Minggu, 28 Juli 2019

Cerita Sang Air

Aku menari pada dinding-dinding bebatuan bersama riak gelombang yang berkejaran di lautan. Tak ada sedikitpun nestapa melainkan nyanyian alam penuh warna.


Terkadang menjelma menjadi titik-titik hujan yang melayang bebas di udara, sebagian tersangkut di pucuk-pucuk pepohonan membasahi para penopang kehidupan.  Sebagian lagi merangkak dalam lorong-lorong gelap yang bermuara pada setiap tetesan keran di bangunan-bangunan kokoh peradaban.  Sekedar menjadi penawar dahaga, terserap dalam saluran kapiler makhluk yang bernyawa dan melebur dalam aliran darahnya.

Terkadang aku menyatu bersama partikel organik, anorganik maupun jasad-jasad renik di celah lapisan terdalam perut bumi. Terserap ke dalam pori-pori akar dan rerumputan   Tanpa kau sadari, akupun  bisa menyelinap jauh ke dalam jaringan intravaskuler yang tak kasat mata.

Kalau boleh memilih, aku lebih suka terserap dalam pori-pori tubuh manusia yang bersuci dari hadast lalu tunduk bersujud menghadap RabbNya atau melebur dalam milyaran unsur serupa diriku bercampur garam membentuk panorama spektakuler menghiasi dua pertiga permukaan bumi yang berkilauan.

Sayangnya, setiap waktu aku tak pernah bisa memastikan arah pengembaraan.  Sebab, sejatinya perjalanan itu  harus sesuai titah penguasa sebenarnya. Rabbku.

***

Menjelang senja di tepi pantai, awan kelabu selepas hujan masih terus membayang. Sedikit enggan dari pucuk dedaunan yang menguning aku menggerakkan ujung partikel jemari menetesi bebatuan.

"Aku akan menghubungimu lagi nanti untuk mengontrol sejauh mana progress yang kalian capai." Ucap seorang laki-laki tambun paruh baya berbaju kuning tanpa rambut menghias kepala.

Aku beringsut, menyebar diantara pasir putih di bawah lantai pondokan kayu tempat para pengunjung bersantai, tak jauh dari tempat duduk keduanya.  Kehidupan makhluk yang konon sempurna itu memang selalu menarik perhatian.

Laki-laki muda berwajah tirus berambut ikal dengan kacamata yang menghias hidung bangirnya menjawab dengan anggukan.

Sang pria plontos menyodorkan bungkusan plastik berisi setumpuk lembaran ratusan ribu.  "Ini sebagian dana yang bisa dipakai untuk keperluan persiapan. Jangan lupa memastikan sound system dan MC bekerja optimal meski mereka sudah berpengalaman sekalipun."

Pemuda di depannya hanya tersenyum dengan mata berbinar. "Beres, Bang. Jangan khawatir"

"Oya, hampir lupa tetua kampung berpesan tradisi melarung kepala kerbau yang ke laut, adalah agenda wajib ... tidak boleh ditinggalkan."

Aku mulai menabak-nebak arah pembicaraan mereka. Di sini di daerah ujung selatan kepulauan bergelar jambrut katulistiwa, hampir setiap tahun memiliki sebuah tradisi. Semacam festival tradisional yang dikemas dengan dalih melestarikan kebudayaan nenek moyang.  Budaya lokal yang jauh dari nilai-nilai islami, meski penduduknya  mayoritas mengaku muslim.

Aku melihat ada kilat-kilat kegalauan yang terpancar dari mata bening si pria muda.  "Tapi, Bang. Ini termasuk syirik namanya.  Lagipula mubazir, pemborosan yang sia-sia jika kita membayar sejumlah uang hanya untuk sebuah kepala kerbau dan menghanyutkannya ke lautan."

"Ah! Tak ada urusan dengan kita soalan itu, yang penting ada dana, lakukan saja sesuai pesanan. Tugas kita hanya EO, just do what they want, and take away the money home ...."

Pemilik kulit bersih itu menunduk dalam.  Nuraninya sempat terusik, seperti ada yang menyentak-nyentak.  Kutebak, itu suara kebenaran. Tapi sayang, panggilan itu terdengar begitu jauh dan tersamar.  Apalagi bayangan istri tercintanya di rumah yang tengah hamil besar sangat membutuhkan persiapan biaya persalinan.

