Facebook  Twitter  Instagram

Poli Si Kuda Hitam


Dongeng Anak

Di sebuah padang sabana, hiduplah Poly si kuda hitam. Ia sangat membenci terlahir dengan tubuh yang legam, bahkan hingga ke surai.


Sejak kecil ia enggan bermain dan bercengkrama dengan teman bahkan ketiga saudara kandungnya.

Sang ibu, Pipi merasa sedih sebab berkali-kali menasehatinya untuk bersyukur dan menerima pemberian Allah atas tubuh yang sehat dan kuat.

"Di mata Allah, setiap makhluk ciptaanNya itu berharga, Nak. Semuanya terlahir karena bermanfaat bagi keseimbangan bumi.  Jadi, bukan ditentukan oleh warna tubuh."

Dengan murung Poly menjawab, "Ah ... tetapi Poly merasa paling buruk rupa, Bu.  Lihatlah mereka, ada yang berwarna kecoklatan, abu-abu gelap, bahkan putih dengan surai keemasan.  Sementara aku kenapa bisa hitam legam?"

Ibunya menarik nafas berat. "Semua pemberian Allah, Nak.  Sudah takdirmu bertubuh hitam.  Belajarlah bersyukur, karena setidaknya tubuh dan kakimu sehat lagi kuat untuk berlari kencang."

Namun sayangnya, apapun nasehat ibunya tidak digubris.  Setiap hari Poly tetap saja merasa tidak puas dan murung.  Kebanyakan waktunya dihabiskan sendirian di pinggir sungai, mengawasi sahabat dan keluarganya dari kejauhan.

Pada suatu hari, saat merumput tak jauh dari sekawanannya, mata Poly menangkap tubuh seekor harimau besar berjalan mengendap-endap hendak memangsa kuda yang sedang asyik makan sambil bercengkrama.


Poly merasa sekawanan kuda itu sedang dalam bahaya. Maka ia pun meringkik keras memberi peringatan. seketika, kawanan itu bubar lari tunggang-langgang tak tentu arah.

Harimau itu tak sendirian, ternyata ada dua harimau lain yang ikut mengejar dan mengepung para kuda dari berbagai arah.

Poly pun ikut panik dan berlari kencang. Kejar-kejaran pun terjadi.

Poly dengan napas terengah tiba di hulu sungai di antara tumpukan bebatuan hitam yang menghiasi sepanjang aliran air.  Tanpa sengaja Poly menemukan sebuah gua besar di antara bongkahan batu besar.

Sejenak ia menengok ke belakang, seekor harimau dari kejauhan sepertinya tengah mengincar dirinya.

Poly merasa ketakutan.  Kemudian pelan-pelan menyelinap di balik bebatuan lalu masuk dan meringkuk di dalam lubang besar yang gelap.

Sang harimau mendekat dengan mata buas menyapu penjuru sungai.

"Siaal ... ke mana si kuda hitam tadi berlari?"
Ia menggeram kesal, merasa kehilangan buruan.
Karena tak jua menemukan sosok kuda yang tadi dikejar, tak lama harimau itupun berlalu, kembali masuk hutan dengan tangan hampa.

Setelah merasa aman, Poly akhirnya keluar dari persembunyian dan kembali ke kawanannya.


Syukurlah, tidak ada satu kudapun yang terluka.  Sekawanan kuda lain berterimakasih atas peringatan yang di berikan Poly tatkala mereka dalam bahaya.

Poly akhirnya menyadari, andaikan ia tak bertubuh legam seperti tumpukan batu besar di sungai, mungkin saja dengan mudahnya raja hutan menemukan penyamarannya.

No comments:

Post a Comment