Rabu, 21 Agustus 2019

DILLO Si Semut Pembosan


Oleh : mega marlina

Pada zaman dahulu, jauh di dalam sebuah hutan tropis yang lebat, hiduplah seekor semut merah bernama Dillo.

Setiap hari ia selalu merasa bosan dengan koloninya yang hanya bekerja membuat sarang semakin jauh ke  dalam tanah atau mencari cadangan makanan.  Menurutnya, rutinitas itu membosankan.  Dillo ingin sekali berjalan-jalan melihat koloni semut hitam di pinggir hutan.  Seperti cerita Bibi kupu-kupu yang kerap kali hinggap di dekat sarang mereka.

Dillo menceritakan niatnya kepada ayah dan ibunya.  Sang ibu bilang, "Jangan pergi, Nak.  Tempat terbaik semut merah adalah berada di dalam hutan. Di luar sana banyak binatang besar pemangsa semut, lagipula ini musim penghujan."

Dillo sangat kecewa. "Ah ... membosankan sekali hidup terus-terusan hanya berjalan mencari makanan. Lagipula bagaimana bisa menjadi semut pemberani bila tak pernah keluar koloni?" Keluh Dillo dalam hati.

Pada suatu hari Dillo diam-diam memutuskan pergi sendirian menyusuri sungai dengan tujuan tepi hutan.  Ia melewati bebatuan, semak, ranting tua dan pepohonan yang sudah mati.  Tak jarang Dillo harus bersembunyi di balik dedaunan saat melihat cacing besar dan burung yang beterbangan mencari mangsa. 

Tatkala melihat banyak hewan besar yang melintas, hati Dillo mulai goyah, ia pun dihinggapi perasaan takut.  Apalagi langit semakin gelap, sepertinya akan turun hujan.

Benar saja ... tak lama hujan turun dengan derasnya.  Air sungaipun mulai meluap.  Dillo dengan cepat berusaha merayap ke atas pohon besar. Sayangnya, air naik begitu cepat menyapu seluruh pepohonan dalam lintasan air, tak terkecuali dahan pohon tempat Dillo berusaha  bertahan.

Oleh air yang mengalir deras, tubuh kecil Dillo terhempas dan hanyut terbawa arus. 

Namun Dilo tak menyerah, sebisa mungkin ia mencoba bertahan, meski terombang-ambing air sungai.  Dillo terus membayangkan wajah ibu yang tengah khawatir akan keberadaanya. 

"Ya, Allah ... tolong selamatkan Dillo, Dillo ingin pulang dan meminta maaf pada ibu." Jeritnya dalam hati.

Tiba-tiba sebuah benda besar seperti mendorong tubuh kecilnya ke atas. Hey! Itu adalah batang pohon tadi yang ikut tumbang akibat derasnya luapan air sungai.  Dillo pun mencoba berpegangan dengan erat. 

Syukurlah, batang kayu itu tak lama berhenti karena menabrak bebatuan pinggir sungai.  Dengan cepat Dillo melompat ke tanah.

Dillo pun mengucap syukur.  Akhirnya dia berusaha mencari jalan pulang dan kembali berkumpul dengan keluarganya. 

Sejak saat itu, Dillo berusaha menjadi semut yang patuh pada orang tua dan tidak pernah pergi dari rumah tanpa seizin ayah ibunya.

******

*gbr pinjem mbah google
*PR kelas menulis cerita anak
*materi bercerita ala pixar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler