Senin, 03 Juni 2019

Sang Angin


#cerpen

Ada kegalauan yang menari-nari di mata gadis belia berhijab yang hari ini kuintip aktivitasnya di sebuah gedung pencakar langit di Jakarta. Satu hal yang telah membuatnya risau, ponsel semata wayang pagi tadi terjebur di parit depan kosan ketika hendak berangkat menuju ke tempat ini.

Aku mengikutinya sambil menari di atas pucuk-pucuk pepohonan, menyapu dedaunan kering, terkadang melebur bersama partikel debu dan asap jalanan ibukota. Seraut wajah itu begitu menarik perhatian, setelah di penghujung malam saat turun dari kembara langit, desah lirihnya mampu menggetarkan muatan atom dalam diri hingga menimbulkan kedamaian yang tak biasa. Untaian doa dari seorang hamba solihah kepada pemilik sejatiNya.

Desauku menggelitik ujung gorden apartemen mewah yang jendelanya dibiarkan terbuka. Wajah dengan hidung bangir berkulit kuning langsat itu sedari tadi kebanyakan menunduk, masih diluputi kesedihan dan sedikit jengah dengan sesi pemotretan yang menggunakan model sexy di hadapannya. Semestinya ia sudah siap, bukankah seorang asisten fotographer harus bersikap profesional? Dia faham inilah salah satu resiko dalam mengais rejeki. Namun apadaya, panggilan kebutuhan purba manusia dalam mengais sesuap nasi demi bertahan hidup membuatnya tak banyak pilihan. Memotret para model iklan kali ini memang tugas perdananya. Aku mencoba menebak pikirnya, mungkin yang dibutuhkan hanyalah pembiasaan.

Aku berpindah memainkan ujung khimarnya dan melebur dalam nafasnya yang memberat.

Suara siulan terdengar dari bibir pria muda berkulit bersih berkacamata yang sisi bingkainya bertuliskan 'Rayban'. Dia sang pemilik produk yang akan dijual. "Bagus, bagus ... bravo, makasih cantik!" serunya dengan mata berbinar sambil bertepuk tangan memberi applause model yang baru saja menyelesaikan sesi pemotretan pakaian dalam, hasil rancangan terbaru divisi produksi yang akan diluncurkan bulan depan. "Next model ... please!" Perintahnya dengan suara keras, membuat tubuhku terpantul ke dinding ruangan.

Seorang wanita sexy yang kutebak sebagai sekretarisnya masuk ke ruangan dengan tergopoh dan membisikkan sesuatu.

Tubuh ringanku melayang berpindah meniup ujung rambutnya yang tergerai.

"Cancel? In the last minute? Huh! Dasar model amatiran, gak profesional ... !" gerutu si pria dengan wajah keruh seraya mengacak belakang rambutnya dengan kasar. Gerak matanya kemudian menyapu ruangan dan berhenti pada seraut wajah gadis berhijab yang sedari tadi kubuntuti. Netra itu memandang dengan tatapan yang sulit kuartikan. Entahlah. Aku seperti mencium aroma siasat busuk yang terpendam. Aroma deadline dan uang yang mengejar.

"Hey ... siapa namamu?"

Mata perempuan muda itu mengerjap tak percaya, "sa -saya? Pak?" Sambil menunjuk diri penuh keraguan.

"Iya, kamu ...!"

"Eh, Ya - Yara ... P-Pak" Jawabnya pelan.

"Oke ... Yara, maukah kamu menggantikan salah satu modelku yang membatalkan kontrak hari ini? Kupikir postur tubuhmu cukup proporsional." Ujarnya santai dengan pandangan masih melekat di sekujur tubuhnya.

Wanita itu melonjak kanget dengan kedua mata yang membulat.

Aku membaca kekhawatiran yang tertangkap dari degub jantungnya yang berdetak cepat.

"Jangan takut, kamu akan mendapat bayaran sama seperti model sebelumnya, 3 juta ...! lagipula pakaian terakhir ini berbentuk one pieces, serupa gaun tidur biasa tidak terbuka seperti sebelumnya."

