Senin, 05 Agustus 2019

Bahkan Rektor dan Guru pun Impor, Ada Apa dengan SDM Lokal?

Suatu ketika, pernah ngobrol panjang dengan salah satu dedengkot teknisinya radio network tempat saya pernah mengudara. Saya menyapanya dengan sebutan Abah. Beliau bercerita tentang pengalamannya ikut sebuah workshop program radio di Italy.

Awal berkisah disebabkan karena ngalor-ngidulnya saya ketika ditanya kenapa sih suka negara itu?

Buat pencinta kanvas dan cat minyak, ya tentu saja paham. Berhubung beliau gak tahu salah satu hobi saya selain menulis yakni mainan cat, maka mulailah saya bertutur tentang kehebatan para pelukis asal negeri pizza itu.

Eh ... entah gimana awalnya, beliau justru tertawa jenaka, melihat antusias saya membanggakan seniman luar yang seolah lebih super dari pelukis lokal.

Maka, mulailah dia berkisah tentang pengalamannya belajar hingga melangkahkan kaki ke kota impian saya, Venesia.

Singkat cerita, betapa terkejutnya sang Abah sudah jauh-jauh terbang hanya untuk diperkenalkan dengan program gagal yang justru sudah pernah diujicobanya beberapa tahun lalu. Katanya, beliau pernah buat program serupa dengan seorang rekan di tanah air, sehingga tahu persis kekurangan dan letak minusnya aplikasi itu.

Uniknya, di sana para teknisi dalam negeri ramai-ramai menelanjangi program baru yang katanya bakal booming di industri olah suara.  Unforgetable experience, he said.

Lucunya, si Abah berkelakar andai dunia tahu kalau justru SDM dalam negeri itu valuable, harusnya pekerja-pekerja lokal bakal kaya-raya. Sayangnya, pemerintah sendiri gak aware soal itu. Sedangkan negeri yang kekurangan tenaga kerja kebanyakan punya UU kuat untuk melindungi pekerja yang notabene warga negaranya. Maka, inilah masalah sebenarnya, kenapa anak bangsa selalu kalah dalam persaingan di kancah internasional.

Teknisi Indonesia bisa merangkap pekerjaan di luar jobdesk. Karena, orang-orang kita lebih tekun, kadang dipaksa keadaan musti single operation karena atasan maunya ngirit pengen semua masalah bisa ditangani dalam sekejap  ... Gak seperti pekerja asing yang cenderung manja, hanya bekerja sesuai jobdesk atas nama profesionalitas.

Duh! saya kok seolah menyetujui opininya ... iya, bener banget, jadi inget dulu yang aslinya cuma scripwriter ... jadi tergerak belajar siaran, dubbing suara, taping, belajar edit voice, gambar dll, semua gak dibayar lebih meski telah bekerja beyond expectation ...  semua semata demi keingintahuan yang besar. Hasilnya, tentu saja perbedaan ilmu yang diserap, dan itu gak bisa disetarakan dengan nominal dalam bentuk rupiah.

Lalu, lompat ke cerita sepupu sepulang dari misi penjaga perdamaian dunia di Yordania (read : TNI).  Saat bertugas dan bergabung dengan para tentara internasional, ada kisah lucu yang sampai kapanpun akan saya ingat. Dia bilang, suatu hari di perbatasan melintas beberapa penduduk sipil bersenjata.  Para tentara asing buru-buru masuk ke dalam tank tak mau ambil resiko. Memilih menakut-nakuti dari dalam kendaraan.  Sangat berbeda dengan mental TNI yang berani mati, fight face to face bahkan dengan tangan kosong sekalipun.

Jadi, dari rumpian dua orang tadi saya tarik kesimpulan sendiri, jangan terlalu memuja-muji suatu kaum.  Mengagumi sebuah karya dari bangsa asing boleh-boleh saja, tapi jangan pula berlebihan ... sumber daya lokal kita banyak kok yang super keren. Hayuk lah ... bangga dengan bangsa sendiri.  Hargai tiap inovasi dan karya yang mereka hasilkan.

Sudah bukan rahasia lagi kita punya para hafidz/ah kelas dunia.  Punya penemu-penemu inovasi canggih yang sayangnya justru pemikiran briliant mereka di pakai oleh negara lain.   Semisal penemu teknologi 4G, Pak Dr Warsito Taruno penemu mesin penyembuh kanker otak yang fenomenal, dan terakhir mobil listrik pemuda bangsa yang akhirnya malah dikembangkan di negeri jiran. 

Seharusnya mereka-mereka ini di kasih ruang lebih leluasa mengembangkan potensinya, bukan seolah di borgol lalu menghilang ... trus ujug-ujug karyanya diklaim sebagai temuan baru di negara lain.

Eh,  lagi seru-serunya nulis ini tau-tau melintas berita ada lagi menteri dan presiden kita yang cuma cari guru bahkan rektor aja mesti impor? Dengan alasan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan nasional.  Kayak udah gak ada lagi anak bangsa yang mampu dipekerjakan untuk posisi itu.

Akan semakin sedikit peluang anak bangsa di kancah persaingan dalam negeri, bahkan lebih jauh kian bertambahlah pengangguran di negeri ini.  Tapi tenang, kan kartu pra kerja yang dijanjikan salah satu kandidat capres kemarin? Eh ... sok teu deh saya!





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler