Move On

February 21, 2021

 Langkahku terhenti tepat di depan sebuah ruangan rawat inap VIP rumah sakit dimana aku bertugas. Aku menarik nafas dalam-dalam, seolah mencoba memberi kekuatan pada diri sendiri, mempersiapkan hati akan apa yang bakal terjadi setelah ini di balik pintu.


Bismillah....


Dengan tangan sedikit gemetar kudorong pintu itu hingga terkuak dan memperlihatkan pemandangan dua raut wajah yang beberapa puluh tahun lalu pernah melintas dalam kehidupanku.


Seorang wanita tua dan anak perempuannya. Wanita muda itu hanya tersenyum sambil mengangguk. Aku membalas anggukannya dengan senyuman. Pandanganku beralih pada sang ibu di pembaringan.


"Assalamualaikum, Bu gimana kabarnya hari ini?" sapaku pada sang ibu yang terbujur lemah di tempat tidur

Sesaaat mata tua itu mengerjap dan memandangku dengan tatapan dalam, keningnya lalu berkerenyit seolah mencoba mengingat-ingat kembali siapa sosok yang menyapanya.

Pertanyaanku tak dijawab.


Anak perempuannya membisikkan sesuatu ketelinga sang ibu. Matanya seketika terbelalak dan menatapku tak percaya.


"Irna....?!", ucapnya sambil mengulurkan kedua tangannya kepadaku dengan lemah.


Aku mengangguk, bulir-bulir bening dipelupuk mata sekuat tenaga kutahan agar tak jatuh membasahi pipi. Kedua matanya pun sama, berkaca-kaca menahan keharuan yang tiba-tiba menyeruak.


Kutangkupkan kedua tanganku membalas uluran jemarinya. Seketika aku seperti dejavu, seolah kembali pada kenangan silam yang sebenarnya tak ingin ku ingat-ingat lagi.

"Terimakasih sudah menyelamatkan ibu tadi...."


Aku memutar wajah memandang wanita muda yang masih jelas kuingat namanya, Asti, adik Bagas mantan kekasihku. 

"Tak perlu berterimakasih Ti, karena sudah menjadi tugasku sekuat tenaga menolong pasien yang tengah anfal", jawabku pelan


Ah mata tua itu masih saja memandangiku dengan tatapan yang membuatku sulit bernafas.


***

"Maafkan ibu, Ir. Bagas sudah terbang lagi ke London,pagi tadi...ia harus meneruskan kuliahnya", nada bicara ibu Bagas kali ini begitu dingin, sedingin tatapannya padaku.

Ucapannya bagai sebuah keputusan final yang tidak bisa dibantah siapapun....


Tenggorokanku tercekat, aku mencoba menelan ludah...Rasanya getir....Mataku ikut memanas, menahan gejolak perasaan yang berkecamuk di dada.


"Bagaimana ibu bisa begitu tega terhadap saya?, apalagi ibu seorang wanita dan juga memiliki anak perempuan", suaraku berubah serak. Aku sendiri tak percaya darimana keberanian itu tiba-tiba muncul hingga mengatakan itu padanya.


"Kalian masih muda, perjalanan kalian masih panjang....jangan sampai romantisme remaja menghancurkan masa depan"


"Tapi Bagas anak ibu, sudah menghancurkan masa depan saya.... Ibu kan tau keadaannya...", ucapku makin berani. Aku tak bermaksud kurang ajar, hanya berusaha membela hakku. Sebagai perempuan aku sudah ternoda, tidak bisa seenaknya dicampakkan begitu saja bagai sampah. 

"Itu salahmu yang tidak bisa menjaga kehormatan diri, hanya karena kerinduan sesaat, kalian terlena bujuk rayu setan dan berzina", jawabnya dengan wajah datar.


"Dan dalam hal ini apa Bagas menurut ibu tak bersalah...?", ucapanku terdengar makin berani

Ia membuang muka.


"Toh kamu sekarang tidak hamil kan?, jadi jangan besar-besarkan masalah. Kalian kan melakukannya suka sama suka, Bagas tidak memperkosamu, jadi ibu anggap masalah ini selesai. Bagas juga sudah menuruti keinginan kami, belajar dulu dengan baik dan kembali ke Inggris. Apa yang terjadi kemarin-kemarin biarlah menjadi rahasiamu dan keluarga kami. Toh selama ini...Kami tidak pernah melarang hubungan kalian kan?. Ibu hanya ingin yang terbaik buat kalian. Lanjutkan hidupmu, juga biarkan Bagas menyesaikan pendidikannya dulu. Tapi, jika beberapa bulan kedepan kamu hamil akibat kekhilafan kemarin, ibu berjanji akan memanggil pulang Bagas untuk menikahimu", ucapnya ketus sambil berdiri membalikkan tubuhnya dan berlalu meninggalkanku sendirian di ruang tamu rumahnya yang besar. 


Aku mengusap wajahku dengan frustasi. Penyesalan tiba-tiba menyeruak kenapa masalah ini langsung kupercayakan padanya, bukan ibuku dulu. Keluarga pengusaha muslim yang terpandang ini lebih memilih solusi menjaga reputasi ketimbang memperbaiki kesalahan yang terlanjur kami buat. Tapi sudahlah...nasi sudah menjadi bubur, lagi pula aku tak ingin membuat ibu atau ayahku yang hanya pensiunan pegawai negeri terkena serangan jantung mendengar masalah yang menimpa anaknya. 


***

Hari-hari pun berlalu, bulan berganti tahun namun sosok Bagas bagai ditelan bumi. Alhamdulillah aku tidak mengandung akibat perbuatan terkutuk itu, namun sejak saat itu hubunganku dengan Bagas terombang-ambing tanpa kepastian.