Aku seolah melihat puluhan lembar ratusan ribu yang terlintas di pelupuk mata Yara. Sangat cukup untuk membeli sebuah handphone baru yang rusak sebagai jembatan rindu pada orangtuanya yang tinggal di kota kecil di ujung barat Sumatera. Namun di sisi lain, aku mendengar deru jantung yang terus bernyanyi kencang sepertinya suara nurani yang tengah berperang.

"Maaf, Pak sa-ya gak bisa, saya gak menjual tubuh saya" ucapnya terbata.

Si pemilik aroma Calvin Klein itupun terbahak.

"Ayolah, siapa bilang kamu menjual tubuh? ini gak sampai setengah jam, tidak ada yang berkurang dari dirimu. Tiga juta hanya untuk sekali pemotretan, ini bayaran yang sudah sangat lumayan untuk model pemula. Kurasa tidak akan ada juga yang mengenalimu. Lagipula katalog ini tidak begitu banyak dicetak, hanya untuk kalangan tertentu saja ..."

Gadis itu melirik si wanita partner, sang fotographer yang didampinginya seolah ikut meminta pendapat.

Wanita berkulit kecoklatan berambut cepak itu mengangkat bahu sebagai ungkapan penyerahan. Keputusan sepertinya mutlak berada di tangan si gadis berkerudung.

Satu detik, dua detik berlalu dalam diam. Aku menunggu dalam kegelisahan yang sulit kuungkapkan.

"Hey girl! ... jangan kelamaan berpikir, take it or leave it!"

Yara kembali menoleh dengan wajah memucat. Sang fotographer mengangguk kecil seolah kali ini ikut menyetujui. Wah ! ... Bukan hanya uang yang sekarang terlintas di benak Yara, namun juga keberlangsungan pekerjaannya.

"Hey, kamu! bawakan pakaian yang akan dikenakannya dan antar dia ke ruang ganti, lalu riasi wajahnya agar nampak lebih segar. Kuberi waktu 20 menit." Ucap lelaki itu lagi kepada seorang penata rias yang sedari tadi hanya bertugas membenahi make up model selama pemotretan berlangsung.

Wanita itu mengangguk pelan sambil menyingkirkan rak berisi peralatan tata rias ke sudut ruangan.

Yara terlihat seperti orang kebingungan mengambil keputusan. Aku mengerti kegalauan yang ia rasakan, posisinya terpojok pada keinginan kuat untuk bertahan hidup.

Tubuhku bergetar merasakan gemuruh yang terus bergolak di rongga dadanya. Nurani gadis itu terus berperang seperti gulungan ombak dalam laut yang bergelora. Dalam kegamangannya aku menggulung-gulung mengibaskan tubuh ke tempat-tempat yang paling rahasia. Aku marah. Marah pada diriku sendiri.

Yara makin kehilangan kata-kata ketika lengannya diseret menuju ruang ganti.

Pria itu menyeringai dan menghilang di balik pintu.

Aku kembali melayang dan menelusuri rongga nafas Yara yang memburu kencang lalu terlempar lagi dan mengambang di sebuah ruangan sempit berkaca besar dikelilingi tirai sebagai pembatas.

Si wanita pengantar sudah meninggalkannya sendirian.

Yara masih terpaku dengan pakaian minim di genggaman.

Aku menggeram. Ingin rasanya kujeritkan kata-kata 'Jangan Yara ini godaan setan! Tetap pertahankan hijabmu, seberapapun tawaran yang mereka janjikan. Kehormatan diri dan syurganya Allah tak sebanding dengan rupiah-rupiah itu!'

Ah, sayangnya percuma ... kemarahanku takkan mungkin bisa di terjemahkan dalam frekuensi kata-kata telinganya.

Aku meraung sambil menghentak-hentak tirai di sekeliling ruangan.

Yara tertegun lama.

***

Suara pintu terdengar dihempaskan dengan cepat. Aku berkesiut, menyelinap ke sudut ruangan lain dalam sekali hentakan.

"Hay semua ... aku punya tontonan menarik sebentar lagi," itu suara si pria pemilik usaha. "Wait and see ... tontonan yang tak biasa," lanjutnya dalam senyum lebar sambil menunjuk cermin lebar di depan mereka.