Sungguh dilema.

Ia membuang nafas berat sambil melirik setumpuk tebal lembaran merah di meja.  'Yes, it none of our responsibility....' gumamnya perlahan.

Aku berpaling kesal, 'Cih! sepertinya mereka tengah merencanakan tradisi bodoh itu lagi.' Padahal kudengar manusia itu makluk ciptaan yang paling sempurna, karena tercipta memiliki akal dan hati.  Tapi kenyataannya? terkadang apa yang mereka kerjakan tak sesuai dengan fitrah penciptaan.

Kukibaskan tubuhku kembali mengikuti tarian riak yang membekas di pasir  memilih melebur ke dalam lautan lepas.

***

Siang itu, aku terdampar lagi di bangunan kecil berkubah di sudut pantai.  Aku mengintip keramaian dari setiap tetesan yang jatuh di deretan keran yang terpasang.  Suasana semarak dipenuhi manusia berbagai rupa.  Ada yang serempak meliukkan tubuh diiringi musik yang menghentak.  Apa kata lelaki yang disebut sebagai penanggung jawab acara itu? Ini saatnya Gladi resik? Entahlah aku sendiri tak faham. Di sudut yang berbeda  satu dua orang berlalu-lalang dengan langkah lebar sambil memegang benda tipis di telinga.  Mereka  berbicara  keras seolah berkejaran dalam kebisingan yang menggema.  Sebagian lagi,  sibuk menghias sudut-sudut panggung yang nantinya akan digunakan untuk pementasan.

Aku meradang, entahlah...hampir setiap tahun mereka mengulang kebodohan yang sama.  Bahkan lebih gilanya, beberapa tahun kebelakang pesta itu semakin meriah, dilengkapi panggung gemerlap, makanan tumpah ruah, serta hiburan beraneka warna.  Yang haq dan bathil bercampur aduk dalam balutan warisan budaya.  Sementara aku hanya bisa menyaksikan semuanya dalam diam.

Oh, andai bisa kusampaikan kepada mereka, bahwa kesia-siaan itu justru bisa mengundang petaka.  Jika saja mereka tahu ketika Tuanku mulai marah, bukan cuma aku, tapi tanah, angin bahkan semesta pun mulai menggigil gelisah.  Kami ini sejatinya tentaraNya yang tak pernah bisa mengelak titah. Namun, bagaimana caranya bercerita? Sebab, aku tak pandai berkata-kata.

Muatan partikelku meringan, ketika diantara manusia mulai mengalirkan tubuhku dibeberapa bagian dirinya untuk bersuci lalu melengkungkan tubuhnya di sela-sela dari lima waktu yang memanggil.  Diam-diam aku bergetar menyusup dalam pori-pori tubuh penuh ketenangan, semoga setiap sujud menghunjam seperti pasak yang menolak datangnya bencana.

***

Pagi itu aku menyapa mentari yang bersinar redup. Aku dilingkupi gamang sebab muramnya membuat tubuhku tak kemilau dari tatap mata kejauhan.  Dan aku semakin menggigil,  ketika angin berbisik lirih, agar hari ini aku menyiapkan segalanya.  Tak bisakah kami bersekutu, memilih menikmati hiburan seperti biasa dan melupakan ketaatan tak berbatas?

Selintas ku melihat pria tambun itu lagi, hari ini ia berpakaian sangat rapi dan berkelas. Lengkap dengan jas abu senada meski tanpa dasi yang menghias,  Lelaki tua itu tengah berdiri diantara tetamu yang juga  berpakaian rapi seperti bangsawan terhormat. Matanya bersinar-sinar penuh semangat.  Tentu saja, baginya setelah acara ini selesai, maka usahanya akan semakin diperhitungkan sebagai penyelenggara event bergengsi di tanah air.

Namun ironisnya adakah hari esok untuknya?

Kulirik pemuda tampan berhidung mancung yang baru saja usai melakukan sholat dhuha pembuka hari.  Pria itu memberikan isyarat pada si tambun dari kejauhan.  Mereka saling bertukar tatap penuh kepercayaan diri.  Aku meluap-luap penuh penyesalan. Andai dipahaminya, meski hati kecil itu menolak tradisi, keberadaannya hari ini sudah cukup mewakili dimana sesungguhnya ia berdiri.

