Namun belakangan melihat minat baca anak yang lumayan tinggi, terutama si bungsu.  Tanpa sadar setiap bulan seolah jadi kebiasaan meminta jatah bacaan baru.

Satu dua kali diajak ke perpustakaan daerah, akan tetapi sayangnya perpusda tutup kalau minggu. Sedangkan sabtu hanya beroperasi setengah hari. Agak susah bagi saya mengatur waktu ke sana. Maka tiada alternatif pilihan lain selain membeli.

Menumbuhkan minat baca pada anak itu mudah namun gak bisa instan.  Dibutuhkan komitmen panjang orang tua tak hanya sekedar menyediakan buku, lalu seketika anak tertarik.

Berdasarkan pengalaman diri, ada beberapa hal yang membuat anak tertarik untuk membaca;

1.  Orang Tua yang Tak Pelit Membeli Buku

Jadi ingat pengalaman diri kenapa suka sekali baca, sampai-sampai pernah dijuluki teman sekolah "si kutu buku".

Yang jelas emak saya dulu tipikal ibu yang nggak pernah itung-itungan uang saat saya ingin membeli buku bacaan di luar buku pelajaran sekolah. Nah, ini yang saya adobsi dari beliau.

Buku bacaan
Ngabisin jatah jajan buku 😊

Tiap kali saya meminta, emak dengan mudahnya merogoh kocek pribadi.  Dulu dia sering bilang, lebih suka melihat anaknya membaca ketimbang kebanyakan jajan nggak jelas. Karena buku jendela ilmu.

Padahal aslinya emak saya bukan pelalap buku lho. Dia hanya sekedar memfasilitasi, namun tidak pernah mencontohkan sehari-hari kalau beliau juga penyuka bacaan.

Kemudahan ibu makin membuat saya dengan entengnya memilih berbagai buku bacaan yang saya suka. Komik Asterik, popeye, petualangan 5 sekawan, Tin Tin, Smurf sampai Majalah Bobo sejak kecil sudah menjadi teman bacaan sehari-hari.

2.  Teladan Membaca

Kalau ini saya terapkan pada anak-anak saya.  Bukankah anak itu peniru ulung? Mereka itu kerap kepo dengan apa yang dikerjakan orang tuanya, tak terkecuali apabila saya memegang HP begitu lama, atau tenggelam dalam sebuah bacaan seru.


Si sulung saya sering sekali menanyakan ringkasan bacaan yang membuat saya terpekur lama dan sesekali mengabaikan mereka.  Dibandingkan sang adik dia memang tak seantusias dan setelaten adiknya dalam menekuni lembar demi lembar halaman buku.

Meski capek apabila dia meminta diceritakan ringkasan sebuah buku kebanyakan permintaannya saya turuti. Sesekali saya memang memperlihatkan sikap terganggu.  Lama kelamaan akhirnya si sulung mulai mengerti dan memilih membaca sendiri. Setidaknya dalam sebulan beberapa komik masih dibaca tuntas apabila bosan bermain di luar rumah.

3.  Mendongeng untuk anak

Membacakan dongeng ternyata juga punya andil meningkatkan minat baca anak. Sejak balita anak-anak kerap saya bacakan dongeng pengantar tidur.  Jadi wujud sebuah buku sejak kecil memang sudah dekat dengan kehidupan mereka sejak dini.

Dulu sedari kecil anak-anak sudah antusias menikmati lembar demi lembar gambar yang menarik rasa ingin tahu mereka.  Setelah pandai membaca dan bertambahnya umur perlahan minat buku juga berubah dari dongeng fabel atau fiksi dengan 16-36 halaman dan didominasi gambar, kemudian meningkat ke komik dan novel anak.

4.  Sering mengajak jalan ke toko buku dan memberikan reward berupa buku atas prestasi/kebaikan yang anak lakukan

Meski jalan-jalan ke mal sangat sering dilakukan, saya kerap mengajak anak-anak berbelok ke toko buku yang ada di sekitar mal. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, sehingga lama kelamaan mereka jadi ikut enjoy dan antusias mencari bacaan sendiri tiap kali melangkahkan kaki ke sana.

Apalagi kalau sebelumnya buku saya jadikan sebagai imbalan kebaikan atau prestasi yang mereka lakukan. Sudah pasti anak-anak tak sabar menunggu untuk mendapatkan hadiahnya.

Dibandingkan mainan saya memang kerap menawarkan alternatif hadiah buku, alasannya karena buku nggak mudah rusak dan ilmunya terus terpatri di dalam kepala. Belakangan membaca menjadi kebutuhan bukan sekedar hobi belaka.

Selain itu saya juga kerap mencekoki mereka dengan pemikiran bahwa membeli buku juga berarti investasi akherat, sebab kalau bosan bisa diwariskan kepada orang lain, dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Tentu saja jika bacaannya bermanfaat.

***

Segitu dulu ya cerita saya seputar menumbuhkan minat baca anak.  Kalau emak punya pengalaman lain, silahkan dibagi di sini ... Supaya kita semua makin semangat mendekatkan anak-anak dengan buku.


#odop
#estrilookcommunity
#day10

No comments:

Powered by Blogger.