Aku tak bisa memastikan apakah ada andil ibunya dalam hal ini yang membuat komunikasi kami terputus, meski sebelumnya ia bilang tak menghalangi hubungan kami, tapi bukankan mulut bisa saja manis terucap, namun hati dan perbuatan, siapa yang tahu?...!!!


Melalui adik satu-satunya Bagas, Asti aku hanya memperoleh informasi sedikit tentang keberadaan kakaknya. Namun egoku sebagai perempuan masih tersisa, meski telah ternoda olehnya, aku tak ingin mengejar-ngejar cinta dan mengemis minta dinikahi. Untuk apa? Jika sebagai laki-laki Bagas saja tak bersikap kesatria dan memilih melarikan diri dari masalah, berlindung pada orangtuanya dengan label sebagai anak yang patuh. 


Aku memilih menyimpan rapat-rapat rahasia ini. Bahkan untuk keluargaku sendiri. Aku hanya membaginya dengan seorang wanita soleha yang kupanggil ummi, istri seorang ulama yang dikenalkan sahabatku ketika ada kajian muslimah di sebuah masjid. Wanita arif itulah yang menuntunku menuju jalan taubatan nasyuha hingga memiliki kekuatan melanjutkan hidup menimba ilmu dan terus berjuang mewujudkan impian. Dia pula lah yang paling berjasa terus menghembuskan keyakinan bahwa Allah maha pengasih lagi maha pengampun....


***

"Bagas tak bisa pulang, masih ada perjalanan bisnis di Hongkong", ucap Asti pelan sambil menunduk memainkan jari kakinya di lantai seolah mencoba mencairkan suasana. Ia sengaja mengatakan hal itu tanpa kutanya lebih dulu.

Aku merasa tak enak selintas melirik seorang perawat yang selalu mendampingiku bertugas. Aku berharap ia tidak menebak cerita yang bukan-bukan mendengar pebicaraan kami. Namun dari wajahnya yang terlihat serius seolah menunggu intruksi, kusimpulkan ia bukan pribadi yang kepo.


Sebisa mungkin aku menyembunyikan perasaan dengan pura-pura sibuk memeriksa ibu dengan memindah-mindahkan ujung stateskopku yang berada di dadanya dan perutnya. Aku mencoba tersenyum...."inshaAllah semua baik, siang ini ibu bisa pulang", kataku dengan nada diriangkan.


Mata tua itu malah menatapku dalam. Hatiku berdesir.

"Maafkan perlakuan ibu waktu itu, Ir. Ibu sudah tak adil padamu", ucapnya sambil memegang lemah lenganku. 

"Aku sudah melupakannya bu, jangan khawatir" jawabku cepat sekilas sambil menepuk punggung tangannya yang menyentuh lenganku. Lagi-lagi sebuah senyuman coba kuhadirkan diwajah meski jujur sebenarnya sulit mengingat dadaku terus bergemuruh kencang. 


Kalau boleh kuikuti naluri diri, aku lebih ingin berlari, bersembunyi, dan tak pernah kembali keruangan ini. Namun aku faham betul... saat ini yang dibutuhkan adalah sikap profesional ketimbang mendengarkan perasaaan....aku ini seorang dokter, bukan remaja labil seperti dulu.


Aku memberi isyarat bahwa aku sudah selesai dan meminta perawat itu keluar lebih dulu.

"Kudengar, kau sudah berkeluarga dan bahagia dengan keluarga kecilmu", lanjut ibu Bagas dengan suara parau.

Aku hanya menganggukan kepala. 

"Bagas tak bahagia dalam pernikahannya, itu juga yang menyebabkan istrinya tak pernah muncul disini", tambahnya sendu.


Aku menghela nafas. Mencoba tidak terpengaruh atas apapun yang mereka katakan tentang Bagas.


"Kami sudah menjalani takdir kami masing-masing bu, jangan pernah lagi menengok kebelakang", ucapku mencoba mengingatkan sambil meraih tangannya dan menggenggamnya erat.


Sejenak ruangan itu disergap kebisuan.


"Oke, Asti...nanti perawat yang akan membantu kepulangan ibu, jaga diri kalian baik-baik ya", ucapku memecah kesunyian sambil berlalu meninggalkan ruangan.

***

Aku memilih duduk sejenak diruang kerja setelah menuntaskan tugas kunjungan ke masing-masing pasien rawat inap di ruangan rumah sakit sesuai spesialisasiku.


Aku merogoh kantong disisi jas putih yang tengah kukenakan, mengeluarkan HP dan mengaktifkan layarnya. Di Wallpaper smartphoneku terlihat foto suamiku, aku dan kedua anakku yang tengah tersenyum di depan menara Pisa, Italy. Sebuah kenangan manis yang kuingat diambil ketika liburan akhir tahun lalu. Ada kehangatan yang tiba-tiba menyeruak, menggantikan gejolak perasaan yang sempat merajai hati beberapa hari terakhir. Mataku terpejam, sebelah tanganku mengetuk-ngetuk meja, mencoba mengingat-ingat kebaikan suami, kepintaran anak-anakku dan segala kebaikan rumah tangga yang kumiliki saat ini. 


Rasa syukur itu terus menyelinap pelan dan menggantikan kegundahan yang sempat menyesakkan.... 


Nikmat mana lagi yang ku dustakan duhai Irna....?! 


Masa lalu bukanlah apa-apa, Aku sekarang adalah Irna Kemalasari, seorang dokter muslimah yang sudah memiliki keluarga bahagia bersama seorang suami yang solih dan kedua putra putri yang lucu lagi pintar....


Tabarakallah wahai diri dan bersyukurlah.....!


[end]



Cerpen lama belum diedit ulang, maaf jika banyak typo


*Pic hanya pemanis, koleksi pribadi

No comments:

Powered by Blogger.