Dua pria lainya tergelak dalam seringai yang tak ubahnya seperti serigala. Aku melihat seperti ada tanduk keluar dari masing-masing kepala. Aku terperanjat! Astaga ... ibliskah mereka? Ketiganya menatap cermin dengan mata tak berkedip. Nafasnya tertahan dalam aroma durjana yang tercampur dalam tubuhku yang kian memberat dalam amarah. Itu sosok Yara dibalik ruang ganti di sebelahnya.

Terkutuk sekali! Selama ini mereka mengambil keuntungan dari mengintip setiap model yang berganti pakaian dari cermin dua sisi. Aku berteriak marah, mencoba memukul apapun yang ada disekelilingku. Ini kejahatan. Aku tak sudi bersenyawa dengan apapun untuk membantu kedzoliman. Tetapi, apa yang bisa kulakukan? Sebab aku tak mampu bersuara?

***

Yara terbangun dari lamunan. Ia memegangi khimar di bagian dagu seolah ingin melakukan gerakan menarik kerudung.

Ya Robb ... Apa yang harus kulakukan ...? Perintahkan aku untuk bertiup kencang menggagalkan kekhilafan ini.

Sayangnya penutup rambut wanita itu keburu jatuh tergerai. Aku berpaling dan mendengus kesal dalam amarah yang hampir meledak.

Yara kembali mematung sambil memegangi kancing-kancing bajunya yang masih tertutup rapat.

Ketiga wajah durjana dibalik cermin terlihat mulai kehilangan kesabaran. Kesenangannya kali ini dalam mengintip lekuk tubuh wanita seolah terhalang idealisme gadis yang dianggap primitif. Sementara naluri bejat mata yang berkhianat tak sabar menikmati pemandangan haram penuh nista.

Pemilik usaha menggeram marah. Gelegar nafsunya menghentak-hentak ingin disalurkan. "Biar aku saja yang membuat tontonan ini kian menarik!" Serunya sambil menghambur ke ruang ganti.

Kedua pria di balik cermin dua arah itu pun terlongong.

Ini benar-benar gila!

Dengan gerakan cepat, pria itu muncul tiba-tiba dan membekap mulut Yara sambil berusaha melucuti pakaiannya.

Aku meraung, memukul-mukul tirai dengan keras.

"Angin sialan!" Seru si pria durjana sambil mencoba menyibakkan kain yang mengganggu pandangannya.

Yara berusaha berontak, menginjak dan menyikut keras perut pria itu hingga bekapannya terlepas.

Nafas keduanya terengah dalam nafsu sekaligus ketakutan yang mengapung memenuhi ruangan. Kedua pasang mata itu saling bertukar tatap dalam kemarahan yang berbeda.

"Dasar wanita munafik! Kamu membuatku kesal, apa susahnya sih membuka pakaian?! sini aku bantu menelanjangi tubuh indahmu agar bisa kami nikmati bergantian," seringainya dengan wajah yang berubah seperti iblis sambil melirik cermin besar di dinding.

Wajah Yara berubah pucat. Sedangkan dua pria di balik cermin berubah panik memaki kebodohan sang bos yang sudah dirasuki pemikiran durjana.

Pria itu terus mendekat dan berusaha menarik paksa hijab Yara dalam sekali hentakan.

Yara terus melawan, berjuang mempertahankan kehormatan dirinya.

Tubuhku bergetar hebat, harus menolongnya! Harus! lagi-lagi kugulung tirai sekuat-kuatnya hingga menutupi sebagian cermin dan tubuh Yara. Suara jeritan wanita itu akhirnya keluar dari tenggorokan dan menggema ke penjuru ruangan.

Suara langkah sepatu mendekat dan saling berkejaran.

Selintas wajah wanita penata rias menyerbu masuk dengan gunting yang terhunus menyambut derasnya tubuh sang pria bejat yang masih berusaha memberangus Yara.

Kaki Yara bergerak mundur dengan mata terbelalak.

Seketika, darah mengucur dari balik punggung. Mata sang pria terbeliak.

Selembar kain penutup kepala yang sempat lepas melayang jatuh tepat di kaki Yara.

Tak lama, puluhan kaki mulai mengerubungi tubuh lelaki yang roboh bersimbah darah.

Sirene mobil polisi mengaung dari kejauhan []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler