Selasa, 27 Agustus 2019

Sikap dan Waktu Terbaik Menasehati Anak



         Selepas maghrib bukannya ngaji atau belajar, duo bawel kemarin malah bertengkar gebuk-gebukan bantal memperebutkan tempat ternyaman bagi mereka di ujung kasur.

Sempet pusing dibuat celoteh dan pekikan duo bocah yang sahut-sahutan gak mau kalah, sampe akhirnya pijet-pijet kening sendiri, mengumpulkan kesabaran.  Pengennya sih ngikutin tangan melayangkan buku tebal atau apalah yang bisa dilempar sebagai sarana menghentikan perdebatan. Issh aslinya diem-diem galak lho saya ini ...

Tarik napas panjang ... tetiba teringat satu kewajiban bahwa memantapkan pemikiran, membentuk akhlak, dan meluruskan perilaku menyimpang pada buah hati adalah salah satu tugas orang tua.

Namun, memberi nasehat pada anak kerap mendapatkan tantangan masuk kuping kiri keluar di kuping kanan, alias blas ... gak nyangkut di benak dan hati mereka.  Sering merasa begitu, mak?  Toss dah kita senasib.  Nah kali kemarin, itulah yang saya rasa. Sudah sering dinasehati, kok ya tetep aja selalu ribut.  Hadeeh wayahnya anak-anak.

Saya pikir ini juga hampir selalu menjadi permasalah para orangtua khususnya emak sepanjang zaman.

Dulu ketika belum tahu ilmunya, suka kerap uring-uringan anak-anak sepertinya ndablek banget, ya?  Eh, ternyata masalahnya justru terletak pada waktu dan cara yang salah dalam menasehati buah hati.

Ternyata ... banyak sekali ilmu yang sepintas sepele namun penting untuk dikuasai dalam hal parenting. Contohnya ibu Elly Risman, psikolog anak ternama itu bilang, atur frekuensi/volume bicara.  Suara dengan intonasi tinggi, gak bakalan didengar dan dicerna anak-anak dengan baik.

Sementara, Rasulullah SAW, teladan nyata ummat muslim lebih spesifik. Diriwayatkan pada suatu hari seorang pemuda bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah izinkan saya berzina."  Apa tanggapan Rasulullah? ketika itu Nabi diam sejenak lalu memintanya mendekat dan bertanya sambil menyentuh pundaknya.  "Bagaimana apabila adik perempuanmu, atau ibumu dizinai?" Maka pemuda itupun menjawab, "tidak rela." Nabi bilang, "Maka jangan lakukan."
Lalu rasulullah menyentuh dada si pemuda dan mendoakannya.

Kisah ini menjadi menarik untuk diurai sebagai teladan nyata para emak untuk menasehati para buah hati.

1. Bersabar

Dalam kisah itu tersirat bahwa Rasulullah tidak marah dengan pertanyaan/keinginan nyeleneh si pemuda.

Hadist lain menyebutkan Rasulullah bersabda:  " Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama." HR Muslim 430.

2. Menyuruh Mendekat

Posisi paling baik untuk menasehati seseorang khususnya anak seperti nabi contohkan dilakukan dalam jarak berdekatan.

3. Mengajak berpikir

Dengan memberikan pertanyaan yang logis, dan mudah dicerna pikiran. Such as : Apakah kamu rela jika seseorang melakukan hal yang sama terhadap ibumu atau saudara perempuanmu?

4. Menyentuh

Sikap menyentuh bahu atau dada anak ketika memberikan nasehat ala Rasulullah itu untuk mendapatkan perhatian dan merebut konsentrasinya.

5. Mendoakan

Sikap Rasulullah yang terakhir adalah mendoakan kebaikan pada sang penerima nasehat.

        Nah ... udah begitu belom mak? Sama-sama ya kita belajar terus.

        Kalau soal waktu yang paling tepat untuk menasehati  anak, dalam buku Prophetic Parenting karya Muhammad Nur Abdul Hafidz disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam mempunyai waktu andalan untuk mendidik anak, yaitu :

1.  Dalam perjalanan

Siapa yang paling suka ngajak anak ngobrol ketika berkendara?

Kalau ini sih emak pasti ngacung, hehehe ...