***

Tepat pukul 10.00 pagi, selesai bupati membuka acara, sejumlah panitia bergerak menyiapkan kapal aneka warna.   Salah satunya memuat kepala kerbau yang akan mereka persembahkan untukku.  Untukku?  Benar-benar memuakkan.  Andai mereka mencari tahu, dari mana keyakinan itu timbul? Padahal dari baunya saja aku sudah mual.

Para peserta berkerumun, menanti dengan khidmat sambil menundukkan kepala seraya memanjatkan doa.  Agar tuan sang penguasa yang diyakini menetap di dalam diriku berkenan memberikan kedamaian, ketenangan, serta mengganti persembahan hari ini dengan rejeki hasil tangkapan yang berlimpah ditahun mendatang.

Menggelikan bukan? Bagaimana mungkin seorang pencipta berada dalam tubuh kreasinya secara harfiah?

Belum sempat perahu itu melarung sesaji, titah bergerak telah jatuh. Diawali tanah yang berguncang hebat, aku pun bertransformasi seperti monster yang siap menyapu habis segalanya.  Dibantu angin aku bersenyawa mengeluarkan gemuruh dan gelombang yang berkejaran.

Mereka pun mulai berteriak histeris melihat wujudku yang berbeda.  Sebagian berlarian, sambil berlinang air mata, tak habis pikir apa yang menyebabkan diriku murka? Padahal sejatinya aku pun ikut menangis.  Apa daya aku tak bisa berteriak, bukan diriku yang tengah marah! tapi Tuanku yang sesungguhnya.

Dalam ketidakberdayaan aku terus bergerak menyapu apapun yang kulintasi. Tak perduli beriman ataupun fasik, tua maupun muda, miskin ataupun kaya, wanita atau pria.

Tak mampu jua ku memilih-pilih harta benda milik siapa yang kulumat.  Semua melebur kedalamku tanpa bisa kutahan.

Aku meringis pilu, saat menggulung tubuh kecil tak berdosa hingga tangan mungilnya menggapai-gapai mencari udara dalam balutan arus yang tak kunjung melemah. Maafkan aku, Nak! sebab ketaatanku tak berbatas.

Hatiku kian teriris ketika satu dua mukminat berjuang dalam pekik tauhid, berlarian menyelamatkan diri penuh kecemasan berpisah dengan orang-orang yang mereka cintai.

Aku pun terpuruk dalam duka, saat sebagian manusia meratapi kehilangan dunianya. Mereka mencemasi dimana akan melepas lelah malam nanti? menanti kabar keluarganya yang hilang, atau mengkhawatirkan sesuap nasi di esok hari.

Ah ...  Andai aku pun mampu menjerit dalam tangisan yang tak kasat mata.  Yang kubisa  hanya terus berbisik, 'teruslah bergerak dan bergerak ... sesuai titahNya'.

***

Tubuhku perlahan menggeliat, kudapati lagi-lagi diriku menjelma dalam wajah kebiruan yang memantulkan cahaya berkilauan.  Namun kali ini raut muram masih menghiasi sebagian kehidupan. Kerusakan yang kubuat cukup menyisakan nestapa.

Duka dimana-mana, seiring jejak kembara yang kulakoni sebelumnya.

Tubuhku masih bergetar tiap kali mengingatnya.

Tapi, kenapa lagi-lagi aku yang disalahkan?

Angin bercerita, sebagian manusia memaki dan menyebutku laut yang pemarah, sebab tak menerima persembahan.  Mereka bilang aku wujud yang tak tahu terima kasih.

Sungguh, dimana letak otak mereka?

Kenapa mereka justru menyalahkan? Tetapi  lupa menangisi keimanan yang telah lama tersapu gelombang kehidupan? []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sihir si Anak Lebah berlanjut di Lovely Glacie

Sedetikpun rasanya enggan meletakkan novel Lovely Glacie yang baru diterima magrib 13 Nopember lalu.  Banyak hal yang membuat sayang berh...

Terpopuler