Dikisahkan suatu waktu Ibnu Abbas berjalan bersama Rasulullah saw menaiki seekor baghal yang dihadiahkan Kisra. Ibnu Abbas duduk membonceng di belakang. Setelah beberapa lama berjalan, Rasulullah saw menoleh ke belakang dan bersabda, “Wahai Anak muda!”
Ibnu Abbas menjawab, “Saya, ya Rasulullah.”
Jawabnya, “Jagalah Allah, kamu pasti akan dijaga-Nya…!” (HR. Tirmidzi)

2. Ketika Makan

Memberi nasehat ketika makan bersama di rumah adalah salah satu dari sekian saat yang pas untuk memasukkan doktrin positif kepada buah hati.  Lagipula, tidak ada dalil larangan pasti tentang mengeluarkan suara-suara (bicara) ketika menyantap makanan.

Diriwayatkan Umar bin Salamah ra pernah berkata;
“Ketika masih anak-anak, aku pernah dipangku Rasulullah saw. Tanganku melayang ke arah sebuah nampan berisi makanan. Rasulullah saw berkata kepadaku, ‘Nak, bacalah Basmallah, lalu makanlah dengan tangan kanan dan ambillah makanan yang terdekat denganmu!’ Maka seperti itulah cara makanku seterusnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau para orangtua zaman dahulu lebih suka memarahi anak yang doyan bicara ketika makan, saya pikir ini hanya lebih pada kekhawatiran akan bahaya tersedak atau hilang fokus sehingga jumlah makanan yang di telan menjadi tak terkontrol.

Jadi, siapa bilang kalau lagi makan gak boleh ngomong, Mak? Sangat sayang lho padahal ... apabila momen dini dilewatkan dalam kesunyian.

3. Saat Sakit

Hasil penelitian ilmiah menyebutkan, saat sakit, kondisi psikologis seseorang berada pada titik terendah sehingga mudah menerima nasehat sebagai bentuk introspeksi diri.

         Ketiganya sudah sering saya kerjakan.  Tapi berdasarkan pengalaman sebagai emak, ada beberapa waktu lain yang lumayan efektif memasukkan doktrin positif untuk anak-anak - yang gak sepaham boleh pakai yang tiga di atas tadi.

Selepas shalat

Konon, after du'a jiwa seseorang terasa lebih damai dan tentram sehingga mudah sekali dipengaruhi omongan positif.

Apalagi jika sebuah keluarga kerap kali shalat berjamaah di rumah. Selesai sesi doa adalah waktu yang pas untuk bercengkrama dengan anggota keluarga sambil sesekali menyelipkan nasehat bijak.

Pillow Talk

Ini juga termasuk favoritnya saya, selepas penat melaksanakan rutinitas seharian.  Apalagi anak-anak sekolah fullday selalu pulang sore, maka alternatif quality time yang paling sering saya kerjakan adalah ngobrol menjelang tidur.

Di sini sebagai ibu, saya bisa mendengarkan anak bertukar cerita tentang apa yang dialami seharian, hingga memasukkan petuah singkat yang memotivasi mereka menghadapi hidup. Nasehat bijak itu bisa dikaitkan dengan peristiwa yang mereka dialami, atau bisa juga diselingi diskusi after sesi mendongeng diawali dengan pertanyaan pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita yang dibacakan sebelumnya?

Cooling down setelah keributan atau masalah

Tatkala anak-anak terlibat pertengkaran usahakan untuk tidak langsung memarahi mereka ketika keributan terjadi. Berat lho ini mak, memang ... Toh saya juga masih belajar terus kok hehehe ... Berusaha sabar pada tumbukan pertama istilahnya. Dalam artian me-non aktifkan mulut yang kerap auto mrepet ketika anak bertengkar.

Beri mereka waktu untuk cooling down, merenung dan introspeksi diri.  Ketika semuanya mulai kembali normal, saatnya emak membahas peristiwa tadi. Talk heart to heart dari kacamata yang lebih bijak.  Ajak mereka berpikir kritis, semisal "Bagaimana perasaanmu bila diganggu?  Kenapa seseorang harus mengurangi sifat usil dan ego yang berlebihan, dsb"

          Langkah terakhir tadi yang akhirnya saya ambil menyikapi masalah di awal saya bercerita.  Mendiamkan dulu sampai mereka kelar bertengkar, bahkan salah satu sampai nangis pun saya mah datar aja.  Saat suasana kembali normal, baru deh ngajak mereka ngobrol panjang dan membahas pertengkaran sebelumnya.

        Gimana, kalian sebagai emak paling sering menasehati anak di waktu kapan? Boleh dong disharing juga